Menag Minta Kurikulum dan Silabus Kampus Harus Memuat Nilai Toleransi

13 Agustus 2022, 19:02:40 WIB

JawaPos.com – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menekankan pentingnya moderasi beragama di perguruan tinggi. Sehingga bisa terwujud tradisi kampus yang egaliter, toleran, dan harmoni. Selain itu dia juga meminta kurikulum dan silabus di perguruan tinggi harus memuat nilai toleransi.

Pesan tersebut disampaikan Yaqut saat membuka Program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa baru (PKMB) Universitas Indonesia pada Sabtu (13/8). Lebih lanjut Yaqut menjelaskan bangsa Indonesia tidak akan ada, tanpa adanya praktek beragama yang moderat dari para founding father Indonesia.

’’Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi kunci terciptanya kerukunan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, maupun di tingkat global,’’ kata dia. Untuk di lingkungan kampus, Yaqut mengatakan praktik beragama secara moderat harus dimulai sejak dalam pikiran. Baginya, seluruh pengelola atau pimpinan kampus harus ikut berwawasan moderat.

Begitu Pula dengan para dosen dan seluruh tenaga kependidikan. ’’Selain itu kurikulum dan silabus pendidikan harus memuat nilai-nilai toleransi dan keadilan gender,’’ jelas Yaqut. Dengan adanya penanaman nilai-nilai toleransi tersebut, dapat menghambat tumbuhnya paham ekstrem yang cenderung mendiskriminasikan kelompok tertentu.

Sementara itu pesan moderasi beragama dan menjaga toleransi di perguruan tinggi juga ditekankan oleh Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi. Menurut dia keharmonisan kehidupan beragama, termasuk di perguruan tinggi, harus terus dijaga.

’’Merawat keharmonisan atas berbagai perbedaan, terlebih di bidang agama dan kepercayaan, merupakan tantangan yang demikian kuat bagi kita semua,’’ kata Zainut dalam penutupan Pekan Seni dan Olahraga (Pesona) ke-1 Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dia menyambut baik gelaran Pesona itu, karena mempertandingkan mahasiswa dari kampus-kampus berbagai agama. Mulai dari kampus Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan lainnya. Zainut mengatakan menjalin keharmonisan atas berbagai keragaman, merupakan modal utama dalam mempertahankan identitas dan kelangsungan keindonesiaan. ’’Jika kita tidak mampu merawat dan menjaga keharmonisan itu, Indonesia di masa depan tinggal hanya sebuah nama,’’ pungkas politisi PPP itu.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Hilmi Setiawan

Saksikan video menarik berikut ini: