alexametrics

Muhadjir: Istilah New Normal Tak Tepat, Tapi Tak Perlu Dipermasalahkan

13 Juli 2020, 17:39:27 WIB

JawaPos.com – Pemerintah sebelumnya menggunakan diksi new normal sebagai ungkapan kehidupan baru di masa pandemi Covid-19. Di mana saat ini telah diubah menjadi adaptasi dengan keadaan baru.

Kemudian, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy pun mengatakan bahwa hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan oleh masyarakat.

“Soal new normal, setahu saya sudah dipertegas, sekarang tidak gunakan New Normal. Kita sekarang nggak perlu ribut dengan istilah lah,” ujar dia melalui telekonferensi pers, Senin (13/7). Menurut dia, kata New Normal tidak tepat.

Sebab, istilah new normal sendiri diambil dari buku The New Normal: Great Opportunities in a Time of Great Risk karangan Roger McNamee, dan tidak ada hubungannya dengan Covid-19.

Adapun, yang dibahas adalah transisi rehabilitasi sosial ekonomi dan rekonstruksi sosial ekonomi terkait dengan krisis moneter 1998. Bukan beradaptasi untuk menjalani kehidupan baru di masa pandemi.

“Karena itu kita harus hati-hati gunakan diksi itu, tapi ya nggak dilarang, namanya juga istilah,” ujarnya.

Jika mengacu kepada Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Kata Muhadjir, UU ini tidak kompatibel dengan bencana non-alam. Maka dari itu, Komisi VIII DPR RI akan segera merevisi UU tersebut.

“Akan disesuaikan, nanti ada istilah khusus dengan UU yang baku. Jadi istilah new normal, lockdown itu memang nggak sesuai UU. Sehingga kita kalo gunakan harus hati-hati. Termasuk adaptasi keadaan baru juga tidak ada dalam UU,” tutur dia. (*)

Editor : Dinarsa Kurniawan

Reporter : Saifan Zaking



Close Ads