alexametrics

Ketika Penulis Muda Belajar Juru Damai kepada JK

12 Oktober 2019, 07:00:47 WIB

JawaPos.com – Jusuf Kalla (JK) setelah tidak lagi menjadi wakil presiden diminta sebagai juru damai oleh Presiden Jokowi. Kepiawaiannya dalam melakukan peran itu sudah dikenal sejak beberapa tahun silam.

“Menjadi juru damai itu diawali dengan kita memiliki pikiran dan hati yang positif. Dengan demikian, kita akan tulus melihat perbedaan. Pada akhirnya pihak-pihak yang akan dan telah berkonflik akan melihat ketulusan kita dalam mendorong perdamaian di Indonesia,” ungkap JK saat berjumpa dengan 34 penulis muda yang tergabung dalam Jenggala Center di Jakarta, Jumat (11/10).

Lebih jauh JK berpesan bahwa selain ketulusan, anak muda Indonesia yang ingin berkontribusi pada perdamaian perlu memperkaya pengetahuan. Khususnya pengetahuan tentang sejarah dan aktor-aktor dalam konflik itu sendiri.

Dengan berpengetahuan luas dan punya ketulusan, maka juru damai tidak gampang dikalahkan dalam proses mendamaikan sebuah perbedaan. Selain itu, harus memiliki keberanian.

“Di tempat mana pun yang saya kunjungi (untuk mendamaikan konflik), saya putuskan untuk tidak membawa pengawal (khususnya dari militer atau polisi). Karena kalau saya dikawal, berarti orang melihat saya ini penakut,” kisah orang nomor 2 di Indonesia tersebut.

Ketua Jenggala Center Ibnu Munzir mengatakan, para penulis yang mengikuti diskusi dengan JK merupakan penulis 25 esai terbaik dari Sayembara Penulisan Esai bertemakan Perdamaian ala JK yang diselenggarakan Jenggala Center tahun lalu.

Dari ratusan esai yang masuk, terjaring 25 esai terbaik yang ditulis oleh 34 penulis muda di Indonesia. Memang beberapa tulisan digarap oleh tim yang anggotanya ada dua hingga tiga orang.

“Ketulusan beliau (JK, red) dalam melihat bahwa pedamaian adalah kunci kesuksesan dan perlu diapresiasi. Ketulusan, keluasan wawasan, dan keberanian beliau menjadi kunci beliau sukses dalam menjadi juru damai,” tegas Ibnu.

Dalam kegiatan tersebut, JK mendapatkan penghargaan dari Indonesia Youth Forum (IYF) yang juga ikut hadir dalam pertemuan tersebut. IYF merupakan organisasi pemuda Indonesia yang fokus mempromosikan nilai-nilai toleransi dan kepemimpinan di kalangan pemuda Indonesia.

Founder sekaligus ketua Pembina IYF Muhammd Abdul Idris mengungkapkan bahwa Indonesia yang multikultur akan terus memerlukan pengikat untuk menjaga persatuan dan perdamaian bangsa.

“Pengikat itu adalah kepemimpinan yang kuat dan kemampuan para pemimpin untuk menguatkan toleransi antar kelompok dan agama di Indonesia. Bapak Jusuf Kalla memiliki kedua elemen penting tersebut. Peran besar beliau dalam perdamaian konflik-konflik di Indonesia perlu menjadi inspirasi bagi pemuda Indonesia untuk kelak menjadi pemimpin bangsa ini yang bekerja keras untuk menjaga perdamaian Indonesia.”

Editor : Ilham Safutra



Close Ads