alexametrics

Mengenang Si Mr Crack BJ Habibie dan Warisan Kedirgantaraannya

12 September 2019, 08:01:17 WIB

JawaPos.com – Indonesia berduka. Mantan Presiden Republik Indonesia (RI) ketiga Bacharuddin Jusuf Habibie wafat pada Rabu (11/9) sekira pukul 18.05 WIB. Almarhum wafat pada usia 83 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

Kepergian BJ Habibie tentu meninggalkan kabut sedih yang mendalam bagi siapa pun yang mengenal sosoknya. Selain sebagai mantan presiden, suami almarhumah Hasri Ainun Habibie itu juga merupakan mantan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) pada 1978 hingga 1998 silam.

BJ Habibie dikenal sebagai sosok yang riang, santun, penyayang, dan cerdas tentunya. Kisahnya juga pernah diangkat ke layar lebar melalui film berjudul Habibie dan Ainun pada 2012 lalu dan film berjudul Rudy Habibie pada 2016 lalu.

Soal karya, BJ Habibie merupakan sosok yang cemerlang. Tajinya di kancah keilmuan utamanya di bidang kedirgantaraan pun tak boleh dianggap remeh. Dunia bahkan mengakui kegemilangan otak almarhum karena terobosan dan ilmunya yang mumpuni di bidang aeronautika, aerospace, dan industri pesawat terbang.

BJ Habibie di kancah global, dengan pergaulannya yang luas di kalangan ilmuwan berotak encer dijuluki sebagai Mr Crack. Tak sembarang julukan, Mr Crack punya makna besar dalam warisan dan jejak kedirgantaraan Habibie di mata dunia. Benar-benar anak emasnya Indonesia.

Saking cemerlangnya, nama mendiang BJ Habibie lengkap dengan gelarnya menjadi cukup sulit untuk diucapkan. Habibie pernah menuntut ilmu di Sekolah Menengah Atas Kristen Dago. Habibie muda kemudian belajar tentang keilmuan teknik mesin di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung sekarang Institut Teknologi Bandung pada 1954 silam.

Pada 1955–1965, Habibie melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di Rheinisc Westfälische Technische Hochschule (RWTH) Aachen, Jerman Barat. Di sana, ayah dari Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie itu menerima gelar Diplom Ingenieur pada 1960 dan gelar Doktor Ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude atau sangat memuaskan.

Miniatur pesawat R80 impian almarhum BJ Habibie. (Dok.JawaPos.com)

Kembali ke asal muasal julukan Mr Crack yang diberikan kepada BJ Habibie, hal tersebut merupakan buah atas karyanya yang sangat bermanfaat di industri pesawat hingga kini. Boleh dibilang, Habibie telah menyelamatkan banyak nyawa di bidang kedirgantaraan dan keselamatan manufaktur pesawat melalui karyanya.

Mr Crack merupakan julukan yang diberikan para ilmuwan dunia di bidang kedirgantaraan lantaran mendiang Habibie berhasil menemukan dan menghitung crack propagation on random. Aspek tersebut adalah penyebab keretakan di badan, terutama sayap pesawat yang menyebabkan pesawat-pesawat dapat jatuh dan menimbulkan korban jiwa.

Temuan Habibie berawal dari jatuhnya pesawat Fokker 28 dan pesawat tempur Jerman, Starfighter F-104 G. Jatuhnya pesawat tersebut membuat dunia heboh lantaran tak ada yang tahu penyebab pastinya.

Departemen Pertahanan Jerman kala itu menantang para ahli menemukan penyebab jatuhnya pesawat tersebut. BJ Habibie, dengan bekal keilmuannya yang saat itu bekerja di perusahaan penerbangan Hamburger Flugzeugbau (HFB), Jerman, berhasil menemukan penyebabnya.

Crack propagation om random juga menjadi asal muasal lahirnya Teori Habibie, Faktor Habibie, dan Prediksi Habibie yang termasyhur. Rumusan Habibie tersebut dapat ditemui di arsip Kelompok Penasihat untuk Penelitian dan Pengembangan Aerospace atau Advisory Group for Aerospace Research and Development (AGARD).

Temuan Habibie bahkan menjadi pegangan atau dasar tentang prinsip-prinsip ilmu desain pesawat terbang standar oleh NATO. Dunia penerbangan modern saat ini bahkan masih menikmati buah dari kecerdasan mendiang Habibie sebagai standar keamanan produk pesawat terbang.

Atas karyanya, sejumlah penghargaan dunia berhasil diboyong pria kelahiran Pare-Pare Sulawesi Selatan itu. Habibie tercatat sebagai Anggota Kehormatan Persatuan Insinyur Malaysia (IEM), Anggota Kehormatan Japanese Academy of Engineering, Anggota Kehormatan The Fellowship of engineering of United Kingdom, London, Anggota Kehormatan The National Academy of Engineering Amerika Serikat.

Kemudian Anggota Kehormatan Academie Nationale de l’Air et de l’Espace, Perancis; Anggota Kehormatan The Royal Aeronautical Society, Inggris; Anggota Kehormatan The Royal Swedish Academy of engineering Science, Swedia; Anggota Kehormatan Gesselschaft Fuer Luft und Raumfarht (Lembaga Penerbangan dan Ruang Angkasa) Jerman; dan masih banyak lagi.

Concern Pesawat Nasional

Tingginya ilmu pengetahuan soal pesawat terbang oleh Habibie dan pengalamannya di kancah dunia tak lantas membuat Habibie lupa asal-usulnya. Dirinya tetap kembali ke tanah air dan memiliki mimpi besar untuk mewujudkan produksi pesawat nasional.

Kala itu, Presiden Soeharto pada 1973 memanggil pulang Habibie. Tiga tahun kemudian, Habibie menggawangi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). IPTN yang kini menjadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI) pernah memproduksi pesawat CN-235 dan N-250. Pada 1997, IPTN melahirkan pesawat berbadan lebar N-2130, namun dihentikan karena krisis ekonomi dan tekanan dana moneter internasional (IMF).

Nasib IPTN kala itu atau tepatnya pada Mei 1998, berubah. Karena krisis, proyek-proyek IPTN dihentikan. Belasan ribu pegawai IPTN yang disekolahkan Habibie ke luar negeri juga dipecat. IPTN yang dibangun Habibie kandas.

Pesawat rakitan BJ Habibie yang dikembangkan di IPTN saat masih menjabat sebagai Menristek. (LAPAN)

Mimpi besar Habibie sayangnya belum terwujud sampai akhir hayatnya. Semasa hidupnya, Habibie berkeinginan agar pesawat rancangannya N250 bisa berterbangan di langit Indonesia.

Proyek pesawat N250 dikepalai langsung oleh Habibie saat masih menjabat sebagai Menristek. Diketahui, Habibie membutuhkan waktu selama lima tahun untuk mendesain awal pesawat N250.

Pesawat N250 kemudian diproduksi oleh IPTN sebelum akhirnya dilanda krisis. Pesawat N250 merupakan pesawat baling-baling yang ditujukan untuk rute penerbangan perintis yang memiliki kapasitas 50-70 penumpang.

Acara penerbangan perdana Peswat N250 pernah dilaksanakan pada 10 Agustus 1995 silam di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. Habibie kala itu mengatakan bahwa Pesawat N250 merupakan pesawat yang sudah memiliki teknologi yang sangat canggih saat itu dan sudah dipersiapkan untuk penggunaan hingga 30 tahun ke depan.

Kini, ambisi pesawat terbang nasional yang menjadi impian Habibie hingga akhir hayatnya diteruskan oleh putranya Ilham Akbar Habibie. Ilham bersama PT Regio Aviasi Industri (RAI) bertekad untuk bisa menerbangkan pesawat terbang nasional R80 pada 2022 mendatang. Pesawat R80 juga merupakan sumbangsih dari kecerdasan berpikir BJ Habibie.

Pesawat R80 masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) sesuai dengan terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 58 Tahun 2017 tentang Proyek Strategis Nasional. Pada 2018 lalu, PT RAI ditargetkan dapat membuat 6 pesawat untuk diuji kelayakannya. Apabila terealisasi tepat waktu, maka pada 2025 mendatang, RAI sudah bisa masuk pasar dan memproduksi pesawat nasional.

Saat ini, proyek pesawat R80 masih menunggu pendanaan dari investor maupun swadaya masyarakat melalui platform penggalangan dana online. Mendiang Habibie merancang sendiri R80 untuk penerbangan jarak pendek hingga menengah.

Pesawat R80 mampu mengangkut 80-90 penumpang dengan dimensi panjang 32,3 meter dengan lebar sayap 30,5 meter dan tinggi 8,5 meter. Pesawat ini juga dapat melesat dengan kecepatan maksimal 330 knots atau sekitar 611 Km per jam.

Editor : Fadhil Al Birra

Reporter : Rian Alfianto

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads