alexametrics

Di Calon Museum Itu, Habibie Selalu Menangis

12 September 2019, 12:43:42 WIB

JawaPos.com – Di kota kelahirannya itu, B.J. Habibie abadi di berbagai sudut. Dalam berbagai bentuk: auditorium, monumen, balai, dan segera menyusul rumah sakit serta museum.

Presiden ketiga Indonesia tersebut memang jadi inspirasi untuk membangun Parepare, kota yang berjarak sekitar 153 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan. Perhatian Habibie pada kota tempat dia dilahirkan 83 tahun silam itu juga begitu besar.

”Saya sering sekali kontak dengan beliau melalui WhatsApp, terakhir pada 28 Agustus lalu,” kata Taufan Pawe, wali kota Parepare, kepada Fajar.

Selama wali kota yang akrab disapa TP itu menjabat sejak 31 Oktober 2018, Habibie juga sudah empat kali berkunjung ke Parepare. ”Banyak mimpi beliau yang disampaikan saat berkunjung ke sini. Saya juga sudah berjanji kepada beliau untuk memajukan kota ini,” katanya.

Kediaman masa kecil Habibie juga masih ada di Parepare. Rumah yang berlokasi di Jalan Alwi Abdul Djalil Habibie (diabadikan dari nama ayah Habibie) itu kini menjadi milik Kementerian BUMN. Dan, saat ini menjadi rumah dinas kepala BNI Cabang Parepare.

Di rumah itulah rencananya dibangun Museum dan Taman Habibie. Kemarin, beberapa jam sebelum kabar wafatnya Habibie beredar, TP berkunjung ke sana.

”Saya pernah sampaikan ke beliau (Habibie) untuk membuat museum dan beliau menantang saya untuk mewujudkan tetapi mesti di rumah kelahirannya,” paparnya.

Menurut TP, setiap kali ke Parepare, Habibie selalu menyempatkan berkunjung ke rumah masa kecilnya tersebut. Dia mengakui, pembangunan museum memang agak terhambat karena masalah aset. Namun, pihaknya sudah beberapa kali bertemu pihak BNI di Jakarta. ”Sudah mengiyakan. Juga sempat terhambat anggaran, tapi insya Allah 2020 dimulai pembangunan museum,” kata TP.

TP menjanjikan museum tersebut menjadi museum kelas dunia yang memajang karya terbaik Habibie di dunia kedirgantaraan. ”Nanti juga ada Taman Habibie untuk mengedukasi anak-anak. Akan ada replika pesawat,” jelasnya.

Kepala BNI Cabang Parepare Andi Nur Alam menambahkan, sudah ada kesepakatan terkait rencana menyulap rumah dinas jadi Museum Habibie. BNI sudah memberikan sinyal. Saat ini prosesnya telah dikonsinyasi.

”Memang begitu prosesnya karena aset negara. Kami juga sementara mencari lokasi pengganti rumah dinas,” tuturnya.

Bentuk rumah masih terjaga, tidak ada perubahan atau renovasi total. Termasuk model jendela rumah yang masih gaya lama. Hanya, memang isinya sudah berubah, apalagi perabotnya.

Di halaman rumah yang berdiri di atas lahan 1.000 meter persegi itu berdiri pohon mangga, jambu, dan nangka. Andi mengakui, ada yang mengeklaim bahwa lokasi rumah masa kecil Habibie sebenarnya ada di tempat lain.

”Tapi, beberapa pemuka masyarakat Parepare menceritakan, Pak Habibie selalu menangis bila ke rumah ini. Jadi, itu tandanya (kalau di sinilah rumah masa kecil beliau),” katanya.

Saat ini di Parepare sudah berdiri Auditorium B.J. Habibie di rumah dinas wali kota. Juga, ada Monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun di alun-alun kota. Ada pula Gedung Balai Ainun Habibie di pusat kota. Yang masih dalam proses –selain Rumah Sakit Hasri Ainun Habibie dan Museum B.J. Habibie– adalah Institut Teknologi Habibie.

Karena itu, kepergian Habibie kemarin mendatangkan kedukaan mendalam bagi Parepare dan warganya. TP berencana terbang ke Jakarta pagi ini untuk turut bertakziah. Dia juga meminta warga mengibarkan bendera setengah tiang.

”Atas nama Pemerintah Kota Parepare dan masyarakat, kami sangat kehilangan orang tua dan bapak bangsa. Semoga beliau mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT,” katanya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : fik/c10/ttg

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads