JawaPos Radar | Iklan Jitu

Memori Kelam G30S/PKI 53 Tahun Lalu, Alpiah Kenang Ade Irma Nasution

11 Oktober 2018, 10:46:08 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Alpiah Makasebape
Alpiah Makasebape, perempuan 81 tahun asal Sangihe, merupakan mantan pengasuh Ade Irma Suryani Nasution. (Sriwani Adolong/Manado Post)
Share this

JawaPos.com - Peristiwa Gerakan 30 September yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) 53 tiga tahun lalu, masih kuat tertanam di ingatannya. Ia adalah Alpiah Makasebape, perempuan 81 tahun asal Sangihe, merupakan mantan pengasuh Ade Irma Suryani Nasution.

Sampai sekarang Alpiah masih belum percaya karena dipilih menjadi pengasuh dari putri bungsu Jenderal Abdul Haris Nasution, yang menjadi salah satu korban tewas dalam peristiwa berdarah G30S/PKI itu.

Perempuan yang biasa disapa Oma Tintang ini mengisahkan, dirinya sejak usia muda sudah meninggalkan kampung halaman untuk meringankan beban orang tua. Mulai dari yang terdekat, Kota Tahuna, lanjut ke Manado, Makassar, dan Jakarta.

Oma Tintang kemudian bergabung dengan Yayasan Tilaar yang menampung serta menyalurkan tenaga-tenaga perawat handal. Maklum, sebelum merantau, dia sempat bekerja di Rumah Sakit Umum Liun Kendage, Tahuna, Sulawesi utara, selama beberapa tahun. Takdir pun mempertemukan Oma dengan keluarga jenderal Nasution.

Dari sekian banyaknya perawat rumahan, perempuan asal Sangihe yang kala itu tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia inilah yang akhirnya dipercayai menjadi seorang pengasuh Ade Irma.

Saat itu, sekira Maret 1960, kira-kira dua minggu setelah Ade Irma lahir (19 Februari 1960), Johana Sunarti Nasution mencari calon pengasuh buat putri keduanya di Yayasan Tilaar. Terpilihlah Oma Tintang yang saat ini masih sangat muda.

Keraguan sempat muncul karena dia tidak percaya diri. Tapi, kebaikan hati Johana, serta jiwa mengayomi dari Jenderal Nasution saat dia mulai bertugas, membuat kepercayaan dirinya muncul. Dia pun menjadi sangat akrab dengan orang-orang yang tinggal di Jalan Teuku Umar No 40, Menteng, Jakarta Pusat, yang sempat menjadi rumah kediaman Keluarga Nasution, termasuk puteri pertama mereka, Hendrianti Sahara (Yanti) dan Lettu Czi Pierre Andries Tendean, ajudan Nasution.

“Saya merasa bangga karena bisa menjaga anak perempuan yang sudah saya dianggap sebagai putri sendiri," ujar perempuan kelahiran Tamako, 25 Desember 1936 ini.

Waktu pun berjalan, Om Tintang yang sangat cinta dengan budaya Sangihe, mulai menyisipkan budaya Sangihe dalam pola asuhnya ke Ade Irma dan Yanti. Termasuk dalam soal panggilang kepada saudara atatu kerabat yang lebih tua dan muda.

"Nama Ade itu sebetulnya tidak ada. Karean sebenarnya hanya Irma Suryani Nasution. Namun karena di Sangihe budaya menghargai sangat besar, jadi saya mengajarkan keduanya untuk saling panggil kaka dan ade. Tak disangka nama tersebut melekat hingga Ade menutup matanya," kenang istri Bernal Mudingkase ini.

Saat peristiwa naas itu, Alpiah berumur 25 tahun. Dia menceritakan, tiga minggu sebelum Ade Irma meninggal ia sudah mendapati ada firasat buruk kepada putri bungsu sang jenderal. Kadang suka menangis tanpa sebab dan juga tidak suka makan.

Namun takdir berkata lain, peristiwa tragis itu akhirnya merenggut nyawa Ade Irma. Saat itu ia langsung membawanya ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan menuju RS, Alpiah mengaku turun dari mobil untuk melaporkan kejadian naas itu.

“Saya kemudian pergi ke markas marinir untuk melaporkan kejadian yang terjadi di rumah Pak Nasution," tuturnya sambil meneteskan air mata saat mengingat tentang Ade Irma.

Untuk mengenang saat-saat itu, dia mengoleksi foto keluarga Nasution dan Ade Irma. “Saya kembali ke sini (Sangihe, red) tahun 1969. Namun komunikasi dengan Pak Nasution, Ibu Johana dan Yanti masih terjalin,” tukas Oma sebagaiman dilansir dari Manado Post (JawaPos Grup).

Oma Tintang juga menuturkan Ade Irma yang saat itu baru berusia 5 tahun. Ia meninggal akibat tertembak peluru pasukan tjakrabirawa yang merangsek masuk ke dalam rumah untuk menangkap sang ayah.

Dalam peristiwa yang terjadi pada 1 Oktober 1965 sekitar pukul 03.45 tersebut, ajudan AH Nasution, Lettu Pierre Tendean juga ikut menjadi korban. Ia diculik lalu dibunuh di Lubang Buaya.

(jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up