alexametrics

Gelar Pahlawan Kasman, Momen Menghapus Dendam Masa Lalu

10 November 2018, 09:05:25 WIB

JawaPos.com – Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada sosok Kasman Singodimedjo dinilai memiliki momentum yang tepat. Anugerah kepahlawanan dideskripsikan sebagai langkah rekonsiliasi antara golongan nasionalis dan Islam religius yang selama ini disebut tak pernah satu pandangan.

“Pengangkatan Kasman, itu sebagai momen berdamai dengan masa lalu. Antara partai nasionalis dan partai Islam,” kata Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Wasino, saat dijumpai di kediamannya, Semarang, Kamis (8/11) malam.

Wasino menerangkan pernyataannya itu dengan menilik sejarah beberapa tahun setelah masa kemerdekaan, tepatnya tahun 1963. Saat Kasman yang saat itu menjadi kaum oposisi Soekarno, dipenjara akibat tuduhan berpartisipasi dalam perkumpulan yang bermaksud melancarkan tindak kejahatan dan dilarang undang-undang. Serta dituduh berniat membunuh presiden juga menyelewengkan Pancasila.

Pahlawan Nasional
Ahli waris memegang tanda jasa yang diserahkan oleh Presiden Joko Widodo saat penganugerahan gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11). (Raka Denny/ Jawa Pos)

Rentetan peristiwa itu diawali pada tahun 1950an, sepeninggal kaum penajajah dari Tanah Air. Kala terjadi friksi ideologis antara empat partai besar berkuasa. Antara lain Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan Soekarno sebagai pentolannya. Kemudian Partai Komunis Indonesia (PKI) dan dua partai berbasis Islam. Yaitu Nahdlatul Ulama (NU) serta Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Dimana ada Kasman di situ yang menjabat sebagai Dewan Konstituante.

“Pada masa itu, ada semangat untuk menghidupkan kembali syariat Islam, yang sebelumnya tercantum dalam Piagam Jakarta dan diganti menjadi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa‘. Dan Masyumi lah di sini yang paling getol,” sambung Wasino.

PNI yang saat itu dengan pandangan nasionalisnya tentu tidak bisa tinggal diam. Sehingga digandenglah NU dan PKI untuk mematahkan niatan Masyumi. “Sekitar tahun 1960an, Masyumi dianggap terlalu memusuhi Soekarno,” lanjutnya.

Masyumi yang menaungi Kasman akhirnya dilarang beroperasi oleh Soekarno. Karena di samping semua itu, ada juga dugaan partai berlambang bintang dan bulan sabit tersebut mendukung pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Usai masa hukuman dan banding selama 2 tahun 6 bulan, Kasman bebas. Selama sisa hidupnya, Kasman aktif dalam organisasi Muhammadiyah. Sebelum pria yang tercatat pernah menjadi Anggota PPKI, Komandan PETA, Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), dan Jaksa Agung ini akhirnya wafat pada 25 Oktober 1982.

“Penghargaan diberikan untuk tetap menghormati yang dari Partai Masyumi yang dulu dianggap sebagai musuh Partai Nasional Indonesia. Karena memang Kasman itu berjasa,” terangnya.

Pengangkatan Kasman sebagai pahlawan juga langkah yang tepat di tengah kondisi politik sektarian dewasa ini. Sekalligus untuk mengintegrasikan pemimpin yang nasionalis dengan santri perkotaan. Bahwa ternyata pemerintah melihat Kasman dari jasa-jasanya, bukan dari kesalahan satu titik.

“Dulu dianggap oleh kalangan Islam tertentu, itu bahwa seolah-olah tidak merangkul. Sehingga sosok Kasman saja tidak dirangkul. Tahun ini momen yang baik untuk merangkul. Karena berdasarkan kajian akademik, Kasman berjasa. Sekaligus bahasanya ingin menghapus dendam masa lalu dari Partai Nasionalis Indonesia. Sebenarnya yang menghubungkan PNI ini, PNI itu kan anak bawahnya PDIP. Nak sekarang kan yang berkuasa PNI, PDIP,” tutupnya.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (gul/JPC)

Gelar Pahlawan Kasman, Momen Menghapus Dendam Masa Lalu