alexametrics
Dorong Revisi UU Perkawinan

Menteri PPPA: Indonesia Darurat Perkawinan Anak

10 September 2019, 19:59:14 WIB

JawaPos.com – Indonesia menempati posisi kedua di ASEAN dan ketujuh di dunia sebagai negara dengan angka perkawinan anak paling tinggi. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun lalu, satu di antara sembilan perempuan usia 20–24 tahun menikah pada usia anak. ’’Saat ini Indonesia dalam kondisi darurat perkawinan anak,’’ ucap Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise saat mengungkapkan data tersebut kemarin (9/9).

Muncul rencana untuk mengubah batas usia pengantin dalam UU Perkawinan. Untuk itu, Presiden Joko Widodo mengirimkan Surat Presiden Nomor R-39/Pres/09/2019 tertanggal 6 September 2019 kepada DPR. ’’Dengan adanya surat presiden tersebut, kami mendorong DPR agar secepatnya mengesahkan revisi UU Perkawinan,’’ ujar Yohana.

Perubahan UU Perkawinan itu berdasar pada keputusan Mahkamah Konstitusi 13 Desember lalu. Sebelumnya, ada pengujian pasal 7 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Yang dibahas adalah batas bawah usia perkawinan bagi perempuan.

Ilustrasi Perkawinan. (pixabay)

Dalam surat tersebut, Jokowi menugaskan menteri PPPA, menteri agama, menteri kesehatan, serta menteri hukum dan hak asasi manusia untuk mewakili presiden dalam membahas RUU itu bersama DPR. Dalam surat tersebut dinyatakan, batasan menikah bagi perempuan adalah 19 tahun. Sebelumnya, batas usia minimalnya adalah 16 tahun.

Yohana menyatakan bahwa perkawinan anak merupakan pelanggaran atas pemenuhan hak anak dan pelanggaran HAM. Selain itu, perkawinan anak dapat menghambat wajib belajar 12 tahun sehingga menghambat indeks pembangunan manusia (IPM). ’’Risikonya gizi buruk pada anak yang dilahirkan serta munculnya pekerja anak dan upah rendah,’’ ungkapnya. Dampak disahkannya perubahan usia minimal perempuan untuk menikah, juga akan memberikan legitimasi pada pengadilan agama dalam menetapkan dispensasi perkawinan.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : lyn/c22/ayi



Close Ads