alexametrics

Jangan Pulang Kampung, Kapolda Jamin Keamanan Mahasiswa Papua

10 September 2019, 09:45:44 WIB

JawaPos.com – Ribut-ribut soal Papua beberapa minggu ini membuat para mahasiswa yang sedang merantau resah. Mereka lantas memilih untuk pulang kampung ke Papua. Gelombang kepulangan yang cukup besar itu membuat aparat kepolisian dan Pemprov Papua pusing. Sebab, itu menjadi tanda kalau mahasiswa sudah menjadi korban dari oknum yang ingin memecah belah bangsa.

Kapolda Papua Irjen Pol Rudolf Rodja mengtakan, generasi muda harus tetap belajar di kampusnya masing-masing. Seperti diberitakan Cendrawasih Pos (Jawa Pos Group) Kapolri sudah menyampaikan kepada seluruh Polda untuk menjamin keamanan kepada mahasiswa Papua di manapun mereka kuliah di luar Papua. Untuk itu, mahasiswa yang kuliah di luar Papua tak perlu merasa ketakutan.

“Kami berharap mahasiswa ini jangan menjadi korban dari kepentingan elit-elit atau kelompok kelompok tertentu. Ini harus kita cegah. Karena anak-anak ini adalah aset bangsa yang perlu kita perhatikan masa depannya,” tegas Kapolda Alberth Rodja kepada wartawan usai bertemu dengan Rektor Uncen di Mapolda Papua, Selasa (9/9).

Adapun ratusan mahasiswa Papua yang pulang ke Papua berasal dari Manado, Surabaya dan sebagian daerah lainnya. Rata-rata alasan mereka pulang karena merasa aman tidak terjamin. Kabarnya, mereka disuruh oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kembali, membaca media sosial dimana mereka nantinya akan kuliah di Universitas yang ada di Papua. “Saya harap mereka harus berpikir nasional,” ucap mantan Kapolda Papua Barat ini.

Sementara itu, Rektor Uncen Jayapura, Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST., MT., mengatakan berkaitan dengan isu pemulangan mahasiswa Papua yang kuliah di luar Papua, perlu pertimbangkan kembali. Karena apabila alasan memulangkan mahasiswa yang ada di luar papua karena tidak aman, sebaiknya berkoordinasi dengan Polda Papua.

Sehingga Kapolda bisa berkoordinasi dengan Polda-polda tempat di mana mahasiswa kuliah untuk meminta jaminan keamanan. “Apabila mereka terpaksa pulang ke Papua harus memastikan di mana mereka akan melanjutkan kuliahnya. Karena apabila satu semester mereka tidak kuliah di kampus awalnya, maka kampus di mana mereka didik akan memberikan peringatan,” jelas Rektor Apolo Safanpo.

Artinya, kalau mahasiswa yang pulang ini tidak kuliah dengan baik di tempat kuliah awalnya belum tentu juga mereka bisa diterima di universitas yang ada di Papua. Karena daya tampung perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang ada di Papua sangat terbatas.

Hal ini juga bisa dibuktikan dengan Uncen yang tahun ini sebanyak 12.800 calon mahasiwa yang melamar dan mengikuti tes atau seleksi, namun yang bisa ditampung hanya 6 ribu mahasiswa.

“Walaupun daya tampung kami di Uncen hanya 4 ribu, tapi kami terpaksa membuka lebih kelas untuk menampung lebih banyak mahasiswa dari daya tampung yang ada,” jelasnya.

Alasan lainnya lanjut Apolo Safanpo, belum tentu juga jurusan dan program studi dari kampus asal mereka di luar Papua sama atau tersedia di kampus-kampus yang ada di Papua. “Walupun ada jurusan atau program studi yang sama dari kampus asal dengan kampus di Papua, tapi untuk pindah program studi antara universitas itu harus memenuhi persyaratan-persyaratan teknis. Misalnya akreditasi program studinya minimal sama atau lebih tinggi dari pada akreditsi program studi yang akan dituju,” tambahnya.

Menurutnya, mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi swasta di luar Papua sesuai dengan peraturan perundangan tidak bisa masuk di perguruan tinggi negeri. Karena proses masuknya mahasiswa di perguruan tinggi negeri melelaui seleksi nasional. “Ini yang harus kita pertimbangkan kembali bersama-sama,” pungkasnya.

Editor : Bintang Pradewo



Close Ads