alexametrics

Empat Nama yang Digadang-gadang Jadi Menteri Milenial Jokowi

10 Juli 2019, 13:10:14 WIB

JawaPos.com – Hajatan Pilpres 2019 telah selesai, Joko Widodo (Jokowi) dan Ma’ruf Amin ditetapkan sebagai kepala negara terpilih. Saat ini pun publik bertanya-tanya siapa yang bakal dipilih menjadi menteri membantu pemerintahan.

Jokowi pun sudah menyatakan ketertarikannya terhadap milenial untuk bisa membantunya di pemerintahan periode 2019-2024. Karena dia menginginkan orang yang energik dan cepat di pemerintahannya.

“Bisa saja ade menteri umur 20-25. Tapi harus mengerti manajerial, manajemen, mampu mengeksekusi program yang ada. Umur 30-an ‎juga banyak. Ini karena saat ini dan ke depan perlu adanya orang-orang dinamis, fleksibel dan mampu mengikuti perubahan zaman,” kata Jokowi beberapa waktu lalu.

Wakil Sekretaris Jenderal PDIP, Eriko Sotarduga setuju dengan wacana Presiden Jokowi menggaet kaum milenial menjadi menteri. Karena memang Indonesia ke depan berada di tangan generasi muda.

“Jadi Pak Jokowi memang perlu menteri-menteri muda, menteri yang milenial, yang cepat, agresif dan siap terima tantangan karena perubahan ini sudah harus dipahami lagi,” kata Eriko.

Sementara siapa kaum milenilal yang akan menduduki posisi menteri. Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno belum mengetahuinya. Sebab itu adalah ranahnya Presiden Jokowi yang mengetahuinya. Sehingga dia tidak tahu apapun bocoran nama-nama menteri milenial.

‎”Saya enggak mau menjadi ember untuk menampung bocoran. Karena selama ini kan pembicaraanya ngawur, penuh spekulasi. Padahal itu ranah Pak Jokowi dan ketum parpol,” ujar Hendrawan.

Namun demikian PDIP menginkinkan supaya milenial yang bakal menjadi menteri juga mengerti tentang konstitusi dan nilai-nilai Pancasila. ‎Termasuk membantu Presiden Jokowi dalam membumikan Pancasila sebagai ideologi bangsa.

“Ya milenial oke, misalnya yang memenuhi konstitusi, yang betul-betul menghayati nilai-nilai Pancasila, mampu mengeksekusi dan membumikan Pancasila. Jangan yang kolonial. Kalau milenial nasional,” ungkapnya.

Begitu pula yang diungkapkan oleh Anggota Dewan Pakar Partai Nasdem, Tengku Taufiqulhadi. Dia mengaku sampai saat ini tidak tahu bocoran menteri milenial. Sebab Nasdem sudah mempercayakan sepenuhnya kepada Presiden Jokowi. Termsuk juga Nasdem tidak meminta jatah menteri.

Sebeb Anggota Komisi III DPR ini mengatakan sudah mendapat instruksi dari Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh dilarang membicarakan mengenai meminta jatah menteri. Karena itu sangat tidak etis.

“Bahwa ketua umum kami mengatakan malu kalau berbicara tentang kursi menteri. Kalau misalnya ada pimpinan partai yang berbicara kursi meteri itulah sikap dia dan bukan sikap Nasdem,” ungkapnya.

Terpisah, Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Raja Juli Antoni menilai wacana yang dilakukan oleh Presiden Jokowi sangat bagus. Karena ingin menempatkan milenial sebagai menteri sama aja ada kepedulian ‎yang besar dari Presiden Jokowi.

“Itu gagasan sangat brilian, menunjukan kepedulian Pak Jokowi kepada generasi muda sekaligus masa depan Indonesia. Jadi luar biasa ide itu datang dari seorang presiden,” ujar Antoni.

Antoni berharap wacana Presiden Jokowi bisa terealisasi. Karena baginya peran anak muda saat ini dibutuhkan untuk pelibatan di pemerintahan.

“‎Selain regenarasi ini juga menunjukan masa depan Indonesia ada di tangan anak-anak muda. Soal kepada siapa itu semuanya otoritas Pak Jokowi,” ungkapnya.

PSI juga tidak akan mengajukan siapa kader-kadernya kepada Presiden Jokowi untuk menjadi menteri. Presiden tidak perlu disodorkan nama karena sudah mengetahui siapa yang pantas jadi menteri dan yang tidak.

“Saya tahu Pak Jokowi punya banyak mata-mata dan telinga. Biarkan merekam apa yang terbaik,” tuturnya.

Sementara dari rumor yang menyebutkan kandidat yang menjadi menteri dari milenial adalah.

1. Nadiem Makarim

Nadiem Makarim adalah CEO PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek. Nadiem memulai kariernya pada 2006 silam sebagai konsultan manajemen di McKinsey and Company. Setelah memperoleh gelar MBA, ia terjun sebagai pengusaha dengan mendirikan Zalora Indonesia. Di perusahaan tersebut ia juga menjabat sebagai Managing Editor.

Selanjutnya, setelah keluar dari Zalora, ia kemudian menjabat sebagai Chief Innovation Officer (CIO) Kartuku, sebelum akhirnya fokus mengembangkan Gojek yang telah ia rintis sejak tahun 2011. Saat ini Gojek merupakan perusahaan rintisan terbesar di Indonesia.

2. Bahlil Lahadalia

Nama Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Bahlil Lahadalia muncul sebagai kandidat lantaran beberapa waktu Presiden Jokowi menunjukan ketertarikannya.

“Saya lihat ada adinda Bahlil yang cocok jadi menteri. Dilihat dari samping atas sampai bawah cocok jadi meteri,” ujar Jokowi.

Bahlil diketahui adalah pria kelahiran Maluku Utara ini adalah anak dari seorang ayah yang berprofesi sebagai kuli bangunan dan ibu sebagai tukang cuci. Dengan adanya keterbatasan tersebut, membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh.

Kemandiriannya itu terbukti saat ia duduk di bangku sekolah dasar. Ia sudah membantu perekonomian keluarga dengan menjajakan kue di sekolah. Memasuki bangku SMP, ia juga sempat menjadi kondektur, di saat SMEA, ia menjadi sopir angkot secara part time. Walaupun begitu, Bahlil tetap menunjukan prestasinya di sekolah, bahkan ia pernah menjadi ketua OSIS.

Pada tahun 2003, namanya terdaftar di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) tingkat kabupaten, provinsi, hingga ke pengurus pusat. Setelah memiliki berbagai pengalaman dalam organisasi dan memiliki pekerjaan bergaji tinggi, Bahlil memutuskan keluar dari pekerjaannya dan mendirikan perusahaannya sendiri. Inilah awal mula kesuksesan pria asal Papua ini.

Dengan melihat begitu banyak sumber daya alam yang melimpah di tanah Papua, ia jadikan peluang untuk membuka usahanya. Kini ia memiliki 10 perusahaan di berbagai bidang di bawah bendera PT Rifa Capital sebagai holding company.

3. Agus Harimurti Yudhoyono

Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono juga digadang-gadang bakal menempati kursi di Kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin. Isu ini mencuat karena beberapa kali AHY -sapaan akrab Agus Harimurti Yudhoyono- melakukan pertemuan dengan Presiden Jokowi.

Saat berada di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Agus Harimurti Yudhoyono dinobatkan sebagai lulusan terbaik dan mendapatkan penghargaan Tri Saktiwiratama dan Adhi Makayasa pada tahun 2000.

Pada 2002, setelah lulus dari sekolah kecabangan Infanteri sebagai lulusan terbaik, Agus Harimurti Yudhoyono masuk Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Awal karier Agus Harimurti Yudhoyono di dunia militer dengan menjadi Komandan Peleton Batalyon Infanteri Lintas Udara 305/Tengkorak, jajaran Brigif Linud 17 Kostrad.

Setelah itu Agus Harimurti Yudhoyono dikirim ke Aceh guna menyelesaikan kasus pemberontakan Aceh pada 2002. Kembali dari Aceh, Agus Harimurti Yudhoyono mengikuti Kursus Pasiops di Pusat Pendidikan Infanteri Pusat Kesenjataan Infanteri Bandung dan meraih predikat lulusan terbaik.

Pada 2005, Agus Harimurti Yudhoyono melanjutkan pendidikan masternya di Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura.

Kemudian pada 2008 Agus Harimurti Yudhoyono ditugaskan untuk membantu Kementerian Pertahanan merealisasikan pendirian Universitas Pertahanan Indonesia yang merupakan gagasan mantan presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Tugas Agus Harimurti Yudhoyono di Kementerian Pertahanan adalah sebagai Kepala Seksi Amerika di Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan.

Setelah menyelesaikan studinya di Sekolah Lanjutan Perwira di Fort Benning, Amerika Serikat, Agus Harimurti Yudhoyono ditugaskan menjadi Kepala Seksi 2 Operasi di Satuan elit Kostrad, Brigade Infanteri Lintas Udara 17.

Pada Juni 2014, Agus Harimurti Yudhoyono kembali ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studinya di Sekolah Staff Komando Angkatan Darat (Seskoad).

Setelah lulus, Agus Harimurti Yudhoyono diangkat menjadi Komandan Batalyon (Danyon) Infanteri Mekanis 203/Arya Kemuning.

Agus Harimurti Yudhoyono memutuskan meninggalkan kariernya dalam dunia militer saat Agus Harimurti Yudhoyono menjadi calon Gubernur DKI Jakarta pada 2017 silam.‎ Setelah rehat dari dunia militer, Agus Harimurti Yudhoyono lebih memilih menggeluti dunia politik.

Pada 2017, Agus Harimurti Yudhoyono meresmikan lembaga yang dipimpinnya, The Yudhoyono Institute.
Tujuan dari didirikannya The Yudhoyono Institute adalah menyiapkan kader-kader pemimpin bangsa yang unggul di masa depan dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas 2045.

‎4. Achmad Zaky

CEO Bukalapak ini juga digadang-gadang bakal menjadi kandidat menteri Jokowo-Ma’ruf Amin di Kabinet Kerja jilid II.

Karier Zaky berawal dari keaktifannya di dunia teknologi dan entrepreneurship sewaktu di ITB. Ia mendapatkan tawaran mengerjakan software quickcount pemilu dengan nilai 1,5 juta untuk sebuah stasiun televisi nasional. Setelah lulus dari ITB, ia mendirikan perusahaan jasa konsultasi teknologi bernama Suitmedia.

Zaky juga pernah sempat mencoba untuk membuka usaha kuliner mi ayam dengan sewaktu kuliah yang akhirnya bangkrut. Zaky menghabiskan seluruh uang hasil menang dari berbagai perlombaan.

Bermodal pengalaman membangun sistem IT banyak perusahaan besar, Zaky lantas terpikir untuk membuat sesuatu yang lebih bermanfaat bagi banyak orang. Dari sinilah, Bukalapak.com mulai dirintis pada tahun 2010. Ia bermimpi untuk mengubah hidup banyak orang dengan memajukan UMKM lewat internet. Code base Bukalapak diselesaikan dalam waktu dua bulan. Awalnya, Zaky mengajak para pedagang di mall untuk bergabung di Bukalapak. Tetapi, respon yang diberikan oleh mereka sangat kecil.

Klien pertama yang ia dapat justru dari pedagang kecil. Ketika ditanya mengapa mereka mau bergabung, alasannya adalah karena barang mereka di toko tidak laku. Karena itu, mereka meminta bantuan Zaky untuk menjualnya di Bukalapak. Sejak itu, Ia pun memfokuskan diri mengajak para pelaku UMKM yang belum begitu berkembang. Pada tahun 2011, sudah ada sekitar 10.000 pedagang yang bergabung di Bukalapak.

Pertumbuhan Bukalapak yang sangat pesat menarik minat banyak investor untuk menanamkan modal di Bukalapak. Beberapa di antaranya adalah 500 Startups, Batavia Incubator, IMJ Investment, dan juga Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK Group).

Editor : Kuswandi

Reporter : Gunawan Wibisono



Close Ads