alexametrics

Petugas Gabungan Janji Terus Gencarkan Patroli Jam Malam di Gresik

10 Mei 2020, 04:00:18 WIB

JawaPos.com – Patroli jam malam selama penerapan PSBB Gresik makin menunjukkan hasil positif. Warga yang keluyuran makin berkurang. Demikian juga warung-warung, memilih tutup pada pukul 21.00. Meskipun demikian, tim dari TNI, Polri, satpol PP, dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik akan terus bergerak selama PSBB diberlakukan.

Kamis malam (7/5), selain toko dan warung kopi, patroli juga menyasar barbershop. Anak-anak muda yang keluyuran di jalan raya dengan sepeda motor juga langsung dicegat. Operasi dilakukan di depan Gelora Joko Samudro di Jalan Veteran, Segoromadu, Kebomas.

Patroli itu melibatkan puluhan personel dengan backup Satuan Brimob Polda Jatim dan dipimpin Kasat Sabhara Polres Gresik AKP Yudhi P. Malam itu aparat menjaring 19 pemuda. Belasan pemuda tersebut kongko maupun berkendara tanpa alat pelindung diri (APD) seperti masker.

Dari belasan orang yang terjaring razia jam malam itu, ternyata terdapat seorang anak yang berusia 13 tahun. Dia berasal dari Karangbinangun, Lamongan. Ada juga pemuda yang berasal dari Tuban. Mereka kemudian digiring ke Mapolres Gresik untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Mulai pemeriksaan suhu badan hingga rapid test.

”Dari 19 orang itu, ada 5 orang yang suhu badannya di atas 37 derajat Celsius. Lima orang itu menjalani rapid test. Untung, hasilnya negatif,” terang Kasubbaghumas Polres Gresik AKP Bambang Angkasa.

Bukan hanya tim gabungan itu yang bergerak. Polsek-polsek jajaran bersama koramil setempat juga terus intensif melakukan patroli jam malam. Mulai Polsek Duduksampeyan, Manyar, Cerme, hingga jajaran lain. Petugas mendatangi dan membubarkan kerumunan warga.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Gresik Hermanto Sianturi menegaskan, untuk pemberian bantuan bagi warga terdampak, calon penerima dana jaring pengaman sosial (JPS) masih didata.

”Per hari ini (kemarin, Red) sudah 200 desa yang selesai pendataan. Baik data BLT dana desa, JPS dari APBD, dan bantuan lain dari pemerintah. Prinsipnya, tidak ada penerima ganda,” jelasnya.

Bahkan, beberapa desa mulai mendistribusikan BLT dana desa. ”Karena kewenangannya dari desa, sedangkan bantuan dari JPS melalui dinas sosial,” ujarnya.

Pihaknya belum bisa memastikan total penerima bantuan yang sudah masuk pendataan. Yang jelas, untuk JPS, ada dua kategori. Pertama, keluarga terdampak khusus sesuai usulan pihak legislatif seperti guru honorer, guru ngaji, hingga pekerja kontrak. Kedua, keluarga terdampak lain yang jumlahnya sewaktu-waktu bisa bertambah seperti pegawai korban PHK, sopir, pengemudi ojek, dan sejenisnya.

”Nominalnya Rp 600 ribu per bulan. Sejak Mei hingga Juli karena pada April pendataan belum rampung,” pungkasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : yad/yog/c11/hud

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads