JawaPos Radar | Iklan Jitu

Setara Institute : Ini Catatan Kebesaran Soeharto, Publik Harus Ingat

08 Desember 2018, 17:56:19 WIB
Setara Institute : Ini Catatan Kebesaran Soeharto, Publik Harus Ingat
Soeharto menapaki 'jalan kebesarannya' setelah peristiwa G30S/1965. Dia menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). (istimewa)
Share this

JawaPos.com - Publik tmpakntam harus mengetahui sisi lain 'catatan kebesaran' Presiden ke-3 Indonesia Soeharto. Menurut Ketua Badan Pengurus Setara Institute Hendardi, hal itu perlu dilakukan di tengah adanya upaya membesar-besarkan atau mengglorifikasi nama Soeharto jelang pemilu 2019.

"Glorifikasi nama Soeharto perlu ditandingkan dengan pendapat berbeda dan dilengkapi dengan sejumlah informasi agar kita tidak terperangkap dalam kultus pribadi," katanya, Sabtu (8/12).

Hendardi mengatakan, seharusnya Soeharto hanya tinggal 'pelajaran'. Berbagai studi pernah dilakukan para pakar sejarah, politik, ekonomi, maupun studi khusus militer. Dari situ, Soeharto punya rekam jejak yang kemudian disebut oleh Hendardi sebagai 'catatan kebesaran' Soeharto. Apa saja itu?

Pertama, Soeharto menapaki 'jalan kebesarannya' setelah peristiwa G30S/1965. Dia menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

Pesaingnya susut setelah Letjen Ahmad Yani dan kawan-kawan dibunuh komplotan G30S. Tersisa Mayjen Pranoto Reksosamodra, Menteri/Panglima Angkatan Darat (AD) yang ditunjuk Presiden Soekarno.

Tapi, pada 14 Oktober 1965, Soeharto sukses meraih jabatan Panglima AD merangkap Panglima Kostrad. Caranya, dengan mengangkat dirinya sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib).

"Kebesaran Soeharto adalah sukses memborong tiga jabatan Panglima militer sekaligus hanya dalam dua minggu saja," kata Hendardi.

Kedua, meskipun Soeharto merangkap tiga panglima sekaligus, tapi kenyataannya, keadaan darurat tetap dijalankannya. Maka, perkiraan secara moderat selama 1965-1966, sebanyak 500.000 warga sipil jadi korban pembantaian. Serta 1,6 juta orang dijebloskan ke penjara.

"Kebesarannya adalah catatan rekor jumlah korban pembantaian, serta penahanan warga negara secara sewenang-wenang," ujar Hendardi.

Korban-korban lainnya tercatat dalam invasi militer ke Timor Timur (1975-1976), memberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh (1989-1998), pembunuhan misterius (1982-1984), dan pembataian Tanjungpriok (1984).

Ketiga, Soeharto ibarat jenderal yang sempurna. Ia dinobatkan sebagai 'Jenderal Besar'. Diberi pangkat bintang lima emas, setelah Jenderal Soedirman dan Jenderal Nasution.

Menjulangnya karir militernya 'dibangun' berkat cerita dari Serangan Umum 1 Maret 1949 hingga horor pembantaian 1965-1966 dengan kisah kepahlawanannya. Soeharto juga penguasa yang paling ditakuti rakyat.

Keempat, Soeharto doyan mengucap mantra pembangunan. Sejak 1973, Pembangunan Lima Tahun (Pelita) I dimulai hingga berujung Pelita VI tahun 1998.

Meski periode pemerintahannya menimbulkan korban penggusuran, kesengsaraan buruh, serta hutan gundul dan tambang terkuras, Soeharto diberi gelar "Bapak Pembangunan'. Hal itu sesuai dengan Ketetapan MPR No. V/MPR/1983.

Kelima, dengan gaji presiden sebesar USD 1.764 per bulan, Soeharto bertengger menjadi presiden yang memiliki kekayaan tak tertandingi di dunia. Dengan kisaran kekayaan keluarganya USD 15-73 miliar.

"Jumlahnya mengalahkan penguasa Filipina Ferdinand Marcos dan penguasa Zaire Mobutu Sese Seko," imbuhnya.

Kekayaan keluarganya bersumber dari dua sayap. Yaitu kerajaan bisnis keluarga dan kerabat, serta puluhan yayasan dalam pengumpulan dana.

"Bayangkan, satu yayasan saja, misalnya, Yayasan Supersemar, digugat Rp 4,4 triliun. Perkara ini dimenangkan Kejaksaan Agung. Kini dijalankan eksekusi termasuk menyita kantor Partai Berkarya, Gedung Granadi," ungkapnya.

'Kebesaran Soharto' berdasarkan catatan-catatan itu diakui dunia. Banyak lembaga dan media luar negeri menobatkan Soeharto sebagai 'Diktator Kejam' atas berbagai pembantaian sipil dilakukannya.

"Ia (Soeharto) disejajarkan dengan penguasa kejam dunia seperti Hitler, Stalin, dan Polpot," ungkap Hendardi.

Studi yang dibungkus sejumlah pakar sejarah dan politik terdokumentasi dalam beberapa karya. Yaitu Robert Cribb atas pembantaian 1965-1966, John Taylor mengenai invasi Timor Timur, Amnesty International atas diberlakukannya DOM di Aceh, serta aneka kekerasan Orde Baru yang disunting Ben Anderson.

Atas kekayaannya, lembaga seperti Tranaparency International, dan media massa seperti New York Times serta Forbes, memberi 'gelar kebesaran' untuk Soeharto. Yakni 'Presiden Terkorup Sedunia'.

"Atas kedua gelar kebesarannya, maka Harian Republika 4 Juli 2014, menggabungkannya: Soeharto sebagai 'Diktator Terkorup'," kata Hendardi.

"Begitulah kebesaran Soeharto yang telah dicatat oleh beberapa lembaga dan banyak media. Dengan kebesaran yang sempurna itu, maka kampanye macam apa lagi yang mau dibesar-besarkan?" tukasnya.

"Hasil berbagai studi ini dapat menjadi pelajaran bagi generasi milenial yang mau belajar Soeharto," pungkasnya.

Editor           : Estu Suryowati
Reporter      : (gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini