alexametrics
Tragedi Lion Air JT-610

Wapres Pertimbangkan Pembentukan Mahkamah Penerbangan

CVR Belum Ditemukan
7 November 2018, 10:12:46 WIB

JawaPos.com – Pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP diperkirakan sudah mengalami gangguan instrumen dalam empat penerbangan sebelumnya. Itu merupakan temuan awal dalam penyelidikan KNKT.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan, pihaknya sudah berhasil mengunduh semua flight data recorder (FDR). Dia menyatakan, kondisi data bagus. Ada 69 jam data penerbangan yang direkam.

“Enam puluh sembilan jam itu terangkum dalam 19 flight, dari data yang kita unduh itu, kita mengacu pada 1.790 parameter,” jelasnya.

Wapres Pertimbangkan Pembentukan Mahkamah Penerbangan
Salah seorang pramugari pingsan saat tabur bunga di lokasi jatuhnya Lion Air JT-610 (FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS)

Dari 1.790 parameter tersebut, data yang ditemukan cocok dengan data yang ditunjukkan radar. Artinya, data yang direkam dalam kondisi bagus. Selain data dari FDR, kata Soerjanto, pihaknya perlu mengambil data dari non-volatile memory (NVM) yang tersimpan di komponen-komponen dalam pesawat. Data NVM tersebut bisa membantu menguak misteri penyebab jatuhnya Lion Air PK-LQP.

Dia mengungkapkan, tidak semua data terekam di FDR. Beberapa informasi tertinggal di dalam komponennya. “Tapi, tentu saja NVM ini tidak didesain untuk tahan saat terendam di laut,” jelasnya.

Karena keterbatasan waktu dan kekuatan personel, dalam waktu dekat KNKT membuat daftar komponen yang harus diprioritaskan untuk dicari dan diangkat. “KNKT akan bikin list, tim dari Amerika bikin list. Mungkin nanti kami minta saran tim dari Australia, Singapura, atau Arab Saudi. Mungkin mereka punya pengalaman,” katanya.

Sayang, yang bisa menganalisis NVM hanyalah produsen komponen itu sendiri. Karena itu, kata Soerjanto, mau tidak mau komponen tersebut harus dibawa ke pabrik produsennya.

Temuan awal menunjukkan, memang terdapat masalah pada airspeed indicator pada instrumen di kokpit. “Airspeed-nya unreliable. Jadi, terjadi perbedaan antara kiri dan kanan (sisi kapten dan sisi first officer, Red),” katanya. Masalah tersebut terekam pada empat penerbangan terakhir, termasuk penerbangan nahas Senin (29/10) itu.

Soerjanto menyatakan, KNKT telah menanyai produsen komponen, teknisi, serta pilot-pilot yang sebelumnya menerbangkan PK-LQP untuk menggali data serta mencari tahu penyebabnya. “Tapi, itu satu item saja. Terlalu jauh kalau mau menarik kesimpulan dari itu saja,” ujarnya.

Dia memperkirakan, verifikasi data FDR yang telah diunduh akan memakan waktu 1-2 minggu. Sementara itu, analisisnya bisa memakan waktu 3-4 bulan, bergantung kompleksitas masalah.

Saat ditanya apakah pihak Lion Air lalai dan membiarkan pesawat bermasalah, Sorjanto menegaskan bahwa tidak ada istilah pembiaran. Setiap keluhan pilot yang dicatatkan di log book akan diperbaiki teknisi. “Nggak ada pembiaran. Yang ada, perbaikan itu efektif atau tidak. Kalau tidak, pilot pasti tidak mau terbang,” tegasnya. Karena itulah, KNKT mulai kemarin mewawancara kru dan para teknisi yang menangani PK-LQP.

Sampai saat ini, CVR belum ditemukan. Soerjanto menyatakan, jika CVR ditemukan, gambaran situasi saat kecelakaan terjadi akan lebih baik. Penyelidik bisa tahu diskusi apa yang terjadi antara kedua pilot.

Selain percakapan, penting juga untuk diketahui suara alarm (warning) apa saja yang berbunyi menjelang kecelakaan. Seharusnya, kata Soerjanto, jika pesawat mendekati permukaan tanah atau kurang dari ketinggian 1.000 kaki, ada peringatan dari ground proximity warning system (GPWS). “Karena mood-nya saat itu kan take off, bukan landing. Jadi, jika mendekati tanah kurang dari 1.000 kaki, GPWS akan memberikan warning,” jelasnya.

Kepala Basarnas Muhammad Syaugi menuturkan, hingga kemarin, CVR belum ditemukan. Tim evakuasi sudah tidak mendengar suara ping dari lokasi yang diperkirakan sebelumnya.

Meski demikian, dia menegaskan, pihaknya tetap menyelam di lokasi tersebut. Di lokasi perkiraan keberadaan CVR, kondisinya berlumpur dengan kedalaman pasir lebih dari 1 meter. “Kalau kami tusuk pakai besi, itu dalam sekali. Tapi, kami tetap berusaha, baik KNKT maupun BPPT, menggunakan alat yang canggih yang sensitivitasnya tinggi,” tuturnya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla percaya pada kinerja KNKT dalam penyelidikan penyebab kecelakaan Lion Air. Petugas KNKT-lah yang nanti memberikan penilaian soal kesalahan-kesalahan dalam kecelakaan tersebut. ”Pokoknya, kita menunggu KNKT karena yang berhak menentukan di mana letak kesalahannya itu KNKT,” ujar JK di Kantor Wakil Presiden kemarin.

Sementara itu, usul pembentukan mahkamah penerbangan, kata JK, masih dipertimbangkan. Dia juga membandingkannya dengan mahkamah pelayaran. “Kalau (mahkamah pelayaran, Red) kan banyak sekali insiden-insiden pelayaran. Tapi, agak berbeda. Karena itu ya usul kan dapat kita pertimbangkan. Nanti lihat urgensinya macam mana,” ujarnya.

Tabur Bunga

Dua kapal perang, KRI Banda Aceh 593 dan KRI Banjarmasin 592, melaju pelan mengitari sekitar 250 meter area operasi pencarian dan penyelamatan di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, kemarin (6/11). Di atas dek helikopter keduanya, 726 pasang mata menatap pilu ke permukaan laut.

Kedua komandan kapal memperlambat mesin dan memberikan kesempatan kepada keluarga korban untuk melihat titik jatuhnya pesawat Lion Air bernomor re­gistrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 tersebut.

Di bagian bawah kerumunan perahu, kapal tim SAR dan TNI-AL, serta KM Teluk Bajau Victory sebagai pusatnya, bisa jadi ada bagian tubuh anggota keluarga dan sahabat tercinta yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air. Menunggu untuk ditemukan dan diangkat ke permukaan oleh tim evakuasi.

Edi Hadrian, seorang anggota keluarga korban asal Palembang, awalnya tampak tenang sejak berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, kemarin pagi. Namun, saat melihat lokasi keponakannya, Amelia Rizky, dijemput Sang Mahakuasa, pria berusia 50 tahunan tersebut tak kuasa menahan tangis.

Edi lantas didudukkan di atas kursi di dekat buritan KRI Banda Aceh. Didampingi sang suami keponakan, Murtadlo, Edi ditenangkan dokter KRI Banda Aceh Letkol Harjo Utomo. “Saya melihat lokasi langsung down. Tolonglah ya, Pak, diambil (diangkat, Red) ponakan saya,” kata Edi sambil mengusap matanya yang sembap.

Prosesi tabur bunga berlangsung khidmat. Rohaniwan memimpin doa dalam lima agama. Selain keluarga korban, hadir sejumlah pilot, pramugari, dan staf Lion Air. Dirut Lion Air Edward Sirait juga hadir.

Di KRI Banda Aceh, hadir Panglima Komando Armada I (Pangkoarmada I) Laksamana Muda TNI Yudo Margono, Panglima Komando Lintas Laut Militer (Pangkolinlamil) Laksda TNI R. Achmad Rivai, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono, serta Plt Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Pramintohadi Sukarno. Kabasarnas Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi dan sejumlah pejabat Polri naik KRI Banjarmasin.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (tau/jun/c5/agm)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Wapres Pertimbangkan Pembentukan Mahkamah Penerbangan