alexametrics

Mbah Moen Ingin Meninggal di Hari Selasa Seperti Bapak dan Kakeknya

7 Agustus 2019, 09:05:29 WIB

JawaPos.com – Ulama sekaligus tokoh bangsa Kiai Maimun Zubair menghembuskan napas terakhirnya saat menjalankan ibadah haji di Tanah Suci Makkah. Pria yang akrab disapa Mbah Moen itu meninggal di usia 90 tahun.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mengatakan, ‎Mbah Moen adalah sosok yang tidak tergantikan. Baik di PPP maupun di hati masyarakat Nahdlatul Ulama (NU). Ini karena sosok pimpinan pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang itu memiliki ilmu dan kharisma sehingga para koleganya sangat menghargai.

“Banyak teman dan adik-adiknya di partai sangat menghargai dan menghormati belaiu,” ujar Abass kepada JawaPos.com, Rabu(7/8).

Abbas juga menuturkan, kepergian Mbah Moen di hari Selasa ‎merupakan jawaban dari Allah terhadap doa-doa beliau. Karena beliau selalu bercerita dan menginginkan meninggal seperti sang ayah Kiai Zubair Dahlan yang pukang ke Rahmatullah pada hari Selasa.

“Beliau menginginkan meninggal pada hari Selasa seperti yang dialami oleh bapak dan kakek beliau sendiri dan di saat serta di tempat yang istimewa yaitu ketika mengerjakan ibadah haji dan di Tanah Suci,” katanya.

Abbas juga mengatakan, kepergian Mbah Moen merupakan hal yang luar biasa dan membuat bangsa ini kehilangan figur ulama yang kharismatik.

“Mungkin kita bersedih dengan kepergian beliau tapi mungkin beliau sendiri akan senang dan tersenyum karena Allah telah mengijabah doa-doanya,” tambahnya.

Terpisah, ucapan bela sungkawa juga datang dari Sekretaris Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Gomar Gulotom. Menurutnya Mbah Moen merupakan kiai yang patut dijadikan teladan bagi semua umat.

“Mbah Moen adalah sosok kiai yang patut menjadi teladan bagi ulama dan tokoh agama yang ada di Indonesia. Kepergian beliau tidak hanya kehilangan bagi PPP maupun NU. Tetapi juga bagi seluruh umat Indonesia,” ‎pungkasnya.

Sebelumnya, ‎salah satu santri Mbah Moen, Muhammad Kanzul Firdaus mengatakan, sang guru sering bercerita kepada para murid-muridnya di pesantren, bahwa sang ayah Kiai Zubair Dahlan meninggal pada hari Selasa. Kemudian para wali-wali atau kekasih Allah juga banyak yang meninggal di hari Selasa.

“Jadi setiap hari selasa, saya itu deg-degan. Semoga beliau tidak wafat,” ujar Kanzul.

Saat ini, hal yang ia takutkan terbukti. Sang guru meninggal di hari Selasa, sekira pukul 04.16 waktu Arab Saudi. Mbah Moen meninggal saat menunaikan ibadah haji di Makkah.

“Hari ini yang saya takutkan benar-benar terjadi.Beliau benar benar meninggal pada hari selasa,” katanya.

Sekadar informasi, Mbah Moen lahir di Rembang, Jawa Tengah, 28 Oktober 1928. Almarhum meninggal dunia di Makkah, 6 Agustus 2019, dalam usia 90.

Saat ini Mbah Moen menjabat sebagai Mustasyar PBNU ‎termasuk juga sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang selama 7 tahun.

Setelah berakhirnya masa tugas, ia mulai berkonsentrasi mengurus pondoknya yang baru berdiri selama sekitar 7 atau 8 tahun. Mbah Moen tercatat pernah menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah selama tiga periode.‎

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Gunawan Wibisono


Close Ads