JawaPos Radar

Pilot Garuda Ancam Mogok, Pakar Intelijen Bilang Begini

07/07/2018, 16:20 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Garuda Indonesia
Dua peswat Garuda Indonesia yang sedang menaikan penumpang dan siap terbang. (ist/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Ancaman mogok Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) dan Asosiasi Pilot Garuda (APG) menuai sorotan sejumlah kalangan. Salah satunya pakar intelijen, Ngasiman Djoyonegoro yang juga Direktur Eksekutif Center of Intelligence and Strategic Studies (CISS).

Menurut Ngasiman, ancaman mogok Sekarga dan APG sudah pada tahap berpotensi merusak citra pemerintah. Karena Garuda merupakan perusahaan pelat merah. Apalagi jika dirunut ada strategi besar di balik rencana mogok yaitu dari pemilihan waktu. Awalnya, saat Ramadan dan Idul  Fitri yang berbarengan dengan mudik Lebaran 2018. Kini, mereka mengancam lagi berdekatan dengan jadwal keberangkat jamaah haji Indonesia dan Idul Adha.

"Ini ada apa?" ujar Ngasiman dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.

Program Haji adalah program nasional sekaligus internasional maka ancaman mogok tersebut mengganggu hajat dan kepentingan umat muslim yang akan menunaikan ibadah haji. Jamaah haji Indonesia 1439 Hijriyah akan mulai diberangkatkan ke Arab Saudi pada 17 Juli 2018.

Diketahui, keberangkatan jamaah akan dibagi dalam dua gelombang penerbangan. Gelombang pertama akan menuju Madinah pada 17-29 Juli. Gelombang kedua berangkat ke Jeddah mulai 30 Juli sampai 15 Agustus. Kementerian Agama (Kemenag) memastikan pengangkutan udara jamaah haji Indonesia tahun 2018 akan menggunakan jasa maskapai penerbangan Garuda Indonesia.

Karenanya, Simon (sapaan akrab Ngasiman Djoyonegoro) melihat kasus mogok kerja yang akan dilakukan Sekarga dan APG tidak ada kaitannya dengan hubungan industrial antara karyawan dengan perusahaan. Justru kasus yang membelit perusahaan pelat merah ini kental bernuansa politik dan ekonomi. 

"Pertama, harus dilihat siapa aktor politik yang bermain. Kedua, indikasi adanya aktor ekonomi sangat terlihat karena Garuda Indonesia adalah aset pemerintah yang sangat seksi,'' ujar Simon.

Aktor politik ini, katanya, terlihat ingin menciptakan kegaduhan dalam tubuh pemerintah Joko Widodo, BUMN sebagai sasaran antara. Jika mogok kerja terjadi tentunya citra pemerintah yang tercoreng karena dinilai gagal dalam menciptakan kondisi aman di tahun politik.

Kemudian, dalam sisi ekonomi terlihat ada upaya sistematis untuk membuat kesan manajemen Garuda Indonesia gagal dalam mengelola bisnis. Situasi tidak kondusif ini ditujukan untuk membuat karut-marut yang arahnya Garuda Indonesia diambang kebangkrutan.

''Semua tuntutan karyawan dan pilot sudah dipenuhi manajemen. Kinerja manajemen mengalami trend positif, semua dapat dilihat dalam laporan keuangan Garuda. Jadi, apalagi alasan mereka? Saya menduga mereka yang ngotot mogok kerja hanya kelompok kecil,'' tegas Simon.

Untuk itu, lanjutnya, pemerintah harus mengambil tindakan tegas dalam menyelamatkan aset nasional. Pemerintah juga perlu mengidentifikasi siapa-siapa biang kerok di dalam tubuh Garuda Indonesia dan aktor-aktor intelektual di luar yang bermain.

''Sambil menyiapkan upaya penyelamatan ketika mogok benar terjadi, pemerintah dan manajemen dapat menjatuhkan sanksi tegas kepada karyawan yang berniat merongrong aset nasional,'' ungkapnya.

Terpisah, Sekretaris Jenderal Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (Ikagi), Haryo Budi Santoso menegaskan, sekitar 5000 awak kabin Garuda Indonesia tidak akan ikut serta dalam rencana mogok kerja yang akan dilakukan oleh Sekarga dan APG. 

"Ikagi tidak ikut mogok kerja," ujar Haryo saat menyikapi gonjang ganjing rencana mogok kerja Sekarga dan APG dalam waktu dekat ini.

(dms/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up