alexametrics

Ini Penjelasan Psikolog UI Soal Fenomena Panic Buying di Awal PPKM

6 Juli 2021, 13:52:35 WIB

JawaPos.com – Psikolog klinis dewasa dari Universitas Indonesia (UI) Mega Tala Harimukthi berpendapat ada beberapa hal yang menyebakan fenomena panic buying terjadi beberapa waktu lalu di Indonesia.

Pertama, kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat di Jawa dan Bali pada 3 Juli-20 Juli 2021, yang sebetulnya tidak perlu ditanggapi masyarakat dengan sikap panik. Kebijakan yang dijalankan setelah setahun lebih pandemi Covid-19 bertujuan untuk menekan angka penyebaran kasus penyakit akibat virus korona (SARS-CoV-2) itu di Indonesia.

Masyarakat sebenarnya sudah punya pengalaman dibatasi kegiatannya pada tahun lalu melalui kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan baik-baik saja selama aturan dipatuhi.

Dalam kasus PPKM kali ini, mereka pun tidak perlu panik sehingga menimbulkan persepsi akan terjadi kelangkaan produk-produk kebutuhan sehari-hari di masa mendatang, kemudian mendorong keinginan memborong atau panic buying.

“Kondisi ini kami hanya dibatasi untuk tidak keluar kalau tidak ada kepentingan. Ini untuk kebaikan kita dan keluarga. Sebenarnya kita tahu kebutuhan bulanan keluarga apa saja, kita punya list-nya, semisal vitamin, makanan, cukup ikuti list itu, jadi tidak perlu bersikap cemas sampai panik,” katanya, Selasa (6/7), seperti dikutip dari Antara.

Padahal, memborong barang belum tentu membuat seseorang merasa lebih baik. Tindakan ini justru bisa menyebabkan kelangkaan produk yang semestinya tidak perlu terjadi atau kalaupun tersedia harganya melambung tinggi dari biasanya.

Editor : Dinarsa Kurniawan

Reporter : Antara

Saksikan video menarik berikut ini: