alexametrics

Lagi, Vaksin PMK Impor dari Prancis Tiba

Peternak Menunggu Kejelasan Kompensasi Sapi
5 Juli 2022, 10:19:55 WIB

JawaPos.com – Vaksin impor untuk penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan terus berdatangan. Minggu (3/7), giliran 94 ribu dosis vaksin dari Prancis yang datang.

Kepala Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tipe C Soekarno-Hatta Finari Manan menuturkan, vaksin tersebut merupakan gelombang ketiga yang diimpor dari Prancis. Paket ketiga itu sekaligus menggenapi total target impor vaksin PMK sebanyak 3.140.000 dosis. Gelombang pertama tiba pada 12 Juni sebanyak 10 ribu dosis.

Disusul gelombang kedua sebanyak 3 juta dosis pada 16 Juni.

Vaksin impor tersebut diangkut pesawat Emirates dengan nomor penerbangan EK 356 dan mendarat pukul 15.42 WIB. Dikemas dalam 940 botol, masing-masing berisi 100 dosis. Seperti penanganan sebelumnya, 94.000 dosis vaksin PMK itu langsung ditimbun di Coolroom Gudang PT Jasa Angkasa Semesta.

Finari menyebutkan, total nilai barang impor itu mencapai Rp 3,5 miliar. ’’Sementara itu, potensi kerugian akibat PMK di Indonesia bisa mencapai Rp 9,9 triliun per tahun akibat penurunan produksi, kematian ternak, serta pelarangan/pembatasan ekspor produk ternak dan turunannya,’’ jelasnya.

Sementara itu, masyarakat masih menanti kejelasan soal kompensasi pemusnahan hewan ternak dari pemerintah. Ketua Umum Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia Asnawi mengatakan, pihaknya belum mendapatkan update lebih lanjut soal juknis atau skema pemberian insentif pemerintah untuk sapi yang mati karena wabah PMK. ’’Saat wacana itu keluar, teman-teman asosiasi menanggapi positif dan hingga kini masih menunggu kepastiannya,’’ ucap Asnawi saat dihubungi Jawa Pos kemarin (4/7).

Di sisi lain, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menghitung potensi nilai sirkulasi hewan kurban tahun ini mencapai Rp 33 triliun. Pimpinan Baznas Saidah Sakwan menyebut angka potensi sirkulasi hewan kurban itu cukup besar. ’’Bisa untuk memberdayakan peternak hewan kurban di desa-desa,’’ katanya setelah mengikuti penandatanganan kerja sama Baznas dengan BenihBaik dan Grab di Jakarta kemarin (4/7).

Saidah mengatakan, manfaat kegiatan kurban dengan potensi keuangan yang begitu besar harus bisa dirasakan oleh banyak pihak. Bukan hanya orang-orang yang berhak menerima daging kurban, tapi juga para peternak hewan kurban.

Apalagi, saat ini banyak peternak hewan kurban yang terimbas wabah PMK. Di tengah keterbatasan akses pengiriman hewan kurban ke sejumlah daerah risiko tinggi wabah PMK, banyak peternak hewan yang kehilangan potensi pendapatannya.

Vaksinasi di Jatim

Di Jawa Timur, kasus kumulatif PMK telah mencapai 139.606 hingga kemarin. Dari jumlah tersebut, sebanyak 110.078 sapi sakit dan 814 lainnya mati. Karena itu, vaksinasi PMK terus digenjot Pemprov Jatim. Anggarannya diambil dari alokasi biaya tidak terduga (BTT).

Hingga Minggu (3/7), sebanyak 192.969 dosis vaksin telah disuntikkan ke sapi-sapi di Jatim. Angka itu setara dengan 53 persen dari total alokasi vaksin yang diberikan pemerintah pusat ke Jatim. ’’Untuk vaksinasi, kami jalan terus,’’ ucap Sekretaris Dinas Peternakan (Disnak) Jatim Aftabuddin kemarin.

Menurut data yang dihimpun Jawa Pos, anggaran BTT yang diajukan untuk PMK mencapai Rp 43,7 miliar. Usulan itu sedang dalam proses persetujuan. Rencananya, anggaran BTT dialokasikan untuk pembelian obat dan vitamin ternak.

Soal mekanisme lalu lintas kurban menjelang Idul Adha, Afta mengatakan akan diserahkan ke disnak kabupaten/kota. Selama pengirimannya masih bersifat antarkota dalam provinsi. ’’Lalu lintas ternak sudah ada SOP-nya,’’ katanya. Setiap ternak yang dikirim harus disertai rekomendasi wilayah tujuan. Ternak juga harus memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dari wilayah asal.

Pun dengan penyembelihan. Disnak Jatim menyarankan agar pemotongan dilakukan di rumah potong hewan (RPH). Namun, di luar lokasi itu seperti masjid dan musala, menyembelih kurban juga diperbolehkan. Asalkan sudah mendapat rekomendasi dari disnak setempat.

Di Bali, jumlah ternak yang terjangkit PMK terus bertambah. Di Gianyar, misalnya, 38 ekor sapi di Desa Medahan dan Desa Keramas terjangkit PMK. Sapi-sapi itu sudah diangkut truk untuk dieksekusi di Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Peternak berharap ada ganti rugi untuk menutup kerugian.

Menurut I Nyoman Sudiarsa, peternak anggota Simantri Merta Diuma, Desa Medahan, gejala PMK berlangsung Juni 2022 sebelum Hari Raya Galungan. ’’Awalnya tidak mau makan. Dua hari kemudian mulut berbusa, ada juga yang kukunya lepas,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bali kemarin (4/7).

Editor : Ilham Safutra

Reporter : tau/agf/wan/elo/dra/dwi/bas/pit/c18/oni

Saksikan video menarik berikut ini: