alexametrics

Jelang Idul Fitri, Pusat Perbelanjaan Jadi Atensi Satgas Covid

4 Mei 2021, 11:30:25 WIB

JawaPos.com – Larangan mudik Lebaran tidak serta-merta menurunkan risiko penularan Covid-19. Pasalnya, di kota-kota besar, konsentrasi masyarakat yang tidak mudik justru terlihat di pusat-pusat perbelanjaan.

Di DKI Jakarta misalnya. Jasa Marga memang mencatat penurunan arus kendaraan yang meninggalkan Jabotabek menjelang masa peniadaan mudik yang dimulai pada 6 Mei 2021. Sebanyak 387.383 kendaraan keluar dari wilayah tersebut pada akhir pekan lalu (Jumat–Minggu, 30 April–2 Mei). Jumlah itu turun 10 persen jika dibandingkan dengan kondisi lalu lintas (lalin) normal.

Namun, keramaian justru terjadi di dalam kota. Misalnya, yang terjadi di Pasar Tanah Abang, Jakarta, beberapa hari terakhir. ”Memang mereka yang tidak mudik saat ini terkonsentrasi di kota-kota besar,” jelas Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Sonny B. Harmadi kepada Jawa Pos kemarin (3/5).

Sejak awal Ramadan, satgas Covid-19 pusat sudah mewanti-wanti seluruh unsur satgas daerah dan pemerintah daerah. Pesan itu terkait dengan potensi peningkatan aktivitas masyarakat menjelang Idul Fitri 1442 H. Baik itu yang berupa ritual keagamaan seperti ibadah bersama, salat Tarawih, dan takbir keliling maupun aktivitas sosial ekonomi seperti berbelanja dan bersilaturahmi. ’’Jadi, meskipun mudik sudah dilarang, tetap ada potensi mudik lokal. Mengunjungi sanak saudara dan sebagainya,” jelas Sony.

Kasus kerumunan di Pasar Tanah Abang, Jakarta, kata Sony, menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah yang lain. ’’Pak Doni (Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo, Red) sudah mengatakan bahwa Jakarta jadi pelajaran. Peringatan untuk daerah lainnya,” tegas dia.

Sony mengatakan, pemerintah daerah tidak boleh abai dan melupakan bahwa saat ini Indonesia masih dalam masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro. Kalau aturan itu ditaati, seharusnya tidak ada kapasitas tempat-tempat umum dan pusat perbelanjaan yang melebihi 50 persen. ’’Harus ada pengaturan. Misalnya, jam belanjanya diatur agar tidak bertumpuk di satu waktu. Kemudian, transportasi menuju ke tempat belanja itu juga diatur biar tidak terlalu penuh,” jelasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : wan/mia/tau/agf/lyn/c6/c9/fal

Saksikan video menarik berikut ini:





Close Ads