alexametrics

Langkah ACT Bantu Tenaga Pendidik Lewat Sahabat Guru Indonesia

3 Desember 2019, 20:23:44 WIB

JawaPos.com – Aksi Cepat Tanggap (ACT) lewat program Sahabat Guru Indonesia kembali membantu guru prasejahtera yang tinggal di daerah terpencil. Adapun kriteria guru yang menerima manfaat dari program ini adalah mereka yang berpenghasilan di bawah Rp 1 juta (termasuk guru honorer dan guru tahfiz).

“Program ini merupakan apresiasi terbaik dari ACT untuk guru-guru berdedikasi namun prasejahtera di Indonesia,” jelas Direktur Program ACT, Wahyu Novyan dalam keterangan tertulis, Jakarta, Selasa (3/12).

Salah satu penerimaan bantuan adalah Komariyah, 29. Ia telah mengajar selama sembilan tahun dengan gaji Rp 500.000 tiap bulannya. Meskipun begitu, guru yang berdedikasi ini masih menjalani aktivitasnya dengan senang hati. “Saya tetap bersyukur, yang penting anak-anak di kampung saya bisa bersekolah dengan baik,” ungkapnya.

Komariyah mengajar di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 4 kelas jauh, Desa Saluran, Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin. SD tersebut merupakan satu-satunya sekolah yang ada di desa itu dengan jumlah murid sebanyak 25 orang.

Selain bergaji kecil, Komariah pun perlu perjuangan lebih selama menjadi pendidik. Pasalnya, di kampung tempatnya mengajar belum teraliri listrik. Di tengah keterbatasan itu, ia berharap pendidikan di kampungnya dapat segera maju.

Cerita lain hadir dari seorang guru bernama Masnun Ismail, 47, yang tinggal di Dusun 3 Bumbung, Desa Kabetan, Kecamatan Ogo Deide, Tolitoli, Sulawesi Tengah. Sejak 2006, ia mengajar di Sekolah Dasar Negeri Butun kelas jauh.

Sebelumnya, dia bekerja sebagai perangkat desa. Namun, pada 2004 menjadi awal keterlibatan dirinya di dunia pendidikan dengan diminta oleh warga untuk mengajarkan anak-anak baca dan tulis.

Sekolah yang didirikan merupakan hasil swadaya masyarakat. Hingga saat ini, sudah empat kali bangunan sekolah direnovasi karena sudah empat kali juga bangunan sekolah roboh.

Selama perbaikan sekolah secara swadaya oleh masyarakat, Masnun dan murid-muridnya melakukan kegiatan belajar dan mengajar di kolong rumah panggung milik warga setempat. Walau demikian, kondisi tersebut tak menyurutkan semangat belajar anak-anak desa.

“Sejak 2006 saya memilih jadi guru. Saya ingin jadi guru sepenuhnya walau tidak memiliki latar belakang pendidikan sebagai guru. Masa depan anak-anak desa yang jadi alasan saya untuk terus jadi guru walau secara gaji memang terbilang jauh daripada menjadi perangkat desa,” tutur Masnun.

Gaji yang Masnun dapatkan dari mengajar masih tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Untuk itu, sepulang mengajar, Masnun menjadi nelayan.

Ia memancing hasil laut sebagai penghasilan tambahan agar dapur keluarganya tetap mengepul. Ia mengaku hanya dua jam tidur tiap harinya dan kembali ke sekolah guna mengajar para murid.

Kisah Masnun dan Komariah merupakan satu dari potret kehidupan guru di pelosok negeri ini. Masih banyak guru-guru lain yang serupa perjuangannya demi pendidikan negeri ini. Hingga kini, masih ada 1.070.662 guru yang masih berstatus honorer dengan pendapatan di bawah UMR (rata-rata Rp 300.000 sampai dengan Rp 500.000 per bulan).

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Saifan Zaking



Close Ads