alexametrics

Kumpulkan Bukti, Polri Telusuri Dugaan Pidana Atas Jatuhnya Lion Air

3 November 2018, 09:30:33 WIB

JawaPos.com – Bareskrim Polri turun tangan menangani kecelakaan Lion Air untuk menelusuri aspek pidananya. Kemarin (2/11) sekitar pukul 15.00 lima anggota Puslabfor Bareskrim mengambil sampel barang-barang bekas kecelakaan.

Mereka mendatangi lokasi digelarnya puing-puing pesawat dan barang milik korban di dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) 2 Tanjung Priok.

Pantauan Jawa Pos di lokasi, petugas tampak menyapukan kertas ke beberapa barang sisa kecelakaan itu. Misalnya, pakaian, koper, dan sepatu. Hasil sapuan atau swap itu lantas dimasukkan ke sepuluh kantong kecil.

Kumpulkan Bukti, Polri Telusuri Dugaan Pidana Atas Jatuhnya Lion Air
Presiden Jokowi didampingi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat memberikan ucapan terima kasih kepada tim yang terlibat dalam evakuasi korban dan pesawat Lion Air JT 610. (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

Juga, ada pengambilan bagian kecil atau sampel dari barang-barang tersebut dengan cara digunting. Lantas, dimasukkan kantong kertas yang lebih besar. Puing-puing seperti dinding pesawat juga dimasukkan ke kantong.

“Serpihan tas, sepatu, serpihan pesawat. Semuanya diteliti pakai alat. Untuk memastikan semua,” ujar Kepala Bidang Balistik Metalurgi Forensik (Balmetfor) Bareskrim Kombespol Ulung Kanjaya seusai pengambilan sampel.

Dia menuturkan, dibutuhkan waktu sepekan untuk meneliti sampel itu. Penelitian tersebut dilakukan, antara lain, untuk memastikan ada tidaknya bahan peledak dalam pesawat itu. Meski sudah terendam air laut, residu bahan peledak dipastikan masih menempel pada barang-barang tersebut. Syaratnya, memang ada bahan peledak dalam pesawat.

Penyelidikan Bareskrim itu sejalan dengan penelitian flight data recorder (FDR) oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Sebab, bila ada dugaan tindak pidana, tentu kasusnya akan dilimpahkan kepada polisi. “Penyidikan udah mulai dikit-dikit. Tapi, kan utama KNKT. Kalau dicurigai ada tindak pidananya, polisi langsung ambil alih,” ujar dia.

Ulung lantas mencontohkan peristiwa kecelakaan pesawat Boeing 737-400 Garuda bernomor penerbangan GA 200 di Jogja pada Maret 2007. Pilot Marwoto Komar dijadikan tersangka karena diduga salah dalam melakukan pendaratan. “Dulu kayak di Jogja ada pendaratan darurat, itu kan ada pidana,” jelas dia.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menambahkan, tugas Polri tidak hanya membantu evakuasi, tapi juga mengungkap sisi nonteknis penyebab kecelakaan Lion Air JT 610. “Kami investigasi perjalanan sejak dari Bali hingga Jakarta dan menuju ke Pangkalpinang,” ujarnya.

Ada sejumlah hal yang dikumpulkan. Mulai rekam medik pilot, rekam medik teknisi, hingga profil setiap yang terlibat dalam persiapan penerbangan tersebut. “Kami lihat latar belakangnya,” ujarnya.

Tidak hanya berusaha mengendus kemungkinan pidana, Polri juga akan memastikan adakah kemungkinan sabotase dari kelompok teror. “Kita lihat semua kemungkinan,” terangnya.

Sementara itu, proses identifikasi korban jatuhnya Lion Air JT 610 masih berlangsung. Kemarin (2/11) dipastikan terdapat tambahan sembilan kantong jenazah yang perlu diidentifikasi. Dari jumlah tersebut, tiga berhasil diindentifikasi. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (jun/idr/c10/agm)

Copy Editor :

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Kumpulkan Bukti, Polri Telusuri Dugaan Pidana Atas Jatuhnya Lion Air