alexametrics

Mengharukan, Kisah Dokter Spesialis yang Jadi Korban Pesawat Lion Air

2 November 2018, 08:35:22 WIB

JawaPos.com – Keluarga Ibnu Fajariyadi Hantoro, 33, hingga kini masih berharap keajaiban. Ya, pascatragedi jatuhnya pesawat Lion Air JT-610, keluarga belum mengetahui kondisi Ibnu.

Ibnu tercatat sebagai salah satu penumpang pesawat nahas yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat itu. Dia merupakan warga Kompleks Pelni C1/5 RT04/RW17 Kelurahan Baktijaya, Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat.

Ayah Korban, Slamet Trihantoro, 66, mengatakan bahwa anaknya tercatat dalam manifes penumpang Lion Air JT610 dengan nomor 55. Slamet mengungkapkan, kepergian anaknya ke Pangkalpinang untuk memenuhi tugasnya mengabdi di salah satu rumah sakit di sana, setelah lulus spesialisasi penyakit dalam di Universitas Indonesia 2017 silam.

“Dia baru lulus spesialisasi jadi sedang dalam masa pengabdian wajib kerja dokter spesialis di Rumah Sakit Bangka Tengah,” ungkap Slamet sebagaimana dilansir Radar Depok (Jawa Pos Group), Jumat (2/11).

Ibnu diketahui sedang melakukan wajib kerja sejak awal Februari 2018 dan akan berakhir Januari 2019.

Selama melaksanakan kewajibanya, Ibnu rutin pulang ke rumah orang tuanya, hampir sepekan sekali. Termasuk menjenguk ke dua anaknya yang masih berusia empat tahun dan satu setengah tahun, serta istrinya, Hilda, yang berprofesi sebagai dokter spesialis terapi medis di Rumah Sakit Pasar Rebo, Jakarta Timur.

“Tapi kadang bisa pulang lebih awal kalau ada rapat di Rumah Sakit Darmais karena dia juga sudah bekerja sebagai dokter spesialis di sana,” beber Slamet.

Sampai saat ini keberadaan Ibnu belum diketahui keluarga karena belum ada satupun jasad yang menandakan bahwa itu adalah Ibnu. Meski mengaku sudah mengikhlaskan takdir yang diberikan oleh Tuhan, Slamet masih berharap anaknya dapat pulang ke rumahnya dengan selamat.

“Saya sudah ke bandara dan melihat ada 29 kantong jenazah, tapi tak satupun yang cocok dengan ciri-ciri anak saya. Saya sudah ikhlaskan apa pun hasilnya nanti, tapi kalau boleh berharap saya ingin anak saya bisa pulang selamat, apalagi saat ini dia juga sedang mengikuti tes CPNS. Kalau sedang mengobrol seperti ini, saya masih membayangkan dia ada di sini,” sambungnya.

Slamet juga sudah datang ke Rumah Sakit Polri untuk melengkapi segala data–data yang diperlukan. Dia juga sudah menyerahkan sampel air liurnya kepada tim medis disana untuk pencocokan DNA.

Sementara itu, istri dr. Ibnu Hantoro, dr. Helda Aprilia, 31, mengatakan, sang suami bertolak ke Pangkalpinang untuk menjalankan tugas sebagai dokter di RSUD Koba Bangka Tengah. Ayah dua anak itu telah mengabdi selama satu tahun di RS tersebut.

“Saya awalnya mendapat kabar dari ipar yang menelepon kalau menanyakan suami saya berangkat naik pesawat apa dan jam berapa, saya curiga kenapa ipar saya menanyakan itu, kemudian saya lihat berita di media online dan tahu ada pesawat yang terjatuh. Habis itu saya telepon suami sudah tidak diangkat dan WA saya tidak dibalas,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca di Kompleks Pelni, Sukmajaya.

Helda menuturkan, sebelum bertugas di Pangkalpinang, Ibnu Hantoro juga bertugas di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat, sebagai dokter spesialis penyakit dalam.

Dalam sepekan, dokter muda lulusan Universitas Indonesia (UI) bidang Kedokteran itu kerap kali pulang ke Depok Jumat sore dan kembali ke Pangkalpinang pada Senin pagi.

“Tapi minggu ini, suami pulang untuk ikut tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Komunikasi kami tidak pernah putus sampai mau boarding saja suami selalu bilang ke saya, kalau apa-apa suami pasti mengabari saya,” bebernya.

“Orangnya baik, sayang dengan keluarga. Setiap hari kita video call, bisa dua sampai tiga kali video call dalam satu hari,” pungkasnya.

Editor : Fersita Felicia Facette

Reporter : (mam/jpg/ce1/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Mengharukan, Kisah Dokter Spesialis yang Jadi Korban Pesawat Lion Air