Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Agustus 2025 | 15.45 WIB

Belajar dari Tiongkok, Jumlah Penumpang Kereta Cepat Beijing–Shanghai Lampaui Penerbangan, Maskapai Tersudut

Tampilan Kereta Cepat Beijing-Shanghai di Tiongkok. (SCMP) - Image

Tampilan Kereta Cepat Beijing-Shanghai di Tiongkok. (SCMP)

JawaPos.com - Industri penerbangan Tiongkok menghadapi tantangan serius setelah penumpang rute Beijing–Shanghai beralih besar-besaran ke kereta cepat yang belum lama ini selesai dibangun dan dioperasikan.

Tahun lalu, lebih dari 52 juta orang memilih kereta cepat, sedangkan hanya sekitar 8,6 juta penumpang yang menggunakan pesawat, menurut data platform penerbangan sipil Hangban Guanjia.

Fenomena ini membuat Asosiasi Transportasi Udara Tiongkok memperingatkan bahwa pasar penerbangan sedang 'terkikis' akibat keunggulan kereta cepat.

Maskapai pun berlomba menawarkan tiket murah hingga layanan limusin gratis demi merebut kembali pelanggan.

Pebisnis Pilih Rel, Bukan Udara

Rute sejauh 1.300 km itu kini dapat ditempuh hanya sedikit lebih dari empat jam, dengan kecepatan kereta mencapai 350 km/jam. setara dengan kecepatan maksimum yang bisa dicapai kereta cepat Whoosh di Indonesia.

Kondisi ini menjadikan perjalanan menggunakan kereta antara kedua kota lebih efisien dibandingkan penerbangan yang kerap terkendala cuaca dan lalu lintas udara.

“Banyak penumpang bisnis kini menghindari pesawat karena tidak bisa tetap online selama perjalanan. Mereka butuh konektivitas stabil untuk bekerja, dan itu hanya bisa dipenuhi kereta cepat,” kata Tong Lijun, Wakil Kepala Stasiun Shanghai Hongqiao, dikutip Jiefang Daily.

Selain internet, kereta cepat juga menawarkan kursi yang lega, colokan listrik, serta koneksi langsung pusat kota. Sesuatu yang sulit ditandingi maskapai.

Dilansir via SCMP, meski sempat menghadapi masalah teknis pada awal beroperasi, BeijingShanghai High-Speed Railway kini berubah menjadi mesin uang. 

Pada 2024, jalur ini menghasilkan pendapatan CNH 42 miliar (Rp 95 triliun) dengan laba bersih CNY 12,8 miliar (Rp 29 triliun), meningkat lebih dari 10 persen dibanding tahun sebelumnya.

Setiap hari, lebih dari 100 kereta cepat melayani rute ini dengan formasi 16–17 gerbong, termasuk kelas bisnis dan first class.

Menguntungkan dari sisi darat, lain halnya dengan jalur udara. Dampak kereta cepat Beijing-Shanghai, maskapai penerbangan mulai tersudut walau tetap mengoperasikan sekitar 55 penerbangan harian di rute yang sama. 

Namun, ketergantungan pada cuaca dan lalu lintas udara membuat pesawat kerap mengalami keterlambatan.

Untuk melawan dominasi kereta cepat, maskapai besar seperti China Eastern Airlines dan Air China meluncurkan layanan premium, mulai dari tiket fleksibel antar-maskapai hingga penjemputan limusin bandara. 

Bahkan, perang harga pun tak terelakkan, dengan tiket pesawat di beberapa rute kini lebih murah daripada tiket kereta cepat.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore