
Uji tera di SPBU Pertamina KM 14B, Tol Jakarta-Tangerang, Kota Tangerang Selasa (18/3/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos
JawaPos.com - Konflik antara Israel dan Iran terbukti telah membuat harga minyak mentah dunia ikutan mendidih. Bahkan, sejak awal mula eskalasi pada 13 Juni 2025, minyak mentah Brent tercatat telah naik 13 persen, sementara WTI telah naik sekitar 10 persen.
Tak hanya itu, harga minyak yang melonjak juga terjadi seiring dengan Amerika Serikat (AS) yang ikut serta dalam konflik antara Israel-Iran ini.
Sejumlah pengamat bidang energi dari dalam negeri dan internasional, bahkan memprediksi lonjakan harga minyak mentah bisa tembus di atas USD 100 per barel.
Harga tersebut akan tercapai, salah satunya jika Iran memutuskan untuk membalas serangan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan menutup Selat Hormuz.
Untuk diketahui, Selat Hormuz adalah jalur perdagangan utama yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak mentah global. Termasuk, salah satunya minyak mentah yang di impor Indonesia.
Merespons pertanyaan itu, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menyampaikan dampak dari kenaikan harga minyak mentah ini akan sangat terasa untuk jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) Non Subsidi.
Terlebih, memang untuk BBM jenis tersebut setiap bulan, harganya memang selalu dilakukan evaluasi, disesuaikan dengan fluktuasi harga minyak mentah dunia.
"Jadi kalau terjadi kenaikan, barangkali yang naik secara spontan tadi ya, harga BBM non-subsidi, jenis Pertamax ke atas," kata Fahmy saat dihubungi JawaPos.com, Senin (23/6).
Sementara untuk BBM subsidi, Fahmy menyebut dimungkinkan baru akan mengalami perubahan harga jika harga minyak mentah dunia telah melebihi di atas USD 100 per barel.
Sedangkan, jika harga minyak mentah dunia masih bergerak pada rentang USD 90 - USD 100 per barel, BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar harganya masih akan terus dipertahankan alias tidak naik.
Bukan tanpa alasan, Fahmy menegaskan, keputusan untuk menaikkan harga BBM subsidi di tengah harga minyak mentah yang belum tembus lebih USD 100 per barel akan sangat berdampak besar bagi perekonomian RI.
"Mulai dari menaikkan inflasi dan menurunkan daya beli, nah itu berbahaya juga. Jadi menurut saya kalau masih di bawah USD 100 per barel, atau sekitar USD 90-an misalnya, maka pemerintah sebaiknya tidak menaikkan, karena risiko terlalu besar, meskipun itu menambah beban bagi APBN," pungkasnya.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
