Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 Maret 2025 | 18.16 WIB

Produksi Telur Ayam Ras Capai 6,4 Juta Ton dan Kebutuhan Bulanan Hanya 518 Ribu Ton, Indonesia Bebas dari Eggflation

Pedagang saat merapihkan telur ayam di toko miliknya di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta. - Image

Pedagang saat merapihkan telur ayam di toko miliknya di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta.

JawaPos.com - Di saat sejumlah negara mengalami fenomena eggflation atau harga telur ayam meroket, Kementerian Pertanian (Kementan) bersyukur Indonesia terbebas dari fenomena eggflation ini. Pasalnya, harga telur di Indonesia relatif stabil karena produksi melimpah. 

Untuk diketahui, fenomena eggflation telah membuat harga telur di banyak negara melonjak tajam. Sehingga berdampak pada produk berbasis telur seperti kue kering dan makanan olahan lainnya yang kini mencapai rekor tertinggi.

Mengutip Love Money pada Senin (24/3) lalu, lonjakan harga ini disebabkan oleh berbagai faktor. Termasuk wabah flu burung yang meningkatkan biaya produksi serta krisis pasokan di sejumlah negara.

Di Swiss, misalnya, harga telur per kilogram kini menyentuh USD 6,85 atau sekitar Rp 113.534.

Sementara itu, di Selandia Baru harganya mencapai USD 6,22 atau Rp 103.063, di Singapura USD 3,24 atau Rp 53.687, di Amerika Serikat USD 4,11 atau Rp 68.103, di Prancis USD 4,08 atau Rp 67.606, dan di Australia USD 4,13 atau Rp 68.428.

Namun, di Indonesia, harga telur tetap stabil dengan stok yang terjaga, bahkan melimpah. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan Moch. Arief Cahyono menyatakan bahwa per 25 Maret, harga telur ayam ras nasional berada di angka Rp 29.475 per kilogram. Sementara itu, di DKI Jakarta, harga telur lebih rendah dari rata-rata nasional, yakni Rp27.688 per kilogram.

“Seperti yang sudah disampaikan oleh Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, pemerintah terus menjaga stok dan harga komoditas pangan strategis, termasuk telur," katanya pada Selasa (25/3) malam.

Dia bersyukur berkat kerja keras semua pihak, terutama petani dan peternak, pada Ramadan dan Lebaran kali ini stok dan harga sembilan komoditas pangan strategis dalam kondisi aman. Bahkan melimpah. 

Arief menjelaskan bahwa kondisi peternakan di Indonesia berbeda dengan negara lain karena neraca telur ayam nasional saat ini mengalami surplus.

Berdasarkan proyeksi neraca pangan 2025 yang dihimpun oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas), produksi telur ayam ras saat ini mencapai 6,4 juta ton.

Sedangkan kebutuhan bulanan sekitar 518 ribu ton. Dengan demikian, Indonesia diperkirakan akan terus mengalami surplus.

“Surplus ini menunjukkan kapasitas produksi yang kuat. Kami akan terus memastikan keseimbangan antara pasokan dan harga agar tidak merugikan peternak maupun konsumen,” ujar Arief.

Uniknya, negara-negara eksportir grand parent stock (GPS) ayam ke Indonesia justru mengalami kekurangan pasokan dan harga telur mereka melonjak tinggi.

Amerika Serikat, Prancis, dan beberapa negara Eropa yang selama ini menjadi pemasok utama GPS ke Indonesia kini tengah berjuang menghadapi krisis pasokan. Akibat wabah penyakit unggas dan kenaikan biaya produksi.

Dia menjelaskan bahwa eggflation terjadi di negara-negara yang menjadi sumber impor GPS, seperti Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, termasuk Prancis.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore