
Kegiatan Lari Dari Judol menjadi ajang pata korban judi online (judol) menceritakan pengalamannya. Foto : Humas Kominfo
JawaPos.com - Semakin banyak korban judi online (judol) yang speakup mengutarakan pengalamannya. Para korban judol yang bahkan sampai kecanduan itu, difasilitasi Kementerian Kominfo untuk berbagi pengalaman buruk kepada masyarakat umum. Supaya masyarakat tidak ikut masuk dalam jeratan korban judol.
Diantara korban atau mantan pemain judol yang menyampaikan pengalamannya adalah Rudi. Dia menceritakan awalnya penasaran dengan permainan judol. "Pernah saya depo sampai dua digit (di atas Rp 10 juta). Tapi gak sempat kembali uangnya," kata Rudi dalam keterangannya Selasa (8/10).
Akibatnya dia jadi stress. Bahkan Rudi cenderung lebih suka menyendiri. Tidak mau ketemu orang-orang. "Tapi akhirnya saya bersyukur bisa juga keluar dari lingkaran setan itu," lanjutnya.
Pengalaman Rudi itu, disampaikan dalam gelaran Lari Dari Judol yang digelar di Kota Malang pada Minggu (6/10). Rudi mengatakan, judol menciptakan rasa adiksi yang begitu besar. Karena adanya godaan, promosi, atau cerita-cerita dari kemenangan yang begitu banyak. Hingga akhirnya pemain mengalami kerugian finansial yang begitu besar juga.
Rudi memberikan nasihat kepada para peserta kegiatan terkait pengalaman buruk yang pernah dialaminya. Bahwa judol itu hanyalah godaan setan yang bisa membuat diri sendiri terjebak dengan kebiasaan buruk yang merugikan.
"Pesan dari aku, jangan pernah kalian ikut main judol," tandasnya. Bagi yang sudah kecanduan, sebaiknya cari kegiatan lain yang bisa mengalihkan fokus dari judol. Misalnya berolahraga seperti ini atau kegiatan-kegiatan positif lainnya. Baginya kalau mau jadi kaya atau banyak uang, itu harus bekerja keras. Bukan main judi, baik yang konvensional maupun online.
Pengalam masuk jerat judol juga disampaikan oleh Aldi. Dia mengaku juga merupakan mantan pemain judi online. Menurutnya, lingkungan terdekat menjadi salah satu faktor utama mengapa orang-orang terjerat dalam judi online.
"Aku dulu awalnya betah banget main judol karena pertama dikasih menang banyak terus ya, bahkan bisa dapet keuntungannya 10 kali lipat," katanya. Sampai lama-lama akhirnya dia mengaku rugi atau boncos. Kemudian ingin berhenti tapi tidak bisa. Karena lingkungannya yang mendorong Aldi untuk terus main judol.
Aldi mengatakan, dirinya berhasil berhenti bermain judol karena memberanikan diri untuk memilah kembali circle atau lingkungan terdekatnya. Sehingga mendapatkan dukungan dari orang-orang yang baru. Dia mengaku setelah punya circle baru, pola hidupnya jadi sehat.
"Karena saya dan teman-teman baru saya punya satu tujuan yang sama yaitu mengurangi kegiatan-kegiatan buruk yang bisa merugikan diri sendiri, salah satunya berhenti main judol,” pungkasnya. Berdasarkan data Penanganan Konten Perjudian dari Kemenkominfo, telah terblokir sebanyak 4.474.541 konten terkait perjudian di internet periode tahun 2017 hingga 29 September 2024. Pembersihan ini merupakan upaya Kemenkominfo untuk menekan bertambahnya angka judi online di Indonesia.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
