
Ilustrasi - JLS Trenggalek. ANTARA/Destyan Handri Sujarwoko.
JawaPos.com - Proyek lanjutan Jalur Lintas Selatan (JLS) di Trenggalek yang akan dimulai kembali pada tahun 2024 ini membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) harus berpikir keras.
Pasalnya, Pemkab Trenggalek tak memiliki anggaran yang cukup untuk dapat melanjutkan proyek tersebut. Kini, diketahui hanya tersedia sekitar Rp 500 juta untuk pembebasan lahan giga proyek tersebut.
Padahal, tahun ini rencananya JLS Trenggalek dari Kecamatan Watulimo, akan dilanjutkan ke tahap selanjutnya yakni ke Kecamatan Munjungan dan Panggul. Totalnya panjang lahan yang perlu dibebaskan adalah 42 kilometer.
“Tahun ini kami memiliki anggaran sangat kecil sekali untuk melakukan pembebasan lahan itu, yakni sekitar Rp 500 juta,” ungkap Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Trenggalek, Ramelan, seperti yang dikutip Radar Tulungagung (JawaPos Grup).
Kondisi tersebut, membuat pemkab tidak berani menganggarkan pembebasan lahan JLS dengan dana yang besar. Apalagi, untuk pembebasan lahan tersebut dibutuhkan anggaran sekitar Rp 285 miliar.
“Kami tidak berani memaksakan penganggarannya. Sebab jika dipaksa akan memengaruhi kegiatan atau pekerjaan di sektor lain,” ungkapnya.
Belum lagi rata-rata setiap tahun pendapatan asli daerah (PAD) Trenggalek yang hanya berkisar Rp 314 miliar saja. Jika pembebasan lahan untuk JLS dipaksakan untuk diselesaikan tahun ini, maka PAD Trenggalek hanya tersisa sekitar Rp 29 miliar saja.
Hal ini tentu dapat berpengaruh juga terhadap molornya target penyelesaian JLS. Yang mana dalam rencananya, target pembangunan jalan yang menyambungkan Kabupaten Malang dan Jogjakarta itu harus selesai pada tahun 2029 mendatang.
Melihat kondisi tersebut, pemkab pesimistis target JLS akan selesai pada 2029. Karena jika ingin mencapai target, setidaknya pemkab harus menganggarkan sekitar Rp 80 miliar setiap tahunnya.
Meski dengan segala kemungkinan - kemungkinan terburuk, pemkab tetap akan mengupayakan mempercepat target pembangunan JLS di Trenggalek.
Komitmen itu terbukti, pada semester satu tahun ini, pemkab dikabarkan akan mengupayakan pembebasan lahan milik Perhutani sepanjang 16 kilometer.
Ruas yang dibebaskan berada antara Pantai Cengkrong, Kecamatan Watulimo, hingga Pantai Ngampiran, Kecamatan Munjungan. Diketahui, untuk proses pembebasan lahan tersebut, dibutuhkan anggaran sekitar Rp 5 miliar sampai Rp 10 miliar.
Menurut Ramelan ruas jalan itu masih bisa diusahakan karena lahan tersebut milik Perhutani dan tidak membutuhkan anggaran besar. Sebab, sistem yang digunakan adalah pinjaman pakai. Proses yang dibutuhkan pun hanya proses administrasi, pengukuran, pemasangan patok, dan lain sebagainya.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
