JawaPos.com - Kereta api Brantas yang menabrak truk di perlintasan Jalan Madukoro Raya, Semarang pada Selasa (18/7) merupakan kecelakaan kesekian kalinya yang melibatkan kereta api.
Kecelakaan kereta api di perlintasan seringkali terjadi saat pengendara kendaraan nekad menerobos atau terhenti di tengah rel. Ketika kondisi seperti itu, kereta api sulit menghindari tabrakan karena tidak bisa berhenti secara mendadak.
Dilansir dari akun Twitter resmi PT Kereta Api Indonesia (KAI), ada sejumlah faktor yang membuat masinis kereta api tidak bisa melakukan pengereman secara mendadak, antara lain panjang dan berat kereta api.
Rangkaian kereta api di Indonesia rata-rata terdiri dari delapan sampai 12 gerbong dengan berat lebih dari 600 ton. Maka, semakin panjang dan berat rangkaian kereta api, semakin besar tenaga yang dibutuhkan untuk mengerem.
Dengan fakta tersebut, tidak heran jika petugas perlintasan rel sudah menutup palang pintu saat kereta masih tampak dari kejauhan. Ketika palang pintu sudah menutup, demi keamanan semua pihak, maka pengendara dilarang menerobos.
Selain itu kecepatan kereta api juga mempengaruhi pengereman. Semakin cepat laju kereta, maka semakin panjang jarak pengereman. Faktor lainnya adalah kemiringan rel, presentase gaya pengereman, jenis kereta api barang atau penumpang, serta cuaca.
Sebagai informasi, jenis rem yang digunakan pada kereta api di Indonesia adalah rem udara. Cara kerjanya adalah udara dimampatkan ke dalam suatu penyimpanan.
Ketika sistem rem diaktifkan, udara disalurkan ke pipa-pipa kecil di sepanjang roda hingga terjadi gesekan sampai membuat roda kereta berhenti.
Sementara itu, rem darurat juga tidak bisa membuat kereta api berhenti mendadak, melainkan hanya untuk menambah energi dan tekanan dalam mengerem.
Pengereman kereta api dilakukan dengan tekanan udara. Jika rem dilepas tiba-tiba atau rem mendadak, maka terjadi selisih waktu antara pengereman dan keluarnya udara. Akibatnya, rangkaian kereta akan tergelincir dan terguling.
Berikut adalah simulasi jarak yang dibutuhkan lokomotif untuk berhenti, dengan menggunakan contoh kereta api di Daerah Operasi (DAOP) 8 Surabaya:
Kecepatan 120 km/jam
Jarak berhenti 860 meter
Kecepatan 110 km/jam
Jarak berhenti 750 meter
Kecepatan 100 km/jam
Jarak berhenti 505 meter
Kecepatan 90 km/jam
Jarak berhenti 480 meter