alexametrics

Selain Serpihan Pesawat, Tim SAR Deteksi Kotak Hitam di Dalam Lumpur

Bodi Lion Air Belum Diketahui
1 November 2018, 09:05:28 WIB

JawaPos.com – Pencarian kotak hitam (black box) pesawat Lion Air PK-LQP yang mengalami kecelakaan Senin (29/10) mulai menemukan titik terang. Kemarin (31/10) empat kapal yang dilengkapi peralatan side scan sonar, multibeam echosounder, serta remotely operated vehicle (ROV) sudah bisa mendeteksi kotak hitam melalui bunyi ping yang memang terpancar dari alat tersebut.

“Sekitar jam 3 tadi (kemarin, 31/10) kira-kira terdengar ping-nya,” ujar Kepala Basarnas Muhammad Syaugi.

Dia baru turun dari KRI I Gusti Ngurah Rai setelah meninjau lokasi evakuasi kemarin. Syaugi bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sejak pagi memantau langsung pencarian korban, kotak hitam, dan bodi Lion Air.

Selain Serpihan Pesawat, Tim SAR Deteksi Kotak Hitam di Dalam Lumpur
KRI Banda Aceh 593 yang dikerahkan TNI AL untuk melakukan pencarian bangkai pesawat Lion Air JT 610. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Syaugi memperkirakan lokasi kotak hitam itu sekitar 400 meter barat laut dari lokasi perkiraan awal hilang kontak. Kedalamannya sekitar 32 meter di bawah permukaan laut. Tapi, posisi yang telah diketahui tersebut harus dipastikan terlebih dahulu dengan ROV. Masalahnya, arus laut kemarin begitu deras, sekitar 3-4 knot, sehingga menyulitkan ROV dan penyelam untuk turun ke bawah laut. Kapal yang membawa ROV juga bergeser. “Kapal yang membawa peralatan tersebut dengan ROV itu harus lego jangkar,” ungkap Syaugi.

Tapi, selain arus yang kencang di sekitar lokasi pencarian tersebut, ada pipa bawah laut Pertamina. Sudah ada koordinasi dengan pihak Pertamina untuk meminta izin agar kapal-kapal pencari itu bisa menurunkan jangkar. “Tadi Pangarmada sudah menelepon kepada pihak berwenang untuk bisa menurunkan jangkar,” imbuh Syaugi.

Dalam pencarian kemarin, beberapa objek memang sempat terdeteksi dari peralatan yang terpasang di empat kapal pencari. Yakni kapal Basarnas, KRI Rigel, kapal Baruna Jaya I milik BPPT, dan kapal Pertamina. Setelah didatangi penyelam, objek yang terdeteksi itu ternyata kapal kayu yang terbalik, rangka kapal, dan bubu sepanjang 16 meter.

Selain itu, dalam pencarian ditemukan serpihan-serpihan bangkai pesawat. Tapi, belum ditemukan bagian pesawat yang cukup besar. Saat mendeteksi serpihan-serpihan itulah, terdektesi ping locator. “Black box itu ada ping yang bisa berbunyi. Kita berdua (Syaugi dan Hadi Tjahjanto, Red) mendengarkan itu, tit tit tit, suara itu terdengar.”

Hadi mengaku mendengar langsung bunyi tersebut. Kata dia, terdengar dua bunyi ping. Yang satu agak keras, sedangkan yang lainnya lebih lemah. “Itu adalah bagian black box. Mungkin yang satunya tertutup dengan lumpur dan sebagainya. Tapi, yang jelas, suara itu ada. Sifatnya, semakin dekat semakin kencang,” ungkap dia.

Selain itu, Hadi melihat sendiri dari hasil pantauan ROV bahwa ada majalah yang terbuka sendiri. Majalah itu bergerak saat didekati ROV. Diperkirakan, majalah yang biasa tersedia di dalam pesawat itu baru saja terlepas dari tempatnya. Hal itu menandakan bahwa lokasinya berdekatan dengan badan pesawat yang lebih besar.

Hadi menjelaskan, tim pencari akan berfokus pada satu titik pencarian. Hanya perlu lego jangkar setelah mendapatkan izin dari Pertamina. Langkah selanjutnya ialah mengangkat badan pesawat. Hadi pun sudah mempersiapkan operasi pengangkatan badan pesawat tersebut.

“Saya sudah mendapatkan izin dari menteri ESDM supaya kita bisa mendapatkan buck crane supaya bisa angkat bodi pesawat itu dengan berat lebih dari 80 ton, bisa sampai 100 ton. Mudah-mudahan segera,” harap dia.

Sementara itu, untuk menindaklanjuti adanya sinyal kotak hitam tersebut, dilakukan penelusuran oleh para penyelam dari TNI-AL dan Basarnas. Titik serpihan dengan lokasi yang diduga kotak hitam berjarak sekitar 15 km. “Saat ini penyelam terkendala kondisi dasar laut yang berlumpur,” kata Deputi Teknologi Sumber Daya Alam BPPT Hammam Riza. Selain itu, tingkat visibilitas di dasar laut terbatas dan arus dasar laut lumayan kencang.

Lebih lanjut Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT M. Ilyah menjelaskan secara terperinci koordinat sinyal black box tersebut. Yakni, berada di koordinat S 05 48.051-E 107 07 37.622 dan pada koordinat S 05 48 46 .545-E 107 07 38.398. Sinyal ping dari kotak hitam itu tertangkap oleh perangkat transponder USBL (ultra-short baseline) Baruna Jaya 1. “Sinyal menunjukkan berada pada kedalaman hampir 30 meter di dasar laut,” kata Ilyas yang ikut berada di kapal Baruna Jaya I.

Ilyas menceritakan sejak kemarin pagi menurunkan perangkat ping locator untuk melacak sinyal kotak hitam. Perangkat ping locator itu digunakan untuk mendukung perangkat transponder USBL yang akhirnya mendeteksi sinyal kotak hitam.

Rencananya, setelah sinyal ping dari kotak hitam itu ditemukan, tim akan menerjunkan perangkat remotely operated vehicles (ROV). Perangkat ROV tersebut digunakan untuk mendapatkan visual di bawah laut. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (jun/syn/wan/c9/agm)

Copy Editor :

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Selain Serpihan Pesawat, Tim SAR Deteksi Kotak Hitam di Dalam Lumpur