alexametrics

Jokowi Beri Sinyal Terima Kubu Sebelah

1 Juli 2019, 10:34:21 WIB

JawaPos.com – Pilpres memang telah usai. Namun, bagi kalangan parpol, pertarungan belum berakhir. Mereka kini sibuk mengatur strategi untuk mendapatkan “jatah” di pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Isu tersebut semakin panas karena Jokowi dikabarkan akan mengakomodasi tokoh parpol pendukung Prabowo-Sandi.

Sinyal bahwa Jokowi akan menerima kubu sebelah tampak dalam pidatonya kemarin. “Saya mengajak Pak Prabowo Subianto dan Pak Sandiaga Uno untuk bersama-sama membangun negara ini,” ucap Jokowi.

Presiden terpilih 2019-2024 itu menyampaikannya dengan nada datar sehingga sulit menebak arahnya. Penjelasan lebih konkret baru didapat ketika Jawa Pos menanyakan saat sesi konferensi pers.

Apakah Jokowi akan mengajak gerbong Prabowo-Sandi ke dalam koalisi pemerintahan maupun parlemen? Menurut Jokowi, untuk menuju ke arah tersebut, dirinya masih perlu waktu. “Karena saya pun harus mengajak berbicara untuk yang sudah ada di dalam, yaitu Koalisi Indonesia Kerja,” terangnya.

Pernyataan itu langsung disambut tepuk tangan para wakil parpol pendukungnya yang ada di sekitarnya. Wajah mereka tampak semringah. Namun, Jokowi menegaskan bahwa dirinya terbuka kepada siapa pun yang ingin bersama-sama memajukan Indonesia. “Bersama-sama membangun negara ini,” lanjutnya.

Disinggung soal rencana bertemu dengan Prabowo, Jokowi justru membalik pertanyaan itu. Mantan gubernur DKI Jakarta tersebut meminta wartawan bertanya kepada Prabowo kapan mau bertemu dengannya.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan, sekarang istilahnya sudah bukan lagi koalisi pemenangan. “Tapi sebuah kerja sama dalam rangka terwujudnya janji-janji kampanye presiden untuk kemajuan Indonesia,” ujarnya.

Jika dibandingkan dengan Pemilu 2014, terang Hasto, saat ini koalisi pemerintah jauh lebih baik dan stabil. Sebab, dukungan di parlemen mencapai 61 persen. Apalagi, sudah tidak ada polemik karena UU MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3) memastikan bahwa pemenang pileg akan mendapat kursi ketua DPR. Kondisi itu menjadikan konfigurasi politik jauh lebih stabil.

Warga Ibu Kota Jakarta membagikan mawar kepada publik menjelang penetapan presiden dan wakil presiden terpilih oleh KPU. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

Bagaimanapun, tutur Hasto, perlu ada pihak di luar pemerintahan untuk ikut menyehatkan kualitas demokrasi. Sampai saat ini komunikasi antarpartai pun tetap berjalan, khususnya di parlemen.

Sebagai parpol pendukung utama Jokowi, pihaknya yakin struktur kabinet pemerintahan ke depan lebih berbasis kualifikasi. Namun, parpol koalisi yang sudah bersama sejak pencalonan tentu akan ikut menempatkan kadernya di kabinet. “Tetapi, itu hak prerogatif presiden,” lanjutnya.

Bila dikaitkan dengan parpol di luar pemerintahan, selama ini Jokowi termasuk orang yang fleksibel. Pihak-pihak yang ada di luar pemerintahan juga rutin diajak berdialog. “Dialog dengan Gerindra, dengan Demokrat, jangan terlalu cepat dimaknai sebagai bagi-bagi kursi menteri,” tambahnya.

Terpisah, pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio menyayangkan bila sampai koalisi pemerintah ke depan semakin gemuk. Dengan menambah gerbong koalisi dari parpol pendukung Prabowo-Sandi. “Bisa terjadi Orde Baru jilid dua,” ucapnya.

Sebab, bila semua parpol masuk koalisi pemerintah, tidak ada yang akan mengkritisi jalannya pemerintahan. Lagi pula, tutur Hendri, menambah parpol koalisi akan berat untuk Jokowi-Ma’ruf. “Karena memang DNA-nya berbeda. Apalagi PKS dengan pemerintahan Pak Jokowi ini,” lanjutnya.

Namun, bisa saja beberapa parpol seperti Demokrat dan PAN masuk, tentu dengan satu syarat. Jokowi harus mampu meyakinkan partai pendukungnya bahwa bergabungnya dua parpol itu adalah yang terbaik bagi bangsa.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (byu/c9/oni)



Close Ads