JawaPos.com - Setelah Longlegs dan The Monkey yang rilis masing-masing pada 2024 dan awal 2025, sutradara Osgood Perkins kembali membawa karya horor supernaturalnya ke layar lebar lewat film berjudul Keeper.
Sama seperti film-film karyanya terdahulu, Keeper hadir dengan suguhan horor yang betul-betul menguji dan menyiksa psikis secara perlahan namun pasti. Sayang, film ini juga masih membawa satu elemen negatif yang juga terdapat di film-film terdahulunya.
Berdurasi selama 99 menit, Keeper bercerita tentang seorang perempuan bernama Liz (Tatiana Maslany) yang diajak pergi berlibur dengan kekasihnya, dr. Malcolm westbridge (Rossif Sutherland) ke sebuah kabin terpencil di tengah hutan.
Liburan yang semestinya menyenangkan itu perlahan menjadi sebuah teror setelah Liz mengalami sejumlah kejadian aneh: Pengelihatan tentang perempuan-perempuan yang berlumuran darah, sesosok wanita hamil yang berwajah identik dengan dirinya, hingga memakan sebuah kue dengan jari dan daging manusia di dalamnya.
Situasi juga semakin membingungkan karena Malcolm dan adiknya, Darren (Birkett Turton) yang tinggal tak jauh dari kabin tersebut, menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan.
Liz pun akhirnya menemukan sendiri jawaban atas keanehan-keanehan tersebut. Keanehan yang berkaitan dengan sebuah peristiwa memilukan nan keji dan tersimpan rapat selama ratusan tahun di dalam kabin tersebut.
Dengan jumlah lakon yang sangat sedikit di film ini, Osgoon Perkins berhasil menghadirkan susana menyeramkan yang betul-betul membuat gelisah. Tanpa menghadirkan jump scare murahan disertai efek suara yang mengentak, Keeper adalah sebuah karya yang mampu menawan para penontonnya sejak awal hingga akhir film.
Namun, seperti yang sudah dijelaskan di atas, Keeper memiliki sebuah nilai minus yang juga diterapkan Perkins di film-film terdahulunya: plot hole yang bertebaran.
Sama seperti Longlegs dan The Monkey, Keeper juga menyisakan banyak celah dan pertanyaan tak terjawab yang mengganggu alur film. Pola ini mungkin digunakan Perkins untuk membebaskan daya imajinasi penonton akan filmnya.
Namun, hingga titik tertentu, plot hole yang ada sudah pada taraf betul-betul mengganggu karena memengaruhi jalan cerita dan ekspektasi penonton.
Sebagai satu contoh, Darren yang seharusnya bisa ikut memegang peranan penting dalam membangun mood cerita tiba-tiba dihilangkan begitu saja di tengah film tanpa penjelasan gamblang. Yang tersisa dari Darren hanya jam tangannya di dalam wastafel, tanpa darah, tanpa suara, tanpa bekas apapun.
Tanpa menghadirkan spoiler, jika memang ingin membebaskan persepsi penonton bahwa Darren dibunuh oleh salah satu makhluk penunggu kabin tersebut, maka hal ini hanya akan menimbulkan satu plot hole ke plot hole lainnya yang juga akan sulit dijawab.
Parahnya, plot hole Keeper tidak hanya di situ saja. Jika satu plot hole saja sudah sangat semengganggu itu, bisa dibayangkan bagaimana plot hole lainnya akan merusak rangkaian film yang sebetulnya berpotensi menjadi salah satu nomor horor terbaik tahun ini.
Secara keseluruhan, Keeper adalah film yang cukup menghibur bagi penggemar horor. Bagi yang sudah terbiasa dengan film-film karya Osgood Perkins, film ini mungkin bisa lebih punya nilai tambah meskipun terdapat plot hole di mana-mana.