JawaPos.com – Albus Dumbledore dikenal sebagai sosok penyihir paling bijak, kuat, dan penuh teka-teki dalam dunia sihir Harry Potter.
Namun, tidak sedikit penggemar yang mempertanyakan tindakan, keputusan, dan kebijakannya selama cerita berlangsung. Sosok Dumbledore kerap digambarkan tahu segalanya, tetapi juga tampak lalai terhadap banyak hal penting.
Terlepas dari wibawanya, berbagai ketidakkonsistenan dalam karakter Dumbledore menimbulkan kritik tajam, terutama mengenai perannya terhadap Harry Potter dan dampaknya terhadap dunia sihir secara keseluruhan.
Dilansir dari laman Comic Book Resources pada Rabu (2/7), berikut 10 Teka-teki karakter Albus Dumbledore dalam film Harry Potter yang banyak memunculkan kontroversi.
1. Dumbledore Tidak Pernah Disanksi Meski Melawan Kementerian Sihir
Albus Dumbledore sering kali bertindak menentang keputusan Kementerian Sihir, namun hampir tidak pernah menghadapi konsekuensi serius.
Bahkan ketika ia dinyatakan menyebarkan informasi palsu tentang kembalinya Voldemort, ia tetap menjabat sebagai Kepala Sekolah Hogwarts. Hal ini menunjukkan adanya perlakuan istimewa atau kelalaian dari pihak kementerian.
2. Pengetahuan Dumbledore tentang Kamar Rahasia Dipertanyakan
Dumbledore hidup saat insiden Kamar Rahasia pertama kali terjadi, namun ia tampaknya tidak berusaha keras mengungkap misteri tersebut. Ia mengetahui latar belakang Tom Riddle dan kemampuan Parseltongue yang langka, namun gagal menghubungkannya dengan peristiwa teror di sekolah.
Hal ini menunjukkan kemungkinan pengabaian atau kurangnya tindakan dari tokoh yang seharusnya paling memahami situasi.
3. Dumbledore Dinilai Lalai Tinggalkan Harry pada Keluarga Dursley
Setelah kematian orangtua Harry, Dumbledore memutuskan menempatkan bayi itu pada keluarga Dursley. Ia berdalih bahwa darah keluarga akan melindungi Harry dari bahaya sihir gelap. Namun keluarga Dursley dikenal memperlakukan Harry dengan buruk.
Keputusan ini membuat banyak penggemar mempertanyakan apakah ia benar-benar peduli pada kesejahteraan Harry atau hanya melihatnya sebagai bagian dari rencana besar.
4. Albus Dumbledore Membiarkan Snape Menindas Siswa di Hogwarts
Profesor Severus Snape secara konsisten digambarkan bersikap kasar dan merendahkan siswa-siswa yang bukan dari asrama Slytherin. Ia menghina Hermione karena terlalu pintar, mempermalukan Neville Longbottom karena ketakutannya, dan tentu saja sering berselisih dengan Harry.
Sikap diam Dumbledore terhadap pengajaran yang merusak ini bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh seorang kepala sekolah. Ia tampak lebih mementingkan loyalitas Snape daripada kesejahteraan siswa.
5. Dumbledore Menolak Jabatan Politik, Tapi Gagal Lindungi Dunia Sihir
Alasan utama Dumbledore menolak menjadi Menteri Sihir adalah kekhawatirannya terhadap nafsu kekuasaan. Namun kenyataannya, penolakannya tersebut membuat dunia sihir kekurangan pemimpin visioner saat ancaman Voldemort menguat kembali.
Dengan menolak tanggung jawab politik, ia justru membiarkan sistem yang rapuh terus berjalan dan menyebabkan lebih banyak korban saat Voldemort kembali berkuasa.
6. Dumbledore Menugaskan Orang yang Salah untuk Menjaga Harry
Dalam Orde Phoenix, Dumbledore menugaskan Mundungus Fletcher, seorang penyihir yang tidak dapat diandalkan, untuk menjaga keselamatan Harry. Fletcher dikenal sebagai pencuri dan pengecut, namun Dumbledore tetap memberinya tanggung jawab besar.
Akibatnya, Harry pernah hampir ditangkap saat Fletcher meninggalkan posnya. Padahal ada banyak anggota Orde Phoenix lain yang lebih layak dan bisa dipercaya untuk menjaga keselamatan Harry, seperti Remus Lupin atau Tonks.
7. Kurangnya Pengawasan Dumbledore di Hogwarts
Dumbledore tampaknya selalu mengetahui hal-hal yang sangat rahasia seperti Pasukan Dumbledore, namun gagal menyadari ancaman nyata di sekolah. Ia tidak menyadari bahwa Quirrell adalah pelayan Voldemort, atau bahwa Peter Pettigrew bersembunyi sebagai tikus Ron selama bertahun-tahun.
Ia juga tidak tahu tentang identitas palsu Alastor Moody yang dikendalikan Barty Crouch Jr. dengan Ramuan Polijus. Semua ini menunjukkan bahwa pengawasan Dumbledore di lingkungan Hogwarts tidak seefektif yang selama ini diasumsikan.
8. Dumbledore Dinilai Menelantarkan Harry Secara Emosional
Setelah kembalinya Voldemort, Harry merasa sangat kesepian dan bingung karena tidak mendapatkan dukungan emosional dari Dumbledore. Selama musim panas, Harry tidak menerima satu pun kabar dari dunia sihir, termasuk dari kepala sekolahnya.
Bahkan ketika Harry menghadapi pengadilan di Kementerian Sihir, Dumbledore menolak menatap matanya. Dumbledore beralasan bahwa ia takut sisi Voldemort dalam diri Harry dapat mengganggunya, namun alasan ini tidak cukup membenarkan tindakan penelantaran emosional terhadap anak yang terluka.
9. Identitas Seksual Dumbledore Diabaikan dalam Cerita
JK Rowling mengonfirmasi bahwa Dumbledore adalah penyihir gay dan pernah mencintai Grindelwald. Namun seri utama maupun spin-off seperti Fantastic Beasts tidak secara eksplisit menunjukkan aspek ini dalam alur cerita.
Kurangnya representasi ini menimbulkan pertanyaan apakah waralaba sengaja menghindari penggambaran LGBTQ+ demi menjaga pasar. Hal ini membuat pengembangan karakter Dumbledore terasa tidak utuh dan kehilangan dimensi penting dalam narasi hidupnya.
10. Dumbledore Tidak Memberi Informasi Lengkap tentang Relikui Kematian
Saat mengajarkan Harry tentang Voldemort dan Horcrux, Dumbledore sama sekali tidak menjelaskan apa itu Relikui Kematian, padahal ia sendiri memegang dua di antaranya: Tongkat Elder dan Batu Kebangkitan.
Alih-alih menjelaskan langsung, ia hanya meninggalkan petunjuk melalui teka-teki dan buku cerita anak.
Hal ini menyebabkan Trio Emas hampir kehilangan nyawa beberapa kali dalam usaha mengungkap makna petunjuk yang tidak jelas. Padahal waktu itu sangat berharga untuk menyelesaikan misi melawan Voldemort.