← Beranda
'Lord of The Rings: The War of The Rohirrim': Spin-off Bergaya Anime yang 'Meh'
Banu AdikaraSenin, 16 Desember 2024 | 14.49 WIB
Adegan dalam film Lord of The Rings: The War of The Rohirrim. (Istimewa)

JawaPos.com - Sebuah film yang mendapat apresiasi luar biasa dari publik di seluruh dunia biasanya akan memberikan beban besar untuk film-film berikutnya yang terafiliasi dengan judul yang sama. Suka tidak suka, mau tidak mau, ajang perbandingan pasti akan terjadi. Apalagi, jika suksesornya dianggap tidak memiliki kualitas yang setara dengan pendahulunya.

Hal ini yang kurang lebih terjadi pada Lord of The Rings: The War of The Rohirrim. Dari sudut pandang pribadi, film ini seolah-olah hanya seperti proyek mencari cuan Warner Bros dengan embel-embel keagungan franchise Lord of The Rings yang disajikan dengan plot sangat lemah dalam balutan animasi.

Lord of The Rings: The War of The Rohirrim merupakan spin-off dari trilogi Lord of The Rings yang digarap dalam konsep anime dan disutradarai oleh sineas Jepang, Kenji Kamiyama yang sudah bukan sosok baru dalam dunia anime. PatlaborJin Roh: The Wolf Brigade, Ghost In The Shell: Stand Alone Complex - Solid State Society, dan Ultraman adalah contoh judul anime apik yang pernah ditukangi olehnya.

Sayang, jam terbangnya tersebut kali ini belum bisa membuat Lord of The Rings: The War of The Rohirrim menjadi sebuah film animasi yang menggugah hati.

Lord of The Rings: The War of The Rohirrim mengambil latar konflik di Kerajaan Rohan, 183 tahun sebelum event Lord of The Rings. Peperangan dipicu ketika Hera (Gaia Wise), putri Raja Rohan Helm Hammerhand (Brian Cox), menolak dipersunting oleh pangeran suku Dunlending, Wulf (Luke Pasqualino).

Penolakan Hera kemudian berujung pada terbunuhnya ayah Wulf, Freca (Shaun Dooley) di tangan Helm Hammerhand. Wulf pun kemudian bersumpah menuntut balas kepada Hera dan bertekad memusnahkan Rohan.

Bertahun-tahun kemudian, Wulf yang kini sudah ditahabiskan sebagai pemimpin kaum Dunlending pun melancarkan aksi jahatnya. Hera pun harus berjuang menghentikan Wulf demi keselamatan Rohan dan para penduduknya.

Berdurasi selama 134 menit, Lord of The Rings: The War of The Rohirrim sebetulnya menyuguhkan film animasi yang cukup memanjakan mata. Desain karakter yang apik dan pemandangan Middle-Earth dalam bingkai anime cukup berhasil menggambarkan betapa misterius dan indahnya dunia Lord of The Rings.

Sayangnya, hal ini tetap tidak bisa menyelamatkan kualitas film ini lantaran plotnya yang kelewat dangkal dan 'malas'. Ceritanya begitu tertebak. Bahkan nama Helm Hammerhand yang kelak diadopsi menjadi nama benteng pertahanan Rohan yang begitu ikonik di film Lord of The Rings: The Two Towers, Helm's Deep sudah bisa diterka sejak awal.

Pemilihan karakter antagonis juga menjadi masalah utama dalam film ini. Alih-alih menghadirkan orc atau goblin yang notabene merupakan ras antagonis utama di Middle-Earth, Kenji Kamiyama justru menyuguhkan Wulf yang tidak memiliki kekuatan spesial apapun.

Padahal, dengan konsep anime, Kenji Kamiyama dan Warner Bros semestinya bisa memaksimalkan deretan desain monster menyeramkan yang jelas akan lebih menarik dan memikat mata ketimbang menyuguhkan pria tantrum yang patah hati. Alhasil, Lord of The Rings: The War of The Rohirrim akhirnya menjadi sebuah film animasi yang tidak spesial lantaran musuhnya yang sama sekali tidak spesial.

Secara keseluruhan, Lord of The Rings: The War of The Rohirrim bukanlah film yang buruk. Film anime ini tetap layak ditonton mengingat Anda tidak perlu mengikuti trilogi Lord of The Rings terlebih dahulu untuk memahami isi ceritanya.

Hanya saja, jika Anda adalah penggemar berat franchise Lord of The Rings, buang jauh-jauh ekspektasi film ini bakal epik. Walau mencoba tampil beda dengan digarap dalam konsep anime, kualitas cerita dan penokohan karakter di dalamnya pada akhirnya hanya membuat film ini biasa saja.

"Meh".

EDITOR: Banu Adikara