JawaPos.com – Film Gadis Kretek yang mulai tayang di Netflix pada tanggal 2 November 2023 lalu mendapat sorotan khusus dari masyarakat.
Ramai dibicarakan di twitter maupun di sosial media lainnya, film atau series gadis kretek ini mendapatkan banyak pujian.
Mulai dari cinematic yang mengagumkan dari awal episode sampai ke 5 episode yang ditayangkan, sampai alur cerita historical yang proporsional.
Seperti postingan yang dirangkum pada akun twitter @arjasungirl di unggahan tentang film gadis kretek di akun @moviemenfes “ini tuh proporsinya pas, eksekusinya enggak pelit, jadi kelihatan totalitas,” tulisnya.
Selain cerita dan filmnya yang memukau banyak netizen Indonesia. Di dalam series ini terdapat beberapa hal yang menarik.
Salah satunya adalah baju kebaya yang dipakai oleh sang artis Dian Sastrowardoyo atau yang menjadi salah satu tokoh yang bernama Jeng Yah.
Jeng yah merupakan anak seorang pemilik pabrik rokok yang terkenal di daerah M atau di Desa Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.
Di dalam adegan film Gadis Kretek, baju tradisional yang dipakai oleh Jeng Yah merupakan baju yang memiliki nama Kebaya Janggan.
Dilansir dari website Kebaya goes to UNESCO (tradisi kebaya), Kebaya Janggan hitam merupakan kebaya yang selalu dipakai oleh salah satu tokoh perempuan Indonesia.
Tokoh perempuan yang dimaksud adalah seorang istri dari Pangeran Diponegoro yaitu Ibu Ratna Ningsih yang selalu setia mendampingi Pangeran Diponegoro saat berperang.
Yang menarik adalah, sembari memakai Kebaya Janggan hitam, Istri dari sang Tokoh Pahlawan ini juga selalu menyelipkan Patrem, yakni senjata keris putri yang biasa ditaruh di balik kebaya.
Kebaya Janggan merupakan jenis baju kebaya, namun bentuknya mirip dengan Surjan milik laki-laki yang kancingnya berada pada sebelah kiri tubuh.
Dan di bagian kancingnya, panjang sampai menutupi leher. Kebaya Janggan ini memiliki warna yang khas, yaitu harus berwarna hitam.
Karena warna hitam di sini digambarkan sebagai karakter yang memiliki ketegasan, kesederhanaan, kedalaman, dan sifat keputrian yang suci dan bertakwa.
Janggan sendiri berasal dari kata Jangga, artinya leher yang ternyata melukiskan ke-Ilahi-an, keindahan dan kesucian kamu perempuan keraton dan perempuan Jawa.
Jika dilansir dari website Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Janggan yang berwarna hitam boleh polos atau pun bermotif kembang batu.
Namun ternyata, tidak semua kain boleh digunakan untuk membuat Kebaya Janggan hitam ini. Untuk kain berbahan brokat tidak diperkenankan untuk dijadikan bahan Kebaya Janggan.
Di keraton, Kebaya Janggan ini merupakan baju sehari-hari yang biasa dipakai oleh pada abdi dalem. Dan juga baju yang diapakai pada saat upacara.
Namun, pada saat Hajad Dalem Ngabekten tidak semua abdi dalem putri boleh memakai Janggan hitam.
Seperti Abdi Dalem Keparak berpangkat magang dan jajar belum diperkenankan memakai Janggan hitam, karena hanya duduk dan tidak melakukan sungkem.