← Beranda

A Haunting in Venice, Aksi Ketiga Hercule Poirot: Malam Mencekam di Palazzo Drake

Fahmi SamastutiMinggu, 17 September 2023 | 21.18 WIB
A Haunting in Venice.

Perayaan malam Halloween berubah jadi petaka di Venesia. Kematian misterius terjadi di palazzo terkutuk, yang dulunya adalah panti asuhan. Hercule Poirot pun harus memecahkan tragedi teka-teki itu. Apakah kematian tersebut karena kutukan atau pembunuhan?

---

SETENGAH hati, Hercule Poirot (Kenneth Branagh) meninggalkan masa pensiunnya yang tenang di Venesia. Dia dipaksa menangani kasus yang ditawarkan sahabatnya, Ariadne Oliver (Tina Fey). Oliver menyodorkan misteri kematian Alina Drake (Rowan Robinson), putri dari keluarga kaya yang tinggal di sebuah palazzo tua di tepian sungai.

Alina meninggal seusai melompat ke sungai. Sebelum meninggal, kondisinya drop setelah pertunangannya dibatalkan Maxime (Kyle Allen). Dia juga sempat dirawat Dr Leslie Ferrier (Jamie Dornan), seorang dokter mantan tentara yang memiliki masalah mental dan sangat bergantung kepada Leopold (Jude Hill), putra satu-satunya.

Rowena (Kelly Reilly), ibu Alina, yakin, jiwa putrinya masih ada di palazzo itu. Maka, di malam Halloween, dia mengadakan pesta meriah. Dia mengundang panti asuhan untuk permainan dan jamuan makan malam.

Poirot dan Oliver turut hadir. Di malam itu pula, Rowena memanggil arwah Alina. Paranormal Joyce Reynolds (Michelle Yeoh), yang tertarik pada aura misterius rumah tersebut, datang untuk ’’menghadirkan” mendiang putrinya.

Tapi, pesta itu ditutup dengan petaka. Seluruh tamu cilik dipulangkan lebih awal. Prosesi pemanggilan arwah berubah menjadi mimpi buruk. Roh Alina menumpahkan kemarahannya kepada seluruh tamu, tak terkecuali Maxime, sang mantan tunangan. P

oirot, yang tak percaya klenik dan sempat menentang Joyce, perlahan goyah. Sebab, Alina seakan memberi isyarat tentang kebenaran di balik kematian. Perayaan Halloween jadi malam mencekam bagi tamu di palazzo Drake.

A Haunting in Venice merupakan film ketiga dari semesta film Hercule Poirot, adaptasi novel karya Agatha Christie. Proyek tersebut memasukkan elemen supranatural dan thriller, berbeda dengan dua film terdahulu yang benar-benar mengikuti alur buku.

Tim produksi juga menyiapkan plot twist dengan apik. Film itu pun ampuh menghidupkan lagi kisah misteri pembunuhan di layar lebar.

Dalam wawancara di CinemaCon 2023 pada Maret lalu, sutradara sekaligus pemeran utama Kenneth Branagh mengakui, A Haunting in Venice merupakan salah satu proyeknya yang dibuat menakutkan. Namun, dia menyatakan, ceritanya bukan horor. Bagi dia, seram bisa dikemas dalam beragam genre.

’’Ini adalah kisah yang bakal membuatmu terduduk tegang, tapi tetap seru ditonton beramai-ramai di bioskop,” ungkap sineas pemenang Naskah Orisinal Terbaik Oscars 2021 tersebut.

Karena itu, menurut dia, penggambaran Venesia di A Haunting in Venice tidak gotik atau kelam layaknya di film-film serupa. ’’Lokasinya mencekam, tapi tetap indah dan misterius,” tegas Branagh.

Produser eksekutif James Pichard mengungkapkan, A Haunting in Venice sebenarnya merupakan momen ’’perjudian”. Sebab, tim produksi mengambil risiko dengan menghadirkan hal baru di sebuah franchise.

’’Kalau ingin semesta film ini terus berjalan, kami tak bisa terus-terusan menggunakan pendekatan yang sama,” ujarnya dalam wawancara dengan The Direct.

Pichard mengapresiasi penulis naskah Michael Green yang cermat bermain dengan banyak elemen baru dalam cerita. Dia mengakui, mengadaptasi cerita dari media berbeda cukup sulit. Apalagi jika adaptasi dilakukan terhadap karya fenomenal.

’’Tapi, Green paham. Dari draf pertama, rasanya seluruh hal terasa pas dan benar. Cuma ada sedikit revisi,” imbuh Pichard.

Terkait penulisan cerita, Green menyatakan, dirinya berusaha menghadirkan pembaruan, tanpa menghilangkan esensi Hallowe’en Party, yang jadi basis cerita. Pria yang menulis Logan itu justru memasukkan beberapa hal dari The Last Séance, salah satu kumpulan cerita pendek Christie. Dia menilai, dua cerita tersebut masih punya DNA sama.

’’The Last Séance benar-benar menakutkan, sementara A Haunting in Venice mewakili pemikiran Christie akan hal gaib,” ungkap Green. (fam/c7/ayi)

TRIVIA

- Palazzo keluarga Drake merupakan full set yang dibuat di Pinewood Studio, London. Tim produksi memutuskan membuat set baru karena alur cerita yang kompleks

- A Haunting in Venice menjadi reuni Kenneth Branagh, Jamie Dornan, dan Jude Hill setelah film Belfast. Dornan dan Hill memerankan ayah dan anak, sementara Branagh menjadi penulis sekaligus sutradara.

- Selama syuting, para aktor tidak mendapat pengarahan terkait efek praktis yang akan diterapkan tim produksi. Dengan begitu, ekspresi kaget atau takut benar-benar respons alami para cast.

- Jamie Dornan, pemeran Dr Ferrier, mengakui, set A Haunting in Venice benar-benar mencekam meski dibuat di studio.

A HAUNTING IN VENICE

Rating sensor: R 13+

Durasi: 103 menit

Sutradara: Kenneth Branagh

Penulis naskah: Michael Green, berdasar Hallowe’en Party karya Agatha Christie

Pemeran: Kenneth Branagh, Tina Fey, Kelly Reilly, Kyle Allen, Jamie Dornan, Camille Cottin

EDITOR: Dhimas Ginanjar