Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Agustus 2020 | 18.48 WIB

Siti Fauziah Saekhoni Viral berkat Peran Bu Tejo di Film Tilik

Siti Fauziah Saekhoni pemeran Bu Tejo di film Tilik. (Ravacana Films) - Image

Siti Fauziah Saekhoni pemeran Bu Tejo di film Tilik. (Ravacana Films)

JawaPos.com - Buat yang sudah menonton film pendek Tilik (2018) di kanal YouTube Ravacana Film, pasti belum bisa move on dari obrolan julid khas si ratu gosip Bu Tejo. Dengan langgam bicara setajam silet dan ucapan sepedas cabai rawit, perempuan berkerudung tosca itu tanpa henti menggosipkan si bunga desa, Dian.

Jawa Pos berkesempatan mewawancarai pemeran Bu Tejo, Siti Fauziah Saekhoni, Kamis siang (20/8) lewat sambungan telepon. Siti –yang tinggal di Jogjakarta bersama suami dan anak semata wayangnya– itu merupakan sosok yang ramah. Cara berbicaranya halus dan bersahabat ketika menyapa. Bak teman lama yang sudah akrab. Berbeda sekali dengan Bu Tejo yang tiada henti nyinyir dan berpikiran negatif.

Film Tilik karya sutradara Wahyu Agung Prasetyo membuat Siti dikenal sebagai Bu Tejo. Wajahnya mendadak berseliweran di media sosial. Lengkap dengan meme seputar kesaktiannya dalam mengolah gosip. Tagar #BuTejo pun sempat merajai jajaran trending di Twitter. ”Hahaha... Yo opo yo. Kaget aku, nggak nyangka bisa diapresiasi sama banyak orang. Wong bahasa filmnya bahasa Jawa, lho,” ujar perempuan 31 tahun itu.

Karakter Bu Tejo menjadi napas film berdurasi 32 menit itu. Melihat dia bergosip dengan rombongan ibu di truk yang hendak menengok bu lurah di rumah sakit sungguh bikin gemas.

Apalagi, saat melihat Bu Tejo berdebat dengan Yu Ning (Brilliana Desy) tentang kebenaran kabar Dian. Meski cuma adu mulut, tak kalah serunya dari menyaksikan pertarungan pasukan Avengers melawan Thanos di Avengers: Endgame. Sama-sama kuat dan tak mau kalah.

Siti –yang sudah 12 tahun menggeluti teater– mampu memerankan Bu Tejo dengan apik dan natural. Proses Siti menjadi penggosip terbentuk berkat ritual malamnya. Jika beberapa perempuan bersolek atau memoles skin care di wajah menjelang tidur, yang dilakukan Siti adalah berlatih ekspresi julid begitu menerima tawaran peran itu.

Bagaimana memonyongkan bibir supaya terlihat lemas saat menyampaikan gosip. Bagaimana memainkan mata agar obrolan yang dibuat semakin panas. ”Nah, nanti sutradara yang ngontrol. Saya bisa kebablasan, sampai pernah kok diingatkan supaya nggak terlalu nyinyir haha,” ujar Siti yang sadar jika pada momen tertentu, ekspresi wajah dan matanya bisa serupa dengan orang yang bersikap meremehkan seperti Bu Tejo.

Siti juga belajar banyak dari ibu-ibu di perkampungan. Mengamati orang ngobrol atau ngerasani menjadi salah satu agenda persiapannya untuk menghidupkan Bu Tejo. ”Saya pengin tahu, gimana sih cengkoknya orang kalau ngobrol tentang orang lain. Sebenarnya Bu Tejo itu nggak julid, tapi penasaran saja. Kok bisa Dian itu punya apa-apa, padahal nggak kerja,” kata Siti.

Selayaknya orang yang kepo terhadap hidup orang lain, Siti pun sangat detail bertanya kepada Wahyu dan Bagus Sumartono, penulis naskah. Dia ingin tahu latar belakang Bu Tejo meski hal itu tak banyak ditampilkan di film.

Salah satu yang mempermudah Siti dalam memerankan Bu Tejo adalah lokasi syuting yang hampir 90 persen dilakukan di bak truk terbuka. ”Enak isis (sejuk), jadi aku bisa konsentrasi. Coba kalau di mobil tertutup, iso mabuk aku haha,” kata penggemar Meryl Streep, peraih beasiswa Actor Studio dari Teater Garasi itu.

Berbeda dengan Bu Tejo, Siti menegaskan bahwa dirinya bukan penyuka gosip. Sehari-harinya, jika ada yang mengajaknya bergunjing, perempuan yang turut berperan di film Bumi Manusia (2019) itu bersikap pasif. ”Aku ya paling cuma tanya ’oh iyo to’ atau ketawa. Pokoknya jangan sampai sikap suka ngegosipkebawa haha,” kata Siti.


Bahkan, Siti merasa lebih mirip dengan Yu Ning, sosok yang selalu tabayun menunggu kabar yang benar. Dia tak tega dan tak mau jika harus membicarakan orang lain berdasar kabar burung.

Namun, saking kuatnya usaha mendalami peran Bu Tejo, ada satu hal yang masih tertinggal meski syuting telah selesai. Yakni, sifat Bu Tejo yang ketus dan ogah disalahkan. ”Pernah pas saya giliran buang sampah terus lupa, ditegur sama suami. Saya ngotot nggak terima disalahkan hehe,” ujar Siti yang November mendatang akan syuting film layar lebar keenamnya.

TENTANG TILIK

  • Syuting di Jogjakarta (tepatnya di Imogiri hingga Gamping) selama 4 hari.

  • Dibuat dari pendanaan istimewa Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Jogjakarta. Tim Ravacana Films mengajukan proposal dan lolos seleksi tim yang mendapat pendanaan.

  • Ada sejumlah adegan yang di-cut. Salah satunya, bagian yang menceritakan siapa sosok Fikri –anak ibu lurah– dan Dian.

  • Menurut produser Elena Rosmeisara, Tilik terinspirasi dari dua hal. Yakni, budaya menilik atau menjenguk kerabat atau tetangga yang sakit serta kecenderungan masyarakat untuk termakan kabar burung atau hoaks.

  • Selain mendapat Piala Maya 2018 sebagai Film Pendek Terpilih, Tilik berhasil tayang di Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018 dan World Cinema Amsterdam 2019.


Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=Wg6wyFWOYx0

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore