alexametrics

Jiwa Sraya, Jiwa 2020

Menyambut tahun baru. Jiwa rimba meriah.
29 Desember 2019, 21:38:08 WIB

Menyambut tahun baru. Jiwa rimba meriah.

Pohon-pohon tinggi seperti rasamala saling mentiung bertemu di pucuk. Itu sekalian dibentuk bagai gapura istana. Total ada sembilan kurva ’’gapura istana’’. Pasangan Raja-Ratu Singa Sastro-Jendro meminta sraya alias sroyo atau bantuan seluruh jiwa kunang-kunang untuk hinggap di kesembilan ’’gapura istana’’ itu. Wah, kerlap-kerlip bingkai ’’gapura istana’’ tak kalah dengan jiwa tahun baruan Menara Eiffel.

Nun di bawah sana, tampak kelanjutan dari kerlap-kerlip ’’gapura istana’’. Merekalah pendar-pendar cahaya dari jiwa cumi-kunang-kunang, jiwa ubur-ubur, dan jiwa bintang laut. Berpadu dengan kedipan-kedipan jiwa-jiwa bintang angkasa, perayaan sukacita tahun baruan di hutan itu tak kalah meriah dibanding ribuan kembang api tahun baruan manusia.

Hanya sejiwa siamang yang sedikit mengganggu. Di tengah kegembiraan seisi hutan ia baper, ’’Wahai Raja Singa Sastro. Ada spanduk, dibentangkan di antara dua beringin kembar, melarang kami meniup trompet. Itu tradisi Yahudi, katanya. Ini bagaimana?’’

Kancil, menteri informasi rimba raya, mengambil alih. Ia tak ingin suasana riang terganggu gegara raja meladeni orang yang tuna informasi ini.

’’Aduh, Siamang,’’ kesah kancil yang pernah memberi sraya berupa pemberantasan buta huruf di kalangan hewan. ’’Kamu cek lagi deh, spanduk itu dipasang tahun berapa. Jangan-jangan sudah tiga tahun lalu. Lagi pula, jangan-jangan yang memasang spanduk itu malah mereka yang suaranya seperti trompet. Kalangan internalmu sendiri. Tujuannya, tetap menjaga bara permusuhan siamang terhadap hewan-hewan yang suaranya tak seperti trompet.’’

Jiwa yang tercerahkan! Siamang segera menghambur ke lereng gunung. Mengembangkan kantong tenggorokan sampai sebesar kepalanya sehingga pita suaranya kian mengeras. Tak puas dengan lengking bagai trompet yang membahana hingga terdengar dari balik gunung, ia pun mengambil cangkang kerang raksasa. Meniupnya.

Setelah menguping penjelasan kancil kepada siamang, sejiwa sapi dan sejiwa bunglon tak jadi baper. Tadinya keduanya juga nggak nahan untuk baper sebagaimana siamang. Sapi itu waktu dulu keluar hutan dikalungi lonceng oleh warga. Ia akan baper, apa boleh mengelonengkan lonceng tahun baru? Nanti dikira Nasrani!

Bunglon itu, yang lidahnya dua kali panjang badannya, adalah jenis bunglon yang lidahnya berwarna api. Kalau melet seperti semburan api. Sedianya ia pun bakal baper, bolehkah bertahun baru dengan kembang api? Nanti dikira Majusi! Penjelasan kancil tadi membuat sapi dan bunglon waspada terhadap usaha pecah belah.

Ah! Terdengar bunyi trompet, lonceng, penampakan seperti kembang api serta kerlap-kerlip cahaya di ’’gapura istana’’ dan lautan nun di bawah sana. Lengkap sudah jiwa tahun baruan di rimba raya. Belum lagi bunyi seperti petasan ’’bum!!!’’, dentuman dari jiwa-jiwa gajah dan badak yang bergantian menjatuhkan diri dari bukit kecil.

Obrolan-obrolan kecil tentu menambah maraknya suasana. Ngomong-ngomong soal tahun dan pergantiannya yang tercatat menjadi lingkaran-lingkaran kambium pohon-pohon, buaya merasa unggul. ’’Kami juga punya lingkaran-lingkaran tumbuh pada tulang dan gigi,’’ kata sejiwa buaya.

’’Umur ular sanca bisa diukur dari panjang tubuhnya. Umurmu?’’ tanya buaya kepada sejiwa anjing.

’’Wah, buaya, entahlah. Belum ada sraya yang memberi ilmu untuk mengukur umur jiwa kami. Tahu kami, kami hanya lebih cepat dewasa dibanding manusia. Tingkat kedewasaan setahun usia kami setara dengan tingkat kedewasaan manusia usia 7 tahun.’’

’’Wah!’’ Ratu Singa Jendro nyeletuk. ’’Kalau begitu, dalam ultahmu yang ke-5 nanti akan kupasrahi kamu menangani asuransi jiwa, Anjing!’


*Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Ilham Safutra


Close Ads