alexametrics

Kupu-Kupu Malam dan Pahlawan Tak Kesiangan

Oleh: Sujiwo Tejo
29 September 2019, 16:48:39 WIB

TAK ingin kalah dengan manusia, binatang pun bersandiwara. ”Kupu-kupu malam perawat taman mutasikan ke pekerjaan laki-laki. Jadikan kepala sekuriti!” titah gorila kepada keledai, menteri tenaga kerja.

”Siap, Bos!” keledai mengangguk. ”Segera administrasi dan prosedurnya akan kami bereskan. Sebelum matahari terbit besok, kupu-kupu malam sudah mulai bisa beralih tugas di sekuriti. Pejabat lama sekuriti akan kami tedang ke mana, Bos?”

”Celeng alas yang badannya saja segede badak tapi nyalinya emprit itu suruh ngurus taman dan vas-vas bunga perkantoran pasangan Raja Singa–Ratu Singa Sastro-Jendro.”

”Baik, Bos. O ya… apakah kupu-kupu malam juga perlu kita lengkapi water cannon?”

Bos tidak menjawab sepatah pun. Hanya, cara si gorila memandang si keledai, lalu berpaling ke pertemuan lengkung-lengkung dahan yang bagaikan kusen jendela raksasa, membuat sang menteri tenaga kerja menyimpulkan bahwa kupu-kupu malam yang lemah gemulai itu sudah sepatutnya dipersenjatai.

Meninggalkan tugas lamanya, kupu-kupu malam sedih. Hilang sudah kesempatannya untuk saban hari berkencan dengan Anak STM dan Anak Esemka. Keduanya adalah nama anggrek dan bugenvil kesayangan kupu-kupu itu semasih menjabat kepala pertamanan. Hampir setiap hari, ketika mengontrol taman dan vas-vas bunga perkantoran, kupu-kupu berlama-lama di depan Anak STM dan Anak Esemka.

Si bos tak akan ngasih izin si kupu-kupu dalam jabatan barunya sebagai kepala keamanan kawasan untuk mengontrol bunga. Walau ia bisa mengajukan alasan bahwa bunga pun perlu diamankan.

Setibanya di rumah, kupu-kupu malam itu langsung menyalakan televisi dan menggonta-ganti saluran untuk melihat siaran tentang flora dan fauna. Kalau-kalau ada jenis anggrek hitam baru atau bugenvil selain warna merah maupun oranye.

Tidak ada informasi apa-apa. Sesudah mematikan televisi, ia pergi ke dapur remang-remang. ”Apa yang terjadi dengan si bos?” keledai menerka-nerka keputusan bos memindahkannya jauh bumi dari langit, dari bagian pertamanan ke bagian sekuriti.

Ada sarang laba-laba bergantung di atas plafon dapur yang agak menghitam karena asap. Tepat di atas kepalanya tengadah. Dari sanalah, dari jejaring alami yang penuh misteri, kupu-kupu mereka-reka jawabannya.

”Pasti karena bosku punya jaringan yang baik dengan polisi. Bukankah polisi sering menghadapi para demonstran dengan mengedepankan polwan? Berhadapan dengan polwan, demonstran pasti langsung luruh. Pasti karena ini bosku memilihku untuk berhadapan dengan preman-preman di distrik merah ini,” pikirnya.

Usut punya usut, bukan itu sama sekali alasan si gorila menjadikan si kupu-kupu sebagai kepala sekuriti. Ketika pada hari Minggu kupu-kupu pergi jalan-jalan ke pasar bunga, langganannya bercerita bahwa baru kemarin ia berantem dengan seseorang.

”Bapak itu lihat anyelir ini, saya disuruh jauh-jauh… Agar, katanya tak mendua. Sudah ada bunga. Di sampingnya ada bunga juga, yaitu saya. Bagi dia, perempuan cantik kayak kita-kita ini adalah bunga. Saya marah. Saya antelop. Bukan flora!”

Pedagang dengan tanduk yang cantik itu menyodorkan foto kepada si kupu-kupu. ”Ini, lho, orangnya. Saya curi potret waktu kunjungannya yang pertama dulu,” katanya. ”Lumayan cakep, sih, bapak-bapak itu. Tapi moralnya payah. Menyamakan kita dengan bunga!”

Kupu-kupu menyembunyikan kekagetannya. Laki-laki dalam foto itu, yang bertopi dan kausan krem, adalah bosnya. Ketika kupu-kupu jadi perawat bunga, menyiram dan merapikannya, ia memang suka memergoki bosnya, dari kejauhan, memandangi taman perkantoran itu. Sekarang kupu-kupu jadi tahu, kenapa ia dipindahkan dari pengurus taman ke bagian sekuriti.


*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Dhimas Ginanjar


Close Ads