alexametrics

Nikah Darah!!!

Oleh: SUJIWO TEJO
28 Maret 2021, 14:30:56 WIB

Yang tampak hanya permukaan bukan cuma laut, pernikahan orang juga.

TAK setimpal gembar-gembornya di awal tarung, Dewi Dursilawati dimatikan Bra. Kini pendekar yang kelak mirip pebola Ibrahimovic itu dan kekasihnya, Tingting Jahe, telah menyandarkan perahunya di suatu pulau berjubah mega-mega. Di sanalah baru bermukim sosok yang akan ditantangnya, yang siang malam ia idam-idamkan betapa akan bermutunya pertarungan itu: Pendekar Sastrajendra.

Selain berjubah mega-mega, pantai pulau itu dihiasi para pengamen. Instrumen-instrumen musik tradisional seperti beduk, sasando, dan genggong melengkapi pengamenan mereka. Belum ada uang saat itu. ”Upah” masih berupa cangkang kerang, benang, dan lain-lain alat barter.

Suara mereka selain fals juga sember. Mana cara menalu lesung dan membunyikan instrumen lainnya ngaco. Lebih berisik dari suara knalpot bising pada zamanmu kelak. Pendekar Bra membantu mereka dengan tenaga dalamnya. Siapa pun yang terganggu oleh kacaunya suara pengamen dan musiknya jadi meleleh. Mereka memberi ”upah” tidak dengan terpaksa seperti membayar pajak, tapi dengan ikhlas seperti saat bersedekah.

Kok baik banget si pendekar belia itu?

Sila mau menilai apa pun pemuda tampan berpundak tipe pelindung itu. Ia tak hanya menggunakan tenaga orang dalam, eh, tenaga dalam. Pemain sasando bahkan bisa menendang seorang preman yang mengincar sasandonya. Penabuh lesung malah mampu memutar alu besar dan panjangnya mirip gasing saat hasil mengamennya bakal ditilap nelayan. Semua berkat ajaran dasar-dasar silat dari Pendekar Bra juga.

*

Kok baik banget si pendekar penguasa Kitab Mas Elon itu?

Sila mau menilai apa saja. Yang jelas, tak ada yang gratis di dunia. Pada zaman itu pun! Mereka, para pengamen bertato itu, pekan lalu membantu Pendekar Bra dan Tingting Jahe menggali cadas keras. Mereka membantu mengubur jasad Dewi Dursilawati yang semula tercerai-berai. Ada daging yang menyangkut di lunas perahu, lemak yang menyangkut di dayung. Usus dan limpa perempuan satu-satunya dari Kurawa itu tercecer dari buritan hingga haluan. Di lambung perahu terserak gigi-giginya yang rompal.

Para pengamen dari pagi hingga petang telaten mengumpulkan remah-remah mayat itu semuanya. Bahkan helai-helai rambut Dewi Dursilawati. Cuma satu helai, hasil pungutan pemain seruling, adalah helai yang tertukar. ”Itu helai rambutku yang jatuh!” teriak Tingting Jahe dengan ketus. Suaranya gado-gado antara benci dan cemburu pada Dursilawati yang jurus Racun Asmara-nya selalu membuat si keparat itu nyaris berciuman dengan Pendekar Bra.

Jadi, yang dilakukan Bra hanyalah balas budi tulen, bukan gratisan. Masihkah kaunilai bahwa pendekar dari Pulau Ramalan Terakhir ini baik banget?

*

Tapi, mungkin putra daerah Pulau Ramalan Terakhir itu memang baik banget. Balas budinya tidak pas banderol. Bukan saja ia ajari silat para pengamen lecek, gondrong, dan bertato itu dan ia bantu agar orang-orang mewelasasihi mereka. Pendekar Bra juga meluluri mereka makrifat.

”Kalau ngamenmu belum selesai orang sudah melempar cangkang kerang, jangan ujub. Itu pertanda musikmu buruk! Berisik! Lebih bising dari perdebatan politik di pendapa-pendapa kedatuan. Ini persis orang yang doanya cepat terkabul. Jangan takabur. Itu pertanda Gusti risi kauganggu. Lekas-lekaslah kamu diberi, agar lekas pergi. Paham?” Pendekar Bra bersila di atas batu, tentu, didampingi silanya Tingting Jahe.

Suatu hari Bra ingin berlibur dari pacarannya dengan Tingting Jahe. ”Orang bekerja saja pengin liburan. Mereka menghimpun hasrat itu ke mega arus mudik, dilarang mudik maupun tidak…” alasan Bra. Ini langsung disetujui riang sekali oleh Tingting Jahe. Jahe ke barat. Bra ke timur. Atas rekomendasi para pengamen pantai, Bra menjadi saksi suatu nikahan yang musiknya mereka isi.

Calon mempelai putrinya adalah Tingting Bocah. Nama samarannya Hacob Ngiting. Gaunnya seperti jubah mega. Ayah angkatnya, Pendekar Sastrajendra dengan nama samaran Jenderal Atras, hadir pula, juga dengan pakaian khas pulau berjubah mega-mega tersebut. Menjelang akad nikah, timbul pemuda aneh. Rona wajahnya bagai dari alam takhayul. Ia tantang calon mempelai pria serta kedua pihak keluarga besar di situ. ”Langkahi dulu mayatku jika kalian ingin program ini dilanjut!” serunya nyaring.

*

Dulu belum ada catur. Tapi sudah ada pamali yang sama. Seorang grand master pamali menerima tantangan dari yang bukan grand master. Kecuali untuk mengisi pundi-pundi berbagai pihak. Jenderal Atras menilai pemuda ini bukan dari dunia persilatan. Dia tampaknya saja bisa silat, tapi bukan dari dunia pesilatan. Abaikan saja tantangannya. Keluarga besar calon mempelai pria berseberangan. Tantangan siapa pun harus diladeni. Dunia silat bukanlah ekspor lobster di suatu zaman, jangan dimonopoli.

Baca Juga: Bom Bunuh Diri di Katedral Makassar, PBNU: Terkutuk!

Lantas terjadilah pertarungan itu. Nanti ini akan menyebabkan Hacob Ngiting terkiul-kiul pada Pendekar Bra. Ia mengintilinya hingga habis masa liburan cinta Bra dan Tingting Jahe. Jahe tercengang menatap kemunculan Hacob Ngiting yang telah lama dikenalnya sebagai Tinging Bocah, anak angkat mantan kekasihnya, Pendekar Sastrajendra. Tapi, bagaimana cerita seru pertarungan itu? (*)

SUJIWO TEJO, Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads