alexametrics

Bangau Putih, Penumpang Terang

Oleh: Sujiwo Tejo
27 Oktober 2019, 16:48:38 WIB

SEORANG wildebeest terseok-seok di bantaran sungai. Makhluk berkaki empat yang masih kerabat kambing itu tak kunjung menyusul kawanannya yang sudah mentas. Ujung kaki belakangnya dicaplok buaya.

Heran. Kawanan makhluk berambut mirip kuda itu tak ada yang menolongnya. Bahkan untuk sekadar mengalihkan perhatian buaya, primadona sungai yang badannya dibungkus oleh bahan tas ibu-ibu sosialita ini.

Monyet yang bukan sanak bukan famili mereka malah mendingan. Sejak para wildebeest itu berderet sepanjang tepi sungai dengan mencelupkan moncongnya untuk turun minum, para monyet berlompatan di depan mereka. Persis mobil patroli polisi yang memiyak para demonstran pelanggar batas demarkasi. Itulah monyet-monyet dari partai beruk hingga babun. Para wildebeest mundur, walau atas nama dahaga kembali maju perlahan untuk turun minum.

Ada bangau putih berdiri di atas air. Tak melangkah, namun tampak meluncur kencang tanpa selancar ke tepian. Sekilas sama saktinya dengan wali-wali yang sanggup meniti air.

Tiba-tiba air tersibak. Suara ”pyar”-nya sangat pecah dan menggelegar. Seluruh wildebeest berbalik badan, tunggang-langgang ke daratan. Satu yang nahas, kakinya dicaplok oleh makhluk yang tadi tak tampak di permukaan, yang punggungnya baru saja ditumpangi oleh non penumpang gelap: bangau putih.

Setelah dibanting ke kiri-kanan seperti martabak oleh buaya yang bergulung-gulung, wildebeest itu pasrah. Perlahan-lahan buaya menyeretnya masuk kali. Seluruh badannya hampir telenggam. Mulutnya masih bisa melenguh-lenguh seakan minta pertolongan partainya.

Tak dinyana-nyana, menjelang kepala wildebeest itu tenggelam, buaya melepas caplokannya. Bergegas ia hengkang meninggalkan wildebeest yang kembali terseok-seok mentas ke daratan.

Kenapa? Ada dua penampakan hitam besar yang menghampiri buaya itu. Setelah menyembulkan seluruh kepalanya dari air barulah menjadi jelas. Keduanya dari partai yang paling ditakuti oleh buaya: partai kuda nil!

Dalam sidang etika, Raja Singa Sastro mempersalahkan wildebeest nahas itu. Salahnya terlalu berharap pertolongan pada kelompoknya sendiri, yaitu kawanan wildebeest. Padahal, pertolongan kerap datang dari bukan kelompok atau partainya sendiri.

Ratu Singa Jendro judes luar biasa, menilai wildebeest malang ini tak tahu berterima kasih kepada partai di luar partainya, yaitu partai monyet dan partai bangau.

Menteri Informasi Alam Rimba Kancil mengingatkan ratu agar tidak terlalu ketus kepada wildebeest yang kaki belakangnya masih dibalut reramuan rimba penyembuh luka.

”Aku tak peduli dia masih sakit atau tidak!” ratu singa sinis. ”Dan omonganku ini berlaku bagi seluruh wildebeest. Kalian bahkan tak tahu diuntung. Bangau putih datang untuk memperingatkan kalian. Tiada maksud bersombong ria dia bisa berjalan di muka air. Kalian saja yang buruk sangka. Kalian sangka dia sombong. Sangkaan yang dipicu oleh iri dan dengki bahwa bangau putih itu akan merapat ke hutan, ke istana kami, dengan berbaju putih karena akan kami jadikan menteri.”

Sebenarnya di musim antara musim kemarau dan musim penghujan ini, yaitu musim saling curiga, wildebeest juga mencurigai kuda nil. Dugaan mereka, dua kuda nil itu datang bukan untuk mengusir buaya, tapi untuk memangsa wildebeest.

Tidak. Berkali-kali raja singa menandaskan, makanan utama kuda nil tumbuh-tumbuhan. Ia tak mau daging. Masih saja wildebeest membatin, kuda nil kadang doyan daging pula. Gegaranya, mereka pernah melihat kuda nil menelan bulat-bulat buaya dimulai dari ekornya.

”Sudahlah, Raja. Mereka yang penuh curiga persis mereka yang sedang jatuh cinta. Tak bisa dinasihati,” bisik kancil ke raja singa.


*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president jancukers

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads