alexametrics

Pak Babi yang Kagetan

24 November 2019, 19:46:09 WIB

PAMAN petani memaki-maki tikus. Masyarakat tikus tersinggung. Rupanya bukan mitos belaka bahwa hewan pengerat itu tak boleh dihina dina.

Ketika si paman mengumpat-umpat mereka gegara sebagian sawahnya digerogoti laskar tikus, laskar tersebut membuktikan mitos. Dengan moncongnya yang bersungut-sungut cepat naik turun, mereka bersekongkol merencanakan penggerogotan yang lebih nendang.

’’Tunggu. Adilkah ini?’’ seorang tikus yang tampaknya cukup bijak memastikan rencana.

’’Adil, Bro!!!’’ sergah yang lain-lain dengan cicitan merdu. ’’Raja dan Ratu Singa Sastro-Jendro mengizinkan kita mengganyang sawah-sawah manusia rakus.’’

’’Rakus?’’

’’Paman pengumpat itu rakus. Dia lupa doa-doa leluhur Nusantara dulu saat upacara menanam padi: Wahai ular, tikus, belalang, dan lain-lain, monggo kalau mau makan padi yang akan tumbuh nanti, tapi tolong kami manusia ini juga kalian bagiin.’’

’’O gitu?’’

’’Iya, Bro. Nah, pada sawah-sawah yang padinya ditanam dengan doa merdu begitu, kita dilarang oleh raja singa untuk bikin ludes. Tanpa manusia pakai pestisida, tikus-tikus leluhur kita tak akan mengganggu terlalu jauh. Paling kami cuma ngemil secukupnya. Tanah-tanah juga awet dan sehat karena tanpa pestisida. Sekarang?’’

Diingatkan oleh info tersebut, tikus bijak itu semakin tambah bijak. Maksudnya? Dia setuju untuk menyikat habis sawah milik petani egois, yang menganggap alam semesta ini cuma milik manusia.

’’Tapi, sebaiknya jangan kita sendiri yang turun tangan,’’ tambah si bijak.

Ndak level menurutnya bila tikus-tikus yang terhormat berhadapan langsung dengan manusia yang mutunya serendah paman petani itu. Usulnya, nabok nyilih tangan saja. Manfaatkan pihak lain untuk mengobrak-abrik sawah si petani. Dalam hal ini, pihak lain itu yang memang pakarnya mengacak-acak tanaman setanah-tanahnya: babi hutan!

Jika ’’baby-baby forest’’ itu bisa diberi panggung, suasana akan betul-betul meriah. Dari segi ramainya, bukan dari segi kerusakannya, mungkin tak kalah meriahnya dengan saat pilkada atau pilpres masih dengan cara orang biasa memilih langsung, bukan melalui orang-orang parlemen.

Apalagi kalau nanti orang-orangan sawahnya pun turut diganyang oleh babi-babi hutan seperti suporter bola di sini ingin mengganyang suporter Malaysia.

Tikus yang sangat bijak tadi ada benarnya. Babi hutan memang sering sembrono. Tetapi, menghasut babi hutan untuk berbuat sesuatu yang gegabah bukan hal yang mudah. Hewan srudak-sruduk dengan mazhab berlari yang lurus-lurus saja itu memang paling pas untuk misi menyakiti hati si petani.

Tetapi, bukankah makhluk yang pergerakannya lurus-lurus saja, yang tak bisa serong apalagi berbelok, ini punya kelemahan sehingga mudah dihasut? Punya kelemahan bagaimana? Tak jarang mereka sanggup meloloskan diri dari terkaman dan belitan predatornya: Harimau dan ular piton. Dan, walau larinya tak bisa belok-belok, mereka masih bisa melumpuhkan manusia cerdik yang zig-zig larinya kalau mereka kejar.

’’O iya ya,’’ tikus bijak semakin merenung. ’’Tapi, baiklah… Babi-babi itu tak akan berdaya kalau yang kita zig-zagkan bukan cara kita berlari, melainkan cara kita berpikir. Kita jebak mereka agar berpikir bahwa perusakan sawah ini demi sesuatu yang lebih besar. Bukan cuma gegara penistaan.’’

Benar. Sampailah info kepada makhluk yang paling gampang kagetan, babi hutan. Bahwa manusia ingin memonopoli keyakinan terhadap Dewi Sri. Padahal, Dewi Sri, yaitu Ibu Pertiwi, milik semua golongan, termasuk babi hutan yang karnivora, yang mbadog padi juga.

’’Tak boleh ada tafsir tunggal dan monopoli terhadap keyakinan di Nusantara,’’ tandas pemimpin babi hutan. ’’Berangkaaaaat!!!!’’

*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Ilham Safutra


Close Ads