alexametrics

Gertak Sambal, Gertak Merpati

22 September 2019, 16:39:22 WIB

RATU Singa Jendro tahu dia harus mulai ngomong blak-blakan ke Raja Singa Sastro. Setiap partai dalam hutan, sejak partai musang, partai lintah, partai tikus, dan lain-lain sampai partai singa itu sendiri, harus dibikin bagai merpati. Merpati, selain tak pernah ingkar janji, sesungguhnya juga tak pernah sungguh-sungguh dalam bertarung.

Merpati sejatinya cuma mengekor jati diri sambal. Sanggupnya cuma menggertak. Namanya gertak sambal. Beda jauh dengan elang. Elang kalau berbeda pendapat dengan sesama elang harus ada yang sampai terluka, bahkan gugur.

Merpati ndak gitu. Dia kalau mau berduel dengan sesamanya cuma saling mencembungkan bulu-bulu di leher. Berkitar-kitar. Penggertak sampai kecapekan menggertak, lalu berhenti sendiri. Yang digertak sampai kecapekan sendiri menunggu tindak lanjut dari gertakan itu, lalu memutuskan untuk tak melayani gertakan.

Bagi ratu singa, rancangan undang-undang usulan partai-partai yang diprakarsai oleh partai semut pemotong daun, bahwa gelandangan bisa dipidana denda satu juta lembar daun salam, harus cuma berupa gertakan.

Demo para mahasiswa yang menentang rancangan undang-undang itu pun harus demikian. Levelnya harus cuma mentok pada gertakan.

Mahasiswa dan mahasiswi dari kampus belalang sembah boleh berdemo ngeseks di luar nikah di depan para perancang undang-undang. Boleh menggigit kepala pejantannya hingga putus. Konon, kepala belalang itu pusat segala saraf penghambat. Dengan kepala pejantannya yang putus, belalang sembah betina bisa menikmati seks bersama pejantan yang stadium terangsangnya ndak putus-putus karena ejakulasinya terhambat.

”Tapi itu cuma gertakan,’’ Ratu Singa Jendro bersikukuh. ”Bukan berarti belalang sembah akan benar-benar menggigit endas-endas perancang undang-undang.’’

Raja Singa Sastro seolah tak mendengar segala gerundelan sang permaisuri. Hanya kancil, menteri informasi alam rimba, yang tak berakting seolah-olah cuek pada ratunya.

Dengan mata yang ketap-ketip, kancil berpikir di sisi singgasana raja. Baginya, sang ratu ada benarnya. Akan lebih elok bila rancangan undang-undang itu dibikin cuma untuk menggertak agar para binatang takut menjadi gelandangan, takut didenda membayar satu juta lembar daun salam.

Rancangan undang-undang ngaco begitu, termasuk rancangan undang-undang amburadul lainnya seperti narapidana boleh berpesiar, jangan pernah benar-benar diberlakukan.

Dalam kesaksian kancil, tidak seluruh binatang punya rumah. Semut pemotong daun yang mensponsori rancangan undang-undang aneh-aneh itu memang beruntung. Mereka bukan saja punya rumah. Mereka punya pertanian di sekitar sarang tersebut. Potongan-potongan daun yang digotong rakyat secara holopis kuntul baris itu disulap menjadi jamur dengan miselium yang terkandung dalam rongga mulut sang ratu semut. Pertanian jamur yang berlahan-lahan itulah bancakan larva-larva.

”Bagaimana dengan makhluk-makhluk yang secara garisnya memang ditakdirkan untuk tidak berumah,’’ renungan kancil semakin mengerucut.

Raja singa masih seperti sejak matahari terbit tadi. Seolah-olah cuek. Kini malah pakai angop-angop seraya mengibas-ngibaskan surainya yang macho, cokelat kekuningan.

Eh, ternyata dia bukan pura-pura tak acuh… Sang raja memang betul-betul tak acuh. Ia baru terkesiap ketika diancam sang ratu.

”Mulai hari ini, aku akan stop mencari rezeki untuk suami! Akan aku undang-undangkan ke seluruh singa betina untuk mengikuti langkahku. Seluruhnya! Kalian para suami akan mati kelaparan. Rambut boleh gondrong. Potongan boleh macho. Tapi, tubuh besar kalian justru menghambat kecepatan dan kelincahan untuk melakukan hobi berburu.’’

Setelah sejenak terkesiap, Raja Singa Sastro kembali woles.

Ratu heran, ”Kok nggak takut pada rancangan undang-undang baruku?”

”Kan itu cuma gertakan…”


*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Dhimas Ginanjar


Close Ads