alexametrics

“Al-Hayawan-i Distancing”

22 Maret 2020, 20:12:50 WIB

DARI celah beringin kembar raksasa, ayam tiba bersama anjing dan kucing. Ketiganya tamu agung keraton tengah rimba dengan kawalan ajag yang melindungi mereka sejak dari tepi hutan.

Dari celah beringin yang sama, celah yang membentuk gapura raksasa keraton, dahulu ayah raja singa sering melenggang keluar. Ia emong putra mahkotanya yang masih bocah menyusur sungai. Sang putra diasuhnya melihat-lihat jernihnya Sungai Gondawari tempat dahulu Dewi Sinta mandi jiwa.

Kini sang putra telah meraja. Dialah Raja Singa Sastro, raja yang telah bersiap menyongsong tetamu agungnya. Yang Mulia mengundang ketiganya untuk berbagi rasa tentang bagaimana pengalamannya mendampingi tokoh.

Ayam diminta bercerita soal pengalamannya menjadi jago adu ayam Sawunggaling, legenda adipati dari Surabaya. Anjing yang bernama Tumang diminta menuturkan kesaksiannya saat mendampingi Sangkuriang, putranya. Kucing, namanya India ”Willie” Bush, diminta menguraikan suka-dukanya menjadi kesayangan presiden ke-41 Amerika itu.

’’Salam Pancadharma…” Raja Singa Sastro menyambut mereka dengan ramah. ”Sempat menyeruput air bekas mandi Dewi Sinta?”

”Aduh, Sang Raja,” tukas ayam tersenyum. ”Sungai bukan genangan. Bukan pula linangan seperti tangis Ibu Pertiwi kini. Sungai itu airnya mengalir.”

”Air yang dulu dipakai ciblon mandi Dewi Sinta, sang Ibu Pertiwi, entah sudah mengalir sampai ke mana. Mungkin sudah sampai Wuhan,” canda anjing, tak kalah ramah.

Kucing menimpal sama ramahnya, ”Hmmm… Tapi, kami tahu. Paduka Raja tadi cuma berseloroh, kan? Yang penting bukan airnya yang sudah berubah. Yang penting perasaan kita. Rasa yang masih sama dengan rasa kesayangan Bro Rahwana itu saat mandi. ’Tul?”

”Betul. Heuheu,” Raja Singa Sastro semringah bersama Ratu Singa Jendro. ”Merasakan rasa yang sama, bukan memikirkan pikiran yang sama. Itulah inti Jasmerah, jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah seperti wewanti Bung Karno,” timpal ratu, mengintervensi obrolan.

Eh, benarkah ratu mengintervensi?

Ah, itu hanyalah ramah-tamah biasa. Kalau ratu tak ikut-ikutan ngobrol, malah dikira angkuh. Ibarat pamong praja pusat yang cawe-cawe pamong praja daerah dalam urusan wabah, bukan berarti intervensi.

Kalau urusan wabah yang jadi wewenang daerah ditarik jadi wewenang pusat, lalu dikembalikan lagi jadi wewenang daerah, itu namanya apa? Nah, kalau ini urusan pingpong, yang tak terkait dengan kedatangan tamu agung ke tengah rimba.

Mata kucing India Bush plerak-plerok seperti menonton pertandingan pingpong. Belum kunjung ia ceritakan pengalamannya hidup di istana kepresidenan ketika wabah campak melanda Amrik. Anjing Tumang juga belum menguraikan pengalamannya hampir dibunuh oleh anaknya sendiri, Sangkuriang, gegara memberhalakan pencitraan, citra pada Dayang Sumbi, manusia istri Tumang, kalau sampai pulang berburu tak menggotong daging apa pun.

Ayam pun sami mawon. Ia belum menjabarkan bagaimana sebagai oknum sabung ayam yang berdarah, pertandingan yang terlarang, malah menghantarkan Sawunggaling naik takhta yang mulia menjadi adipati di Surabaya. Padahal, seluruh hadirin hewan menunggu cerita itu. Malah ada yang haqqul yakin, dongeng para tamu ini bakal membuat tubuh kebal dari virus apa pun.

”Yuk, social distancing dulu. Jaga-jaga ketularan virus,” ucap kucing. O, itu toh kenapa dari tadi ia plerak-plerok belum mulai-mulai mendongeng.

Anjing menukas, ”Naon social distancing? Eta terangkanlah! Jaga jarak?”

”Hus! Jarak itu kawasannya Dolly. Wis ditutup, cuk!” seru ayam.

Setelah semua hadirin renggang satu sama lain, dongeng pun dimulai, yaitu dengan cara mengakhiri Talijiwo untuk Minggu ini. Heuheu…


*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Ilham Safutra



Close Ads