alexametrics

Burung Beo Ade

Oleh SUJIWO TEJO
21 November 2021, 11:59:32 WIB

Naik bus malam enakan dulu di awal-awal pandemi. Penumpang jauh-jauh. Walau sejauh-jauhnya tetap saja masih dalam satu bis, setidaknya kita ndak harus ngobrol. Ngobrol dengan kenalan baru kan belum tentu nyambung. Kita penginnya ngomongin Panglima TNI yang baru, eh, yang di samping malah pengin kita menyimak soal istri barunya.

KITA lagi ingin memancing-mancing perbincangan soal orang-orang yang baru ditangkap Densus 88, tahunya sebelah kita malah asyik menceritakan tangkapan ikannya di empang.

“Kalau umpan kita tak dimakan-makan ikan, jangan marah-marah. Itu pertanda ikan masih kenyang. Masa manusia yang kelaparan marah-marah sama ikan yang tidak lapar? Mana keadilan sosialnya? Bodoh boleh. Goblok jangan!”

Oh, bodoh dan goblok tidak sama?

Itu pengalaman Sastro naik bus malam. Ia gagal paham akan perbedaan itu. Kalau beda pandir dan dungu sedikit banyak suami Jendro itu masih ngehlah. Menuntut setahun penjara seorang perempuan yang marah-marah ke suaminya gegara suami itu mabuk, mungkin istilahnya pandir. Tak tahu kenapa penuntut macam itu bisa disebut pandir? Nah, ini dungu.

Editor : Ilham Safutra




Close Ads