alexametrics

Patung Banteng, Banteng Tidur, dan Banteng Presto

21 Juni 2020, 18:28:48 WIB

SUNYI itu jeda panjang antara auman Raja Singa Sastro hingga aumannya yang akan datang. Senyap itu saat Ratu Singa Jendro tidak mesem babar blas. Itulah negeri rimba raya yang bulan selalu hinggap bundar tepat di pucuk pohon asoka saban tanggal 15 tahun rembulan.

”Ada usulan agar dasar negara rimba raya kita, Panca Anasir, disederhanakan lagi. Anasir udara, angin, api, air, dan tanah bakal disederhanakan menjadi tri anasir. Ini masih bakal disederhanakan lagi menjadi eka anasir…”

”…Usulan itu nyata-nyata ada,” ratu singa menyelipi sabda suaminya dan masih merengut.

”Ya, usulan ini fakta,” sambung raja singa. ”Tapi, siapa yang mengusulkan? Tidak ada yang mau ngacung! Usulan ada. Tapi tak ada pengusulnya!”

Lagi-lagi sunyi menyergap. Senyap mengurung.

Hening itu jeda panjang antara gebrakan kaki raja singa hingga ke gebrakan berikutnya. Sepi itu saat suatu keadaan tak pernah diakui oleh mereka yang mengadakannya. Gajah, rusa, monyet, dan semuanya hanya menunduk, tak terkecuali banteng.

Demi memecah keheningan, sedianya raja singa hendak menggebrakkan lagi kaki depannya. Atau minimal mengaum. Gebrakan digantinya dengan renungan diri serta membiarkan kadal, bekicot, siamang, dan semuanya tertunduk dengan cara masing-masing. Kobra tampak jelas tundukannya. Ular-ular lain yang mampunya hanya melata dengan kepala rata tanah setidaknya masih punya niat juga untuk menunduk.

Yang Sastro renungkan adalah kejadian-kejadian belakangan ini. Seekor panda. Cukup vokal. Tiba-tiba pengerat bambu yang suka melawak ini dituduh memakai candu. Konon ia mendapatkan staminanya dari tumbuhan bahan baku opium tersebut.

Sebagian warga rimba mendakwa penuduh itu hewan-hewan suruhan raja singa. Sebagian warga yang lain tak yakin akan dakwaan gegabah itu. Bisa saja pihak ketiga, keempat, dan seterusnya. Tujuannya semata-mata mengeruhkan suasana.

Renungan raja singa menjadi keheningan cipta ratu singa jua. Melalui Menteri Informasi Rimba Raya Kancil, Jendro mendengar kasak-kusuk para lebah ratu. Mereka mendengung seperti buzzer bahwa pemimpin yang tidak terlibat suatu peristiwa, tetapi mendiamkannya bisa sah dianggap merestui.

”Yaowoh, urusan suamiku sudah sejagat, masak masih harus ngurusi soal-soal sepele seperti yang diderita panda itu?” bisik ratu singa kepada kancil pekan lalu.

”Ya, tapi teror kan bukan saja mengenai panda itu, Sri Ratu. Masih banyak teror yang dikenakan ke pihak lain sampai ke ancaman pembunuhan segala. Sebagian warga ingin mendengar suamimu mengecamnya.”

Bummmm!!!!

Raja singa menggebrak bumi. Pohon asoka di belakangnya sampai geal-geol. Seluruh hewan mendongak dari tunduknya walau tetap tak bernyali buat menatap sang raja.

Raja kemudian menggeram. Raja kemudian mengaum, ”Banteng mana yang akan menghukum hiena karena meng-quote humor pendahuluku bahwa hanya ada tiga banteng yang tak bisa disuap, yaitu patung banteng, banteng tidur, dan banteng presto?”

Seekor banteng meliuk-liukkan tanduknya. Lintasannya persis gerakan banteng dalam lukisan maestro Raden Saleh. Indah sekali. Pertanda ia mengakui dialah yang berbuat dan sekaligus mengakui kekhilafannya.

”Bagus!” puji raja singa. ”Sekarang siapa yang pengusul Panca Anasir menjadi tri anasir…disederhanakan lagi menjadi eka anasir?”

Hening.

Sejatinya seluruh hewan masih bertanya-tanya. Raja singa itu mau menghukum atau justru ingin memberi penghargaan kepada pengusulnya? Sebab, mereka kadang ragu, bukankah segala hal yang sederhana dan yang berupa penyederhanaan itu baik?

Keraguan yang belum dibahas dalam kursus para hiena untuk berburu kartu pra berburu.

Heuheuheu…

*Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Ilham Safutra



Close Ads