alexametrics

Jurus Penumbuh Kebencian

21 Maret 2021, 17:15:12 WIB

Bibir kita telah pisahan, Kekasih, namun nasibmu-nasibku masih ciuman.

DI PULAU Durian Timun Pendekar Sastrajendra hanya boleh memilih satu di antara dua. Ia jadi mirip Si Buta dari Gua Hantu atau mirip Panji Tengkorak. Jangan menduakan pendekar. Tak baik. Baik juga ini untuk latihan menuju pernikahannya kelak yang dibayangkannya bersama Tingting Jahe, perempuan dengan pinggang aduhai yang hingga kini masih dicari-carinya bersama putri angkatnya, Tingting Bocah. Jangan menduakan perempuan. Tak baik.

Mayat yang memohon-mohon diseret dalam peti oleh Pendekar Sastrajendra hingga mirip tokoh komik silat Hans Jaladara, Panji Tengkorak, akan diadunya dengan monyet di pundak sang pendekar hingga mirip tokoh komik dunia persilatan Ganes TH, Si Buta dari Gua Hantu. Pemenangnya, dialah yang berhak ikut sang pendekar.

Angin bertiup dari bantaran sungai utara gua-gua. Tingting Bocah yang kini menginjak gadis berkibaran rambutnya. Ia mengingatkan agar pertarungan itu tak sampai mematikan. ”Kalian bukan dari dunia persilatan. Tarung tak harus sampai ada yang meregang nyawa,” tandas Tingting Bocah.

Bersamaan dengan itu pasangan kalong melambai-lambai di atas mereka. Sejoli hitam-hitam di angkasa ini terbang dari gunung utara ke gunung selatan. Keduanya seakan gagak yang menggaok-gaokkan kabar penting. Dunia persilatan, kabar mereka, berbeda dibanding dunia umum. Di dunia persilatan, periode kependekaran siapa pun tak jelas. Bisa dua periode seperti lumrahnya. Tapi, bisa tiga periode, bahkan seumur hidup, andai para penantang pendekar itu selalu berhasil ia tewaskan.

Setiap pendekar tak boleh menolak tantangan berkelahi. Setiap penantang merasa hidupnya bermartabat bila mati di tangan pendekar yang lagi menggenggam kependekaran pada periode tertentu. Bila beruntung menang dan penggenggam periode itu tewas, lebih terhormat lagi. Ia mengawali periode baru masa jabatan kependekaran.

*

”Bertarunglah maksimal cuma sampai ada yang terluka seperti di masyarakat awam. Seperti petani terluka lantaran panen menggunung, tapi para tetua kedatuan tetap saja mengimpor beras dari kedatuan lain,” Tingting Bocah mengumumkan.

”Lho, saya ini sudah jadi mayat. Bagaimana pertarungan saya dengan si monyet keparat ini tak boleh ada yang mati?” ratap mayat.

Kalong tergelak sampai tersedak-sedak mendengarnya. Sampai ia khilaf untuk mengepakkan sayapnya. Menukik hampir menyentuh pucuk kelapa. Tupai-tupai kaget. Mereka akan menghindarinya. Untung kalong malang itu segera ditarik pasangannya ke angkasa. Tupai-tupai kecewa. Mengapa sepandai-pandai kalong terbang akhirnya tak jatuh juga sebab ditolong kekasih, sedangkan sepandai-pandai tupai melompat akhirnya kok jatuh juga?

”Jangan kagetan, jangan gumunan (heranan),” sergah Pendekar Sastrajendra demi melihat Tingting Bocah terperanjat mendengar pernyataan si mayat. Hal serupa pernah disergahkan sang pendekar tatkala kejadian ganjil menyergap mereka di suatu pulau. Ada orang-orang yang masih hidup, tapi sejatinya sudah mati. Ada petugas keamanan jagabaya yang membantu begal gerobak. Makelarnya petugas dinas perhubungan antardesa. Penadah gerobaknya anggota perwakilan rakyat. Mereka belum mati, tapi sejatinya sudah mati.

”Dan kalau itu mereka ulang-ulangi lagi, mereka sejatinya sudah mati berkali-kali sebelum kematian yang membuat mereka dikubur. Ingat-ingatlah itu, Tingting Bocah. Bila kamu sudah tidak merasa heran lagi atas kejadian aneh bin ajaib itu, kamu akan dapat menjawab pertanyaan si mayat tadi. Orang yang sudah mati, bagaimana hanya bisa terluka dan masih hidup?”

Tupai-tupai telah turun dari pohon-pohon kelapa tak berbuah. Kalong yang satu yakin, mereka ingin menyaksikan duel mayat-monyet yang segera berlangsung. Kekasih kalong itu punya keyakinan lain. Tupai-tupai turun tak hendak menyaksikan duel. Mereka hanya berada di puncak kelaparan dan mengendus ada banyak makanan di tangan monyet, di mulutnya, maupun di balik pipi kiri-kanannya yang menjadi tembem.

Kekasih kalong itu berargumen, ”Itulah alasan mereka berani mendekati monyet, mayat, dan dua manusia. Alasan demi menonton duel kurang kuat. Alasan ini masih akan membuat tupai-tupai ragu-ragu untuk mendekati makhluk lain yang lebih akbar. Mereka punya alasan mendasar yang lebih kuat, yang kerap dilupakan para pemimpin.”

”Apa itu?”

”Puncak kelaparan makhluk-makhluk kecil! Itulah yang melenyapkan rasa takut mereka pada para pembesar, yaitu makhluk-makhluk yang lebih besar dari mereka.”

*

Ah, kita tinggalkan sejenak pertarungan monyet-mayat di Pulau Durian Timun. Di perairan Pulau Kurawa, sisa Kurawa yang masih hidup, Dursilawati, melancarkan jurus-jurusnya kepada Pendekar Ibra, kekasih baru Tingting Jahe. Inilah berbagai bab dari Jurus Racun Asmara. Setiap Dursilawati mengawali bab jurusnya terhadap pendekar yang kelak mirip pebola Ibrahimovic itu bertambah kebencian Tingting Jahe pada mantannya, Pendekar Sastrajendra, namun berlipat kebenciannya pada Ibra. Kok bisa?

Bisa. Antara lain, setiap kali satu-satunya anggota Kurawa dari kelamin perempuan itu menamatkan bab dari suatu jurus, selalu bibir ranumnya menganga. Jaraknya, alamak, cuma serambut dibelah tujuh dengan bibir Pendekar Ibra yang juga menganga dengan napas memburu.

Oooooh, kejaaaaam…..!!! (*)


SUJIWO TEJO, Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra




Close Ads