alexametrics

Macan Itu Dulu Kritikus

Oleh: Sujiwo Tejo
20 Oktober 2019, 16:48:36 WIB

ADA macan mendekam di halte bus tepi hutan, di antara Kota Ndasmupura dan Matamupura. Calon-calon penumpang yang menunggu bus antarkota di situ biasanya suku pedalaman. Kakinya telanjang. Pakaiannya hitam-hitam. Mereka hendak menjual madu dan pernak-pernik kerajinan rimba di dua kota tersebut.

Dari dua kota besar tadi pula turis-turis turun di halte bus warna janur melengkung itu. Mereka dari dalam dan luar negeri, para pencari pedalaman.

Begitu pintu geser bus menguak, si macan langsung merangsek masuk, menerobos sela-sela penumpang yang sedang naik maupun turun. Menyembul dari bus, macan loreng tentara itu sudah membawa bungkusan. Isi bungkusan yang digigitnya adalah kotak-kotak makanan hadiah sopir.

Tak setiap bus dimasuki si loreng. Hanya bus-bus dengan sopir-sopir yang sudah jadi sohibnya. Si loreng ini… aduh siapa, ya, namanya… lupa… tak akan masuk bus walau sopir yang bukan sohibnya membawa daging blenderan.

Kenapa para penumpang tak ketakutan seperti pihak-pihak yang supertakut pelantikan presiden dan wakilnya batal? Warga pedalaman hutan okelah. Mereka bisa tetap woles. Lha wong bolo dewe.

Lha turis-turis asing maupun domestik yang kali pertama ketemu dengan macan, piye? Biasa saja. Mereka tidak takut. Kenapa? Karena si loreng cuma macan. Buat apa takut? Macan tidak bisa mengancam dengan peraturan ini-itu. Misal peraturan tentang larangan demo selama masa tertentu, larangan mengkritik seperti larangan bagi ASN untuk mengkritik penguasa.

Karena itukah para wisatawan tak takut si loreng? Bukan. Apa, dong?

Rapat terbatas di singgasana Raja Singa dan Ratu Singa Sastro-Jendro akan menjawabnya. Lebah yang mengatasnamakan hewan-hewan merasa malu. Jangan mentang-mentang KPK sudah mati maka si loreng bebas menerima gratifikasi dari sopir-sopir bus.

”Sudah saatnya Paduka Raja Singa dan Kanjeng Ratu turut menyeleksi pernikahan,” katanya. ”Ini demi lahirnya generasi yang lebih baik. Yang tidak menjadi pengemis gratifikasi. Di komunitas kami, saat musim kawin, lebah ratu terbang menjulang sekali. Hanya pejantan tangguh yang sanggup terbang tinggi yang dapat mencumbu dan mengawininya.”

”Lagi pula,” tambah masyarakat trenggiling dan musang. ”Si loreng akan menakuti manusia. Nanti kami para fauna dikira kaum Taliban.”

Raja singa mengaum.

Sabda raja, ”Soal seleksi pernikahan, akan kupikirkan. Soal si loreng kalian tuduh menakut-nakuti manusia sehingga kami para binatang punya image buruk, jangan cemas. Manusia tak takut si loreng. Walau macan, dia macan ompong. Bukan macan kertas, memang. Tapi macan ompong. Dialah mantan tukang kritikku sekarang. Halte di bawah pohon trembesi raksasa tua itu tak ada bangkunya. Banyak turis kalau kedua tangannya masih harus menyiapkan ini-itu, menaruh bayi sebentar di punggung si loreng.”

Ratu menyambung, ”Kabar tentang ompongnya mantan tukang kritik itu sudah menyebar melalui brosur-brosur pariwisata. Dunia bahkan tahu, harimau ini sudah tak punya cakar pula. Sudah dipotong oleh kepala staf menikur-pedikur istana manusia.”

”Jika memang ompong, bagaimana si loreng makan?” tanya seorang kelabang kepada ekor ratu.

Raja singa dan ratunya serentak menanggapinya, ”Bungkusan yang digamit dengan mulutnya itu isinya daging-daging blenderan. Program manusia makan bersih tak berhasil. Mereka masih susah bersyukur. Orang-orang Ndasmupura dan Matamupura kalau makan masih saja bersisa walau cuma satu serat daging. Serat demi serat dan kerat demi kerat daging yang dikais-kais dari dua kota, kalau diblender tinggal…Sluuurrrp….”


*) Sujiwo Tejo tinggal Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads