alexametrics

Pendekar Salju Langlang Jagad

Oleh SUJIWO TEJO
20 September 2020, 17:03:56 WIB

Pagi itu tak ada lagi perintang rakyat untuk mengecek apakah mata para pemimpinnya sudah sinkron dengan mulutnya saat berbusa-busa di depan mereka.

RAKYAT jadi merdeka dengan berakhirnya riwayat 1.000 pendekar yang bertingkah laksana buzzer masa depan bagi pemimpin yang mencukongi mereka.

Kok pengecekan sinkronisasi mulut-mata pemimpin itu belum mereka lakukan? Kemerdekaan mereka palsu? No! Pekan lalu kan sudah kubilang, pagi ini aku bersaksi rakyat masih sibuk mengubur 1.000 bangkai para pendekar buzzer yang tadi malam terpaksa mengakui keunggulan jurus baruku Berlian Your Eyes.

Hanya itu kejadian yang masih bisa kuingat dan kutulis di daun lontar, tebing-tebing kapur, dinding bambu milik gadis mirip perawan tingting bakul kedai, dan lain-lain. Selanjutnya… aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.

***

Aku terbangun pagi-pagi saat tragedi pagi itu sudah dua tahun kulampaui. Inilah pagi bumi sebelum ada Candi Borobudur, dan Gunung Merapi tampaknya juga belum eksis. Tubuhku menggigil, terbungkus berlapis-lapis balutan daun-daun dan kulit pohon.

Di pegunungan salju itu terdengar suara, ”Kisanak. Selamat. Kini engkau sudah siuman. Pagi itu, sekitar dua warsa yang lalu, di antara penguburan masal 1.000 jenazah aku melihatmu teronggok merah seperti daging sapi di pasar-pasar. Kupingmu sudah hancur. Tapi matamu penuh pendengaran. Dan hanya matamu yang masih utuh. Plotat-plotot. Mungkin engkau dapat menyaksikan penguburan masal itu, dan merasa unggul dari 1.000 pendekar, tapi tak dapat kausaksikan bahwa tubuhmu sendiri berantakan. Hatiku tergerak mengangkasakanmu di mari.”

Masih cuma kudengar suara tanpa rupa sampai kuamati butir-butir es dan busa salju terkibas-kibas oleh dua bentangan yang perlahan-lahan timbul dari gundukan kristal-kristal es dan busa salju. Baru akhirnya kulihat bahwa dua bentangan itu pasangan sayap yang terentang. Terlihat di bawahnya beberapa telur yang baru tetas, lendir setengah beku dan bayi-bayi burung yang mangap-mangap.

”Namaku Elang Langlang Jagad,” ujarnya. ”Kulihat dari dirgantara waktu itu, hampir saja kamu tewas oleh hunjaman trisula pendekar nomor 999. Untung. Karma buruk pendekar tersebut menolongmu.”

Aku masih meraba-raba makna tuturannya. O, karma buruk pendekar bercaping jerami itu maksud Langlang begini: Ia selalu membagi-bagikan perak, perunggu, maupun emas yang ditemukannya. Hari ini nemu perak atau perunggu atau emas, hari ini juga semua diratakannya bagi mereka kaum duafa. Mereka lalu menjadikan logam-logam berharga itu sebagai barteran kepada para tengkulak pangan.

”Karma buruknya sebelah mana?” aku tertegun.

Kusibak kabut di mukaku agar Langlang menatap jelas mataku, agar yakin bahwa aku betul-betul tertegun. Agar burung raksasa ini tahu bahwa ucap lidahku 11-12 dengan ucap mataku jauh berbeda dengan para pemimpin masa mendatang tatkala nggedebus ke publik.

Di antara suara cececiyet bayi-bayinya, Langlang terkekeh-kekeh, ”Jangan tidak peka, Cuuuuk… Semua yang tampak baik itu belum tentu baik. Kelihatannya saja pendekar nomor 999 itu menyedekahkan perak, perunggu, dan emas. Hatinya? Hatinya marah-marah! Sebab, yang ia damba-dambakan siang dan malam hanyalah berlian! Bukan emas! Berwindu-windu ia mengincar Berlian Your Eyes!!!”

O, aku ingat. Pantesan menjelang pendekar ke-1.000 kuhabisi dengan jurus Tusukan Orang Gila di Malam Ceramah itu kurasakan sesuatu di punggungku. Saat kucanangkan jurus gado-gado dari kebalikan Jurus Cimande, Jurus Bangau Putih, Jurus Setia Hati, dan lain-lain itu, punggungku seperti disuntik tiga tusuk gigi oleh pendekar ke-999 yang ternyata masih hidup. Duh, hunjaman senjata ampuh trisula, to, itu?

Aku berkemas ngacir dari pegunungan salju ketika Langlang Jagad mencegahku. ”Jangan, Kisanak. Kaupikir karmamu baik selama ini? Tebuslah dengan merawat dan menjaga piyek-piyekku ini. Aku harus menembus waktu, pergi ke masa depan, ke Negara Api.”

”Sampai kapan?”

Langlang Jagad marah. Ekornya ia kibaskan hingga butir-butir es dan busa salju bercipratan ke wajahku. ”Tak pantas engkau bertanya begitu padaku. Hidup itu pasrah saja!!!”

Hening cukup lama. Lama-lama, mata Langlang Jagad berkeriyepan. Pertanda rinai sudah amarahnya.

”Entahlah,” lirihnya ke sekitar. ”Ada seminar di sana. Kudengar Nella Kharisma juga akan datang. Topiknya, mengapa di masa depan itu titip absen bagi mahasiswa lebih susah daripada titip jabatan untuk komisaris dan direksi BUMN… Ah, yo wis, lah… Selimut alamimu ini kubuat dari kulit pohon dan daun-daun yang kulengkapi dengan empon-empon kesembuhan. Bukalah! Kini kau sudah sembuh total. Tebuslah karmamu! Hangatkan anak-anakku. Telanjanglah. Rentangkan tanganmu seperti tadi kurentangkan sayap dan terkubur salju.”

Hmmm… Karma?

”Biar pembacamu nanti yang akan tahu sendiri apa karma burukmu, Kisanak. Tapi, jangan mengeluh. Hiburan akan selalu ada bagi orang yang sabar dan tekun. Anak-anakku itu, sebagaimana anak siapa pun, walau dari telur sepetarangan bisa bineka. Yang paling membuatmu terhibur namakan saja Perawan Tingting Bakul Kedai,” teriak Langlang dari muka awan sebelum menembus lorong waktu. (*)

*Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads