alexametrics

Perempuan Paling Dikagumi

Oleh SUJIWO TEJO
18 Oktober 2020, 13:48:21 WIB

Julukannya Pendekar Perempuan Paling Dikagumi. Dikagumi sebelah mananya? Banyak.

 

PEREMPUAN bernapas wangi campuran pandan dan kembang kantil itu sanggup menangkis pedang dengan seruling. Setajam apa pun pedang itu. Serulingnya baja? Tidak. Batang pohon kangkung, Cuk!

Kadang penangkis bukan batang kangkungnya. Pedang lawan terpental hanya oleh nada-nadanya. Embusan napas wangi Pendekar Perempuan Paling Dikagumi ini melalui batang kangkung, yang nada-nadanya ditimbul-tenggelamkan oleh angin gunung itu, bisa menangkis pedang. Kalau nasib pedang lawan tak lagi mujur, bisa patah berkeping-keping, lalu bersuir-suir seperti abon daging cicak. Seperti nasib pedangku barusan.

Kini mudah kumengerti mengapa banyak pendekar yang enggan meladeni tantangannya bertarung.

Dalam dunia persilatan, seperti kerap kutulis pada daun-daun lontar, tanah gembur pemakaman dan lain-lain, mati terhormat bukanlah mati setelah punya lumbung uang hasil korupsi, lalu ke tanah makam diantarkan ribuan pelayat, karena sejatinya warga tak peduli asal usul lumbungmu. Yang penting lumbung itu membocori khalayak.

Di dunia persilatan, mati terhormat adalah mati di tangan pendekar berilmu lebih tinggi yang mereka tantang dalam pertarungan terhormat.

Pendekar Perempuan Paling Dikagumi ini menantangku saat belum selesai penat dan lelahku bertarung membela demonstran tapa pepe, demo damai dengan cuma diam, rebahan, berjemur matahari. Seorang perawan tingting bakul kedai yang turut dalam demo itu mencegahku.

”Duh, Pendekar Sastrajendra, bagaimana kalau mbakyu pendekar itu engkau ladeni pekan depan saja,” rajuknya sembari memborehi badanku dengan empon-empon dan lain-lain. Ia terus merajuk sembari mengobati seluruh luka tubuhku dengan bubuk cengkih, serbuk kopi, dan getah batang pisang yang dibebat daun beluntas.

***

Aku sudah mengembara ke berbagai belahan dunia. Adatnya para pendekar sedia kapan pun ditantang tarung. Bila tak ada tantangan, cekcok kecil lantaran berselisih paham sudah dianggap sebagai landasan bertarung. Keluarlah berbagai jurus sampai salah satunya meregang nyawa.

Selisih paham soal berapa sebenarnya jumlah halaman buku silat Pendekar Sastrajendra, salah seorang akhirnya menuding pihak yang berbeda sebagai sok jagoan. Pada kedai di bibir jurang itu tak ada yang mengenali bahwa aku, pendekar yang sedang mereka perbincangkan, sedang mojok sendirian, ngopi di situ bersama kerinduan pada kampung halaman.

”Kitab undang-undang silat Pendekar Sastrajendra itu 905 halaman!” Seseorang berteriak begitu sambil menenggak tuak dari ruas batang bambu.

”Goblok! 1.025 halaman!” pekik jagoan lain dengan rembesan ciu di bibir dan dagunya.

”Ah, bedebah kau! Kitab itu 1.035 halaman!” Jawara yang lain lagi berseru, lalu mengisap dalam-dalam kelobotnya.

”812 halaman, Coooong!” Seseorang yang bertampang bromocorah berkata kalem dan menunduk. ”Pendekar Sastrajendra itu berasal dari Perguruan Jancukiyah. Aku pun tahu pengasuhnya. Pendekar Cilikanku Rambutku Dicukur Kuncung. Panggilannya Ndoro Cilik. Nah, kitab Ndoro Cilik yang diwariskan kepada Pendekar Sastrajendra itu 812 halaman, Cooooong!”

Lalu, terjadilah pertarungan. Penganut mazhab 905 halaman menganggap ditantang oleh penganut mazhab 812 halaman. Demi keringkasan, namakanlah Pendekar 905 Halaman versus Pendekar 812 Halaman. Pendekar 812 Halaman unggul, lalu bertarung dengan Pendekar 1.035 Halaman yang barusan menang terhadap Pendekar 1.025 Halaman.

Podhojoyonyo

Mogobothongo

Pendekar 812 Halaman dan Pendekar 1.035 Halaman yang baru saja sama-sama unggul, podhojoyonyo, akhirnya sama-sama tewas, mogobothongo, pada malam Rebo Wekasan di kedai tepi jurang yang sudah berkeping-keping itu. Aku pun tak tahu barteran kopi yang sudah kuseruput ini harus kuserahkan siapa. Kakek bakul kedai turut hancur lebur tubuhnya. Kutaruh barteran itu, rangkaian mawar-melati, di atas sekerat benda yang masih berdenyar-denyar, yang kuduga serpihan jantung kakek nan baik hati itu.

***

Ya, ini zaman sebelum ada Candi Borobudur. Aku telah mengembara ke mana pergi. Adatnya para pendekar semongko alias semangat sampai bongko menerima tantangan tarung, tidak seenggan mereka terima tantangan tarung dari Pendekar Perempuan Paling Dikagumi ini. Perkara-perkara sepele saja malah sudah cukup mereka anggap sebagai tantangan dan bertarunglah mereka dengan semongko.

Di suatu pantai, di antara camar-camar, warga kampung nelayan guyub rukun menurunkan ikan, menghimpunnya, dan melipat rapi jaring-jaringnya. Sampai terjadilah perkelahian gegara cekcok soal begini:

”Siapa, ya, yang kali pertama menjuluki Pendekar Perempuan Paling Dikagumi. Norak sekali! Menurutku, perempuan lebih ingin dimengerti ketimbang dikagumi. ’Tul?”

”Ah, menurutku perempuan ingin dicintai!”

”Ya, sudah betul. Dikagumi dulu, dimengerti, baru dicintai, terus dinikahi…”

”Ah, bacot! Untuk menikahi perempuan, kita kaum lelaki ini gak perlu capek-capek mengagumi dulu perempuan itu. Mengerti dia saja sudah cukup! Mencintai? Hadeuuuh, cinta itu opo toooooo?”

”Kalau begitu, aku benar. Perempuan ingin dimengerti! Titik!”

Cekcok berlanjut pertarungan, sampai-sampai pelipisku terluka oleh lenggang kangkung Pendekar Perempuan Paling Dikagumi ini, gegara konsentrasiku terpendar oleh lintasan kenangan pada kedai tepi jurang, pada pantai camar-camar.

Siapakah perempuan ini? Endus wanginya lebih terperinci pekan depan. Heuheuheu… (*)


SUJIWO TEJO, tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads