alexametrics

Sepasang Rusa Dilanda Asmara

18 Agustus 2019, 18:01:23 WIB

MARI kita bahas hajatan kaum rusa. Kita cuekin dulu pembangkangan kelelawar vampir terhadap raja singa Sastro. Rusa-rusa juga butuh kita pedulikan. Mereka kini lagi sibuk menyisir mana rusa pribumi, mana rusa nonpribumi. Angin kemarau meniup kabar yang tak bisa dikacangin. Di rimba raya kini telah menyusup sepasang rusa nonpribumi cowok-cewek.

”Maksudnya rusa palsu?” sanggah milenial rusa yang cerdas. ”Usah ngomong soal pri dan nonpri. Bikin pusing!”

Menurut si cerdas, sejarah punya bukti bahwa sesungguhnya tak ada pribumi di muka bumi. Semua makhluk sejatinya pendatang. Cuma, ada yang datangnya duluan. Yang datang duluan pun banyak yang jebul cuma hasil kawin campur nenek moyang mereka dengan makhluk-makhluk di luar kawasan ia datang.

”Setuju, cuk!” ujar rusa lain. Rusa ini kurang cerdas. Bisanya cuma setuja-setuju saja. Pantas tereliminasi sebagai pasukan pengibar bendera rimba.

Walau kurang cerdas, ia ada benarnya. Ingat wewanti almarhum Mbah Moen yang disitir ratu singa Jendro: Banyak orang pinter, tapi ndak bener. Banyak orang bener, walau tak pinter.

Bagi rusa kurang pinter itu, banyak rusa pribumi yang malah kurang mencintai bendera rimba. Sebaliknya, tak sedikit nonpribumi yang hormatnya kepada bendera tandas ke tulang. Ini lebih pas disebut rusa asli. Rusa beginianlah yang dagingnya harus dicegah untuk didendeng.

Kembali ke sepasang rusa yang menyusup. Sejoli itu, kabarnya, malihan manusia. Tapi, keduanya bukan sepasang rusa dalam Mahabharata. Ingat, kan? Dalam epos itu ada sepasang rusa yang sedang kasmaran. Pandu, seorang raja, memanahnya. Pasangan rusa itu tewas.

Saat sekarat, mereka membatin. Kok tega-teganya raja membunuh makhluk yang sedang dilanda asmara. Mereka kutuk Pandu bakal menemui ajal bila kelak melangsungkan malam pertama dengan istrinya. Itulah kenapa Pandu tak pernah begituan. Pandawa sejatinya bukanlah anak Pandu, melainkan anak istri Pandu dari para lelaki lain.

Beda dengan kedua rusa yang sedang kita soroti. Mereka hanya memalsukan diri menjadi rusa agar bisa berpacaran secara merdeka. Dalam wujud manusia, makhluk hidup serba dikekang tata cara berpacarannya. Ciuman di depan umum tabu. Peluk-pelukan di ruang publik bisa menimbulkan prasangka yang tidak-tidak.

Tambahan pula, dalam wujud manusia, makhluk hidup sangat terjajah oleh kenangan. Mereka bisa saja merdeka dari perbudakan, merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang, tapi susah sekali merdeka dari kenangan. Ringkasnya, dalam wujud manusia, makhluk hidup susah move on.

Pagi itu semburat mentari menyelinap di antara dedauan, dahan-dahan, dan reranting rimba. Kebetulan, menyelinap pula kancil yang baru balik dari sarang kelelawar vampir. Ia usul, sweeping rusa palsu yang diduga malihan insan mayapada itu tak perlu repot-repot. Suruh saja rusa ayah-anak berakting mesra-mesraan. Di antara kerumunan rusa, rusa-rusa yang keberatan memandang inses dan melerainya, itulah rusa palsu.

Rusa yang agak goblok tadi memprotes dan ngasih info kancil sebagai menteri informasi. Infonya, makhluk yang paling anti hubungan seks antarkerabat dekat itu gajah. Bukan manusia. Makhluk pemuja Pandawa itu masih sering inses. Sedangkan kawanan gajah akan mendorong-dorong memisahkan bila menyaksikan bakal berlangsungnya hubungan kelamin antarkerabat dekat.

Usul si goblok, ”Kita potret kolosal saja, Pak Kancil. Yang begitu dipotret langsung bergaya bebas, itu rusa asli. Yang gaya bebasnya nunggu disuruh tukang foto dulu, itu rusa palsu. Hanya manusia yang untuk bebas atau merdeka saja harus disuruh-suruh.” (*)

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads