alexametrics

Lelaki Penyayang Anjing dan Kucing

Oleh: Sujiwo Tejo *)
17 November 2019, 15:48:06 WIB

KALAU jadi nikah, lelaki itu harus berbagi lahan dengan keluarga besar calon istrinya. Ia sih oke-oke saja dengan paroan tersebut. Bahkan bila pihak sono menuntut lebih daripada setengahnya. Apa sih artinya harta mas picis rojo brono? Tak ada!

Mati ndak bawa harta. Seluas sirkuitnya Rossi pun halaman rumahnya, mati cuma perlu lahan sekitar 2 x 1 meter persegi. Betul, kata keluarga besarnya. Cuma, orang mati meninggalkan warisan. Rumah yang halamannya seluas lahan balapan motor itu kalau dibikin kos-kosan buat mahasiswa/i, berapa coba duit per bulan anak cucu almarhum/mah.

Demi keutuhan keluarga besarnya sendiri, lelaki itu akhirnya membatalkan pernikahannya dan bergabung dengan Sobat Ambyar Indonesia pimpinan The Godfather of Broken Heart: Didi Kempot.

Selama beberapa pekan, lagu-lagu yang dinyanyikannya seputar Mundur Alon-Alon-nya Ilux ID atau Kartonyono Medot Janji-nya Denny Caknan.

Aku mundur alon-alon mergo sadar aku sopo…

(Aku mundur pelan-pelan karena tahu diri apalah aku ini…)

atau

…rasah nyawang spionmu sing marai ati tambah mbebani…

(jangan melihat kaca spion yang malah membuatmu baper terhadap masa lalumu yang kelam…)

Walau sudah berprasetya mundur pelan-pelan dan melupakan masa lalu, lelaki itu memutuskan untuk hidup lajang. Kecintaannya pada calon istri yang nggak kunjung dinikah-nikahinya itu ia tuangkan menjadi kecintaannya kepada anjing dan kucing yang masing-masing ia kasih salam secara beda-beda walau kadang cukup satu salam saja.

Cerita terus bergulir dan mengantar lelaki penyayang anjing dan kucing itu ke pengadilan. Gosip di grup WA macam-macam. Salah satu versi menyebut lelaki itu dituntut balik oleh fans lagu Kartonyono Medot Janji gegara laporannya yang dianggap neko-neko.

Lelaki itu melapor polisi. Menurut udelnya, lagu yang berisi imbauan untuk tidak melihat kaca spion tersebut bertentangan dengan kaidah berlalu lintas. Hah? Pihak Sobat Ambyar Indonesia kabarnya mendukung tuntutan balik itu. Alasan mereka, lagu kan cuma imajinasi. Sedangkan jalan raya itu fakta. Santuyyy!

Ah, sudahlah.

Mungkin ini versi yang lebih benar: Pihak keluarga besar calon mempelai putri sudah menyiapkan dana besar-besaran untuk resepsi pernikahan. Bahkan, undangan sudah disebar pula. Tiba-tiba lelaki itu membatalkan. Mereka menuntut biaya ganti malu.

Tiba di gedung pengadilan untuk sidang vonis, anjing dan kucing yang seolah tahu bahwa mereka lebih sopan kalau tidak ikut masuk langsung berteduh di bawah pohon trembesi. Di bawah payung teduh alami itu mereka menunggu lelaki tersebut.

Persidangan belum dimulai dan lelaki itu duduk di kursi terdakwa. ”Masih ada aparat hukum lain lagi yang akan datang lagi atau yang sudah ada ini sudah komplet?” batinnya. Masih agak sedih oleh pikiran tentang kaca spion, lalu ia tertidur. Tak lama kemudian ia terbangun oleh suara palu hakim membacakan vonis ganti rugi.

Para wartawan kemudian mengajukan pertanyaan kepada lelaki itu, apakah Dewi Keadilan marah karena ia tertidur saat hakim membacakan alasan dan latar belakang vonis.

Sekeluar dari ruang pengadilan, bujangan itu melihat anjingnya yang besar tidur di atas punggung kucingnya yang kecil. Para wartawan mengejarnya lagi. Mereka bertanya, mengapa kucing yang sekecil itu punggungnya cukup kuat untuk menyangga anjing besarnya.

”Karena, sebenarnya, ia ini dulunya singa, Raja Singa Sastro. Badannya besar sekali. Gagah. Gondrong pula. Permaisurinya bernama Jendro,” jawab lelaki itu.

”Hah? Dulu singa? Besar? Kok sekarang cuma jadi kucing? Mana bisa, Cuk?”

”Bisa. Karena beliau menikah.”


*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers.

Editor : Dhimas Ginanjar


Close Ads